[39]

24.8K 1.2K 340
                                        

"Ketika Duniaku adalah kamu"
 
~SAKA ARMADA~
 
.
.
.
.
.
.
.
 
"Ih kok di ruang tamu?" gerutu Naya, gadis itu memajukan bibir nya, membuat kesan yang imut khusus untuk gadis bernama, Nafanda Yakila.
 
"Gue takut di mangsa, kalo di Kamar," jawab Saka, yang langsung menarik lengan Naya.
 
"Duduk," pinta Saka.
 
"Udah, mau belajar apa?" tanya Naya.
 
Saka tersenyum, "Mau nya apa?" tanya Saka. Saka tau jika Naya tidak suka dengan yang namanya belajar ataupun diajari. Terkadang, kemauan belajar itu harus datang dari diri sendiri.
 
Naya menimbang-nimbang, "Hmm, seterah deh, sejarah aja gue suka sama masa lalu," jawab Naya.
 
"Sama siapa?" tanya Saka, Hmm ada yang cemburu nih....
 
"Pengen tau banget atau pengen tau aja?" tanya Naya.
 
"Gemes deh pengen nyubit," jawab Saka.
 
"Cubit aja," balas Naya.
 
"Enggak ah," ujar Saka, ahh jika dia main cubit-cubitan nanti Naya malah minta tambah lagi.
 
"Kenapa?" tanya Naya, yang sudah memicingkan matanya.
 
"Karna nanti jadi pengen nyubit terus, sayangku," jawab Saka seraya mencubit gemas pelan pipi Naya.
 
"Pengen lagi," pinta Naya dengan mata berbinar.
 
Saka sudah siap-siap ingin mencubit pipi gadis itu, "Loh katanya pengen lagi?" tanya Saka, kenapa Naya menahan tangan nya?
 
"Bukan itu" jawab Naya.
 
"Terus?" tanya Saka.
 
"Pengen di panggil sayang lagi," pinta Naya dengan pipi nya yang bersemu merah.
 
Saka tersenyum, "Sayang, hmm Sayangku," ujar Saka, yang di panggil pun hanya terkekeh saja.
 
"Kok malah ketawa?" tanya Saka, yang sudah cemberut.
 
"Enggak, lucu aja. Udah ah belajar, biar kalah," ujar Naya.
 
"Kok biar kalah?" tanya Saka, apakah ini memang niat gadis itu?
 
"Biar Naya, di lamar Saka," jawab Naya dengan tanpa rasaa bersalahnya.
 
Saka hanya tersenyum, tanpa ada niatan untuk menjawab.
 
"Nay berdiri," pinta Saka, badan tinggi itu sudah berdiri tegak di hadapan Naya yang masih fokus membaca catatan yang di berikan oleh Saka, katanya sih rangkuman yang paling mujarab.
 
"Mau ngapain?" tanya Naya, jika sudah duduk, gadis cantik itu akan sangat malas untuk berdiri lagi.
 
"Berdiri aja dulu," pinta Saka.
 
"Enggak mau!" jawab Naya dengan tegas nya.
 
"Nay....," ucap Naya seperti ada sesuatu yang terbesat disana.
 
"Ngomong gini dulu, Berdiri atau gue cium!" pinta Naya dengan wajah berbinar, gadis satu ini selalu saja mencopy ucapan-ucapan cogan di aplikasi berwana oren tersebut.
 
"Enggak, kalo gue nurutin lo artinya gue bego Nay, bukannya milih berdiri lo mah mending di cium" jawab Saka, Naya yang mengerti apa ucapan dari Saka barusan pun terkekeh.
 
"Yaudah, gue gak mau berdiri kalo gak di cium!" ucap Naya, satu kata itu terasa begitu berat untuk Saka cerna.
 
"Berdiri Naya....," pinta Saka yang sudah menarik lengan Naya, ini adalah satu cara, yaitu menarik paksa gadis ini.
 
Naya pun berdiri sesuai dengan perintah Saka, "Aw....," jerit Naya yang langsung terduduk lemas, seraya memijit pelan kepala nya yang berdenyut hebat.
 
"Kenapa? Sakit? Mau ke Rumah Sakit?" tanya Saka, Naya masih fokus menormalkan pandangan nya yang menghilang, suara-suara di sekitar nya pun, tidak terdengar jelas.
 
Saka yang sudah merasa sifat Naya aneh pun, menguncang tubuh Naya, "Nay ke Rumah Sakit aja ya," ajak Saka, tapi gadis itu sama sekali tidak bergeming.
 
Saka sudah ikut jongkok di samping Naya, "Sakit ya? Pusing karena belajar?" tanya Saka, sedikit tapi pasti Naya menoleh kearah sumber suara itu, dimana mata Saka yang langsung bertemu dengannya, teduh.
 
Naya tersenyum, "Enggak papa kok, gak usah lebay," jawab Naya lalu kembali berdiri lagi.
 
"Pulang ya," pinta Saka. Gadis itu tetap saja seperti kehilangan kosentrasi, apakah dampak belajar untuk Naya sebesar itu?
 
"Masih mau disini," jawab Naya geleng-geleng seperti anak kecil.
 
"Nanti malem bisa kan? Kalo sakit gak usah ikut aja" ujar Saka cemas, mungkin menurutnya Naya hanya kekurangan darah saja.
 
"Enggak kok, Naya sehat dan akan selalu sehat," jawab Naya tersenyum kuda.
 
"Yaudah tapi sekarang pulang dan istirahat aja dulu," balas Saka juga dengan senyuman. Naya terlihat tidak baik-baik saja. Tapi, di lain sisi gadis itu menunjukan bahwa dia baik-baik saja. Bagi Saka itu bukan masalah yang besar.
 
"Gendong," pinta Naya, Saka tidak percaya dengan ucapan yang barusan saja keluar dari mulut manis itu.
 
"Enggak mau, bisa jalan sendiri!" jawab Saka.
 
Naya cemberut ria, "Coba agak turunin sedikit badannya dong," pinta Naya, Saka menuruti menyamakan posisi wajah nya tepat di depan wajah Naya.
 
"Saka, nanti pas malem pertama harus di gendong loh ya. Ala bridal style," bisik Naya di telinga Saka, yang mendengar nya pun hanya terkekeh ria.
 
Saka jongkok di hadapan Naya berdiri, "Ayok naik," ujar Saka, jangan tanya bagaimana bahagia nya Naya sekarang tentu dia sangat bahagia.
 
"Bunda... Naya pamit," teriak Naya, Nara yang mendengar teriakan mengelegar itu pun hanya membalas dengan senyuman manis.
 
"Nay leher gue jangan di tiup-tiup," pinta Saka, gadis dalam gendongannya itu, merengkuh kan badan rapat.
 
"Kenapa?" tanya Naya, tapi tidak ada jawaban dari Saka.
 
"Jangan di hisep Nay, lo mah ya nyari kesempatan terus," pinta Saka lagi, jika tadi ada rasa anget-anget. Sekarang basah-basah.
 
Naya hanya terkekeh, "Suka bau nya," puji Naya menghirup dalam-dalam aroma badan Saka.
 
"Dah sampe, turun," pinta Saka, sudah sampai di depan mobil nya.
 
Naya bersenandung ria di dalam mobil Saka, yang melaju dengan kecepatan sedang.
 
Lagu yang sangat ia sukai itu pun, menjadi teman nya di masa yang sepi ini. Tapi, tidak membutuhkan waktu lama mobil Saka tiba di kediaman Naya.
 
Naya pun langsung turun dari mobil di susul oleh Saka, "Nay," panggil Saka.
 
Saka mengambil dompet dari saku di celana nya, "Nih kartu kredit," ujar Saka, seraya menyerahkan sebuah kartu kredit pada Naya.
 
Naya terlihat berpikir, "Untuk?" tanya Naya.
 
"Pergi ke salon, terus dandan yang cantik ya sayang," jawab Saka, bayangkan posisi kalian berada di Naya? Ah Naya sangat bahagia. Semua rasa sakit tadi pun tergantikan dengan tawa bahagia.
 
"Buat beli novel juga boleh?" tanya Naya, dia sebenarnya punya uang jika hanya untuk beli satu atau dua novel favorit nya saja, tapi tentu akan lebih menyenangkan jika menggunakan uang pacar.
 
"Beli satu Gramedia sekalian," jawab Saka, yang selama ini tidak kita ketahui bahwa Saka juga punya jiwa royal.
 
"Gak kok, paling beli satu atau sepuluh buku," jawab Naya dengan polosnya.
 
Saka tersenyum, "Iya, inget tapi ya besok balikin. Boleh nanti itu jadi punya Naya. Tapi, nunggu kita tinggal berdua," ujar Saka.
 
"Saka, turunin sedikit dong badannya" pinta Naya.
 
Seperti tadi, semua perintah Naya bagaikan sihir bagi Saka. Saka pun langsung mensejajarkan wajah nya dengan wajah Naya.
 
Cup.
 
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir manis Saka. Bibir yang selalu buat nagih gadis itu, "Terimakasih, calon suami," ujar Naya, tentu tidak lupa dengan senyuman termanis untuk Saka seorang.
 
Saka menepuk pelan puncak kepala Naya, "Nanti malem aku jemput," ujar Saka lalu tersenyum manis.
 
Naya baper? Tentu siapa yang tidak akan baper jika di perlakukan seperti itu.
 
Sesuai dengan perintah Saka, Naya sungguh pergi ke salon dan beli Gramedia, ahh tidak hanya 3 novel saja.
 
Saka pun sudah menjemput bidadari nya ini, "Lo cantik banget, Nay," puji Saka, bisa aja deh Saka!
 
"Mau di puji ganteng juga?" tanya Naya.
 
Saka yang mengemudikan mobil nya ini tersenyum manis, "Boleh," jawab Saka.
 
"Enggak ah, kan Saka selalu ganteng," puji Naya, sedangkan Saka yang ada disana tersenyum manis.
 
"Bisa aja, calon istri," ucap Saka lalu terkekeh.
 
Tidak butuh waktu lama, mobil itu sudah sampai di kediaman. Liana terhormat gadis yang sedang merayakan ulang tahun nya ini.
 
"Selamat ulang tahun, Li," ucap Saka seraya menjabat tangan Liana, seseorang yang dulu juga pernah bertempat di hati seorang Saka Armada.
 
"Selamat Ulang tahun....," ucap Naya, tidak seperti Saka, Naya hanya mengucapkan nya acuh.
 
"Saka. Panas,"
 
 
 
 
 
 
 
 
 

TERPAKSA MENIKAH (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang