Vanessa, gadis dengan rambut tergerai itu menyetir mobil dengan ugal-ugalan, ia tak menyangka mobil pemberian Launez begitu sulit dikendalikan, untung saja keadaan jalan tidak terlalu ramai, lagi pula ia harus pergi kemana? Ia bahkan tidak membawa ponsel, apa ia harus melapor kekantor polisi? Bagaimana caranya berbicara? Bahasa Inggrisnya saja belepotan apalagi bahasa Spanyol.
Cittt!!!
Vanessa mengerem mendadak saat mobilnya hampir saja melewati lampu merah dan kebetulan ditepi jalan ada beberapa orang polisi yang berdiri. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung turun dari mobil dengan keadaan mesin mobil yang masih menyala.
Gadis itu berlari kearah para polisi dan tanpa diduga...
Dwar!!!
Dwar!!!
Dua ledakan besar berhasil mengalihkan pandangan para polisi yang tengah patroli tersebut. Vanessa tersungkur diaspal setelah terpental cukup kuat. Beruntungnya jalanan sepi sehingga tidak membahayakan pengendara lain.
"Mami..." rintih Vanessa sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.
Paginya Vanessa merasakan hal aneh pada tubuhnya, kepalanya terasa pusing dengan pandangan yang masih tidak jelas. Dimana ia sekarang? Seluruh ruangan bernuansa putih.
"Akhirnya kau sadar, untung saja kau cepat meninggalkan mobil sehingga hal buruk tidak terjadi padamu, minum air ini."
Seorang wanita berpakaian perawat rumah sakit mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak ia mengerti. Vanessa pun mengikut saja dan meminum air putih dibantu oleh suster tersebut.
"Kami membutuhkan data dirimu. Nama dan alamat saja cukup," ucap suster itu lagi hingga Vanessa semakin bingung.
"Em... I'am from Indonesia, can you speak English?" tanya Vanessa ragu. Suster tersebut tersenyum lalu mengangguk.
"What's your name? Address? And how can you drive a car that has explosives installed?" tanya suster itu sambil mengecek infus Vanessa.
"Aduh lawak banget gue gak ngarti!" gusar Vanessa lalu memilih diam. Suster tersebut juga kebigungan apa yang Vanessa ucapkan.
"Your name is aduh lawak?" tanya suster tersebut.
Krik... Krik... Krik...
"My name, Vanessa! Bukan aduh lawak... Aish! Tau ah capek, mau tidur aja!" Vanessa menutup matanya dan suster tersebut mengangguk saja.
Tiba-tiba pintu terbuka, disana berdiri seorang pria berambut putih.
"Daddy!" panggil Vanessa girang. Launez menyerngit, Vanessa memanggilnya dengan sebutan ayah?
Launez masuk keruangan tersebut lalu berbicara dengan suster yang menanyai Vanessa tadi, beberapa menit kemudian suster tersebut pergi meninggalkan Vanessa dan Launez.
"Eh om! Om sengaja mau nyelakain Nessa!? Untung aja Nessa sempet keluar dari mobil! Kalo enggak udah tinggal tulang nih kulit!" omel Vanessa melipat tangannya didada.
Launez menarik kursi lalu duduk didekat brankar gadis itu.
"Nessa, negara ini gak aman buat kamu, kamu nggak tau masalah yang lagi meradang disini, kamu juga hak fasih berbahasa Spanis, bakalan susah buat kamu beradaptasi, setelah sembuh kamu langsung pulang ke Indonesia," tutur Launez pelan.
"Enggak! Nessa nggak akan pulang sendiri! Nessa bakal pulang sama mami!" tukas Vanessa percaya diri. Launez tersenyum tipis lalu mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Kamu nggak ada sangkut pautnya sama kami semua, kamu berhak aman, kamu berhak bebas, jadi jangan jerumusih diri kamu sendiri kemasalah ini."
Vanessa terdiam. "Apa masalahnya? Nessa bener-bener gak ngerti," ucap gadis itu pelan. "Jelasin semuanya ke Nessa, Nessa anak mami dan kalo mami dalam bahaya, Nesa gak bakal tinggal diam." Vanessa mencoba bangkit dari kasur lalu menyenderkan punggungnya ditembok.
"Ceritanya panjang..." ucap Launez kembali menampilkan senyum tipisnya. "Yang terpenting sekarang adalah keselamatan kamu." Tutur Launez.
"Jadi maksud om! Keselamatan mami gak penting? Gitu!?" tanya Vanessa kesal.
Launez benar-benar kehabisan kata menjelaskan pada Vanessa bahwa jika ia terjerumus kedunia seorang Revan maka akan susah untuk bebas dan bahkan tidak mungkin.
"Nessa!"
Tatapan Vanessa dan Launez tertuju pada pintu yang baru saja dibuka oleh seseorang. Disana berdiri Vika bersama suaminya, Rama. Rama memilih pergi setelah mengusap pelan bahu Vika. Wanita itu masuk keruangan kemudian menutup pintu.
"Kuat Vika..." supportnya pada diri sendiri.
"Kata dokter kamu sudah bisa pulang nanti siang, mami udah siapin tiket buat kamu sama papi, kamu pulang, jaga adek-adek kamu, kamu harus lanjutin sekolah kamu." Vika mendekat berdiri disamping Launez yang juga mencoba menguatkan hatinya.
"Mi? Om?" tanya Vanessa saat merasakan hawa dingin diantara mereka berdua.
"Saya pergi dulu." Pamit Launez lalu bangkit namun Vanessa menahan lengannya.
"Kalo Nessa sama papi pulang, mami juga harus pulang!" ucap Vanessa dingin. Launez menggeleng pelan lalu menatap Vika sekilas sebelum melepas cekalan Vanessa.
"Artha!" panggil Vika saat pria itu benar-benar ingin pergi.
Vanessa terdiam menonton drama dihadapannya.
"Artha!" panggil Vika lagi saat Launez melanjutkan langkahnya dan benar-benar pergi meninggalkan ruangan Vanessa.
"Kejar mi," titah Vanessa pelan dan benar saja Vika langsung berlari mengejar pria berambut seputih salju itu sementara Vanessa kembali terdiam menatap keluar jendela.
"Sebenernya ada apa sih..." gumam Vanessa diselimuti rasa bingung.
"Artha? Mami manggil om itu Artha, setahu gue namanya Launez..." gumam Vanessa lagi.
"Artha Launez, cinta pertama mami waktu masih kuliah di sini," jawab seorang pria yang mendekat kearah Vanessa.
"Pi?" panggil Vanessa pelan.
Rama tersenyum lalu memeluk anak sulungnya itu.
"Papi selalu siap kalo nanti mami ninggalin papi buat balik ke cinta pertamanya, setiap ulang tahun pernikahan papi selalu liat tatapan mami yang masih cinta sama sosok Artha, bener kata orang, cinta pertama susah dilupain." Rama berucap santai masih memeluk Vanessa.
"Harusnya papi perjuangin mami dong! Buat mami lupa sama cinta pertamanya," tutur Vanessa serak.
"Cinta nggak bisa dipaksain sayang, bisa ketemu sama sosok kayak mami, papi udah bahagia banget, punya anak gadis yang cantik, punya dede kembar, puncak kebahagiaan papi udah tercapai semua." Rama melepas pelukannya perlahan.
"Papi nggak cinta sama mami?" tanya Vanessa dengan mata berair.
"Mencintai mami itu gampang, ngebuat mami juga cinta sama papi, itu yang sulit."
Vanessa tak dapat menahan air matanya, ia kembali memeluk sosok ayah yang sangat disayanginya itu. Sosok ayah yang selalu menuruti kemauannya, sosok ayah yang tidak pernah menyakitinya, sosok ayah yang sangat menjaganya.
Tbc... Hua... Ada yang mewek? Entah kenapa aku pribadi lebih mewek sama kisah cinta Artha Vika daripada Revan sama Alea😭 Vote + Komen jangan lupa guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Te Amo 2 ( Alevan Dykara )
ActionSebelum membaca, alangkah baiknya jika kalian membaca lebih dulu Te Amo (Revandy Qayro) agar alur dapat dipahami. Alevan Dykara, bagaimana kisah pemuda tampan 17 tahun itu untuk menemukan jati diri yang sebenarnya. Siapa Revan? Mengapa semua orang m...
