[21]

30.9K 1.8K 85
                                    

"Jadi, selama seminggu menginap lah di rumah Saka!" ucap Pak Andi tegas, nada nya mengatakan ucapan itu tidak boleh di bantah.

Naya tidak dapat berkata-kata setelah mendengar itu dari mulut guru nya. Logis saja jika hanya belajar lalu apa ini, menginap? Bahkan tidak pernah terpikir oleh Naya untuk tinggal bersama sosok seperti Saka.

"Gak bisa gitu dong Pak!" protes Naya, lalu melirik Saka apakah pria di samping nya ini tidak dapat berbicara mengapa dia terus saja diam membisu.

Naya sudah jengkel sekarang lihat lah seluruh kelas menatap nya sinis. Naya hendak pergi tapi tangan nya di tahan oleh Saka.

"LEPAS!" bentak Naya

"Ini masih pelajaran, Nay," balas Saka, bagaimana bisa Naya mau langsung keluar kelas begitu saja.

"Menurut lo, gue keliatan peduli?" tanya Naya. Ya, memang dia sungguh sudah tidak peduli lagi dengan tatapan aneh dari teman-teman nya itu.

"Duduk," perintah Saka, jangan harap Naya akan menurut dengan satu ucapan pria ini.

Naya langsung keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia sungguh muak dengan keadaan yang sedang terjadi, mengapa hari ini terasa sangat lama bagi nya.

Brukk

"Aww"

"Eh Naya," ucap Gibran yang tak sengaja menabrak seorang gadis, yang rupanya adalah gadis yang sama waktu di kantin.

Gibran membantu Naya berdiri, Gibran menatap mata Naya ada apa dengan gadis yang berada di hadapan nya ini, bukan kah waktu di kantin tadi Naya terlihat kuat? Lalu, mengapa mata Naya berkaca-kaca? Seperti menahan sesuatu yang terasa sangat berat.

"Nay," panggil Gibran, mengapa mata Naya terlihat kosong tidak seperti sebelumnya.

Naya menahan rasa sesak, "gue butuh tempat" ucap Naya, Gibran langsung mengerti dan segera membawa Naya ketemat yang di inginkan nya sekarang, sepi.

Naya dan Gibran sekarang sudah berada di ruang osis.

"Nay," panggil Gibran saat di lihat Naya tidak membuka suara.

Tangis Naya pecah, Gibran merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya.

Saat di rasa tangis Naya sudah reda, Gibran membuka suara "Nay, sebenernya lo kenapa?" tanya Gibran menatap lembut manik mata Naya.

Naya menatap mata Gibran, ada apa dengan dirinya mengapa dia menangis di pelukan orang yang baru ia kenal.

"Gue gak papa" jawab Naya lalu berdiri.

Gibran memegang lengan Naya, Naya merasa sangat tidak nyaman dia sungguh tidak ingin berhubungan dengan pria ini. Rasanya dunia orang-orang ini semua berhubungan dengan Saka, seperti tali kusut.

Naya keluar ruangan, tapi betapa terkejut nya melihat Saka menatap Naya datar.

Tanpa aba-aba Saka menarik lengan Naya kasar.

"Stop!" bentak Naya kesal apakah pria ini tidak tau kondisi yang sedang terjadi sekarang?

"Lo tadi kenapa di sana?" tanya Saka, Naya terkejut dari sekian harapan yang di inginkan Naya mengapa Saka malah berkata demikian. Naya mendengus kesal, bukan itu yang di inginkan Naya.

Naya menatap nyalang Saka, "Apa peduli lo?!" timpal Naya.

Rahang Saka sudah terlihat mengeras, dia sampai rela ikut keluar kelas menyusul Naya, mencari nya keseluruh penjuru sekolah. Tapi apa ini? Apa peduli Saka? Dia terus berlari cemas berharap Naya akan baik-baik saja. Tapi apa yang di lihat nya di ruang osis? Menangis? Tidak masalah bagi Saka jika Naya hanya menangis tapi, mengapa Gibran harus memeluknya seperti itu, tiba-tiba semua kejadian berapa tahun lalu seperti berputar kembali.

"Iya gue emang gak peduli sama lo, Nay!" jawab Saka, dia juga kesal. jika, Saka tidak peduli lalu mengapa dia mencari Naya seperti ini.

Naya seperti menahan sesuatu yang tidak bisa Ia keluarkan, "Kalo lo mau tau, gue udah muak dengan ini semua," jelas Naya, mengapa begitu susah nya melepaskan ikatan ini, ikatan perjodohan yang bahkan mereka saja belum menikah, tapi terasa begitu rumit.

"Nay, lo bilang mau jadiin gue versi lo, iya kan? Terus kapan? Lo bilang besok mau mulai? Mau gimana Nay, asal lo tau juga gue juga udah muak sama ini semua lebih dari lo! Nay seandaianya lo nerima perjodohan ini keadaan sekarang mungkin gak bakal serumit ini. Pernah gak sih terbesit pikiran untuk lo nerima ini tanpa perlawanan? Lo pikir gue suka-suka aja nikah gitu, Nay kapan lagi kita bisa ngebahagia in orang tua kita?" jelas Saka.

Naya terenyuh benar kata Saka, jika saja Naya langsung menerima perjodohan ini mungkin sekarang keadaan nya tidak serumit ini, "Kenapa lo bohong sama gue?" tanya Naya, saka menaikan sebelah alis nya bertanya, berbohong?

Saka menatap Naya lembut, "Nay,"

"Lo gak pernah bilang apa-apa sama gue Sak!" timpal Naya, pertahanan ini serasa di hancurkan begitu saja oleh Saka.

"Karna lo gak pernah nanya," imbuh Saka, dia tau arah pembahasan Naya kearah mana, ya genius. Naya tidak pernah bertanya, bener bukan? Naya selalu saja berspekulasi sesuka hati nya.

"Lo perlakuin gue kaya orang bodoh tau gak!" bentak Naya. Membuat Saka bertanya kapan dia memperlakukan Naya seperti itu?

"Nay,"

"Apa ada yang belum gue tau lagi dari lo?!" tanya Naya, Saka langsung terdiam ya tentu ada.

Soal kepribadian gue dan masa lalu.

Saka terus diam, sebenernya Saka ingin saja cerita segala nya pada Naya, tapi bukan sekarang.

Naya jengah karna tidak mendapatkan jawaban dari Saka, sudah cukup ini semua dia sungguh akan menyerah jika terus berhadapan dengan jenis makhluk sejenis Saka. Jika mencaci tidak dosa dia sungguh sudah mengeluarkan serapah makian untuk Saka.

"Nay," ucap Saka, membuat Naya tersenyum sinis. Kira-kira sekarang apa yang akan di ucapkan oleh Saka lagi. Apa pun itu sungguh Naya tidak akan peduli lagi.

"Lo gak bisa gini terus Nay, lo beneran gak bakal naik kelas kalo terus gini," lanjut Saka menjelaskan keadaan sebenernya pada Naya, jika kalian pikir Naya peduli? Kalian salah dia sungguh tidak peduli lagi dengan ini.

"Menurut lo? Gue peduli? ENGGAK!" teriak Naya,membuat Saka meringis mengapa wanita ini tidak peduli dengan nilai nya?

"Terus, menurut lo? Gue peduli gitu Nay?" tanya Saka ambigu, ada apa ini? Naya tidak dapat langsung mencerna ucapan Saka begitu saja.

"Sak, lo bisa jelasan dikit gak kalo ngomong!" tegas Naya.

"Lo sama gue bakal jadi pasangan untuk olimpiade setelah uas!"














Maap beribu maap, jadi lemot update, aku up sesuai mood karena komentar.

TERPAKSA MENIKAH (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang