[47]

20.7K 1.1K 81
                                        

"Semua kebahagian ini, terasa begitu sebentar,"
 
~NAFANDA YAKILA~
..
..
..
..
..
..
..........
 
Kedua orang ini sedang berpelukan erat dalam pelukan hangat, berharap semuanya akan baik-baik saja selamanya.
 
Ya, Saka dan Naya sudah menghabiskan malam indah nan panjang, dan tentunya setelah menunggu 1 minggu lamanya. Dengan sedikit pemaksaan dan godaan, akhirnya Saka menepati janji nya hari ini.
 
“Bangun,” Saka membelai lembut rambut Naya. Gadis itu bergerak gelisah karena merasa tidur nya tergangu.
 
“Hmm?” Naya mulai membuka perlahan matanya.
 
“Bangun, terus mandi,” ucap Saka yang di jawab oleh senyuman Naya.
 
Pipi gadis itu merona, entah apa yang di pikirkannya.
 
“Kenapa kok pipi nya merah?” tanya Saka seraya menyentuh lembut pipi tersebut, Saka tau dengan jelas apa yang sedang di pikirkan Naya, dasar mesum!
 
“Jadi inget tadi malem,” jawab Naya, pelukannya terasa mengerat.
 
“Hustt, cepet mandi,” perintah Saka, badannya terasa lengket di tambah beruang besar menempel erat pada badan Saka.
 
“Gak mau!” tolak Naya.
 
Saka menghela nafas lalu menyentuh lembut kepala Naya, “Mau di mandiin?” tanya Saka.
 
Naya menggelengkan kepalanya kuat, “Gak, malu!” tolak Naya.
 
“Semalem aja gak malu,” goda Saka. Ahh, Naya sungguh malu sekarang.
 
“Pergi dulu,” usir Naya.
 
Saka tersenyum “Iya iya, cepetan gue tutup mata aja,” ucap Saka.
 
“Awas loh ya….,” ucap Naya.
 
Dengan kecepatan kilat Naya sudah masuk ke dalam kamar mandi.
 
Suara bel menggema di seluruh ruangan, “Siapa ya, pagi-pagi namu” gumam Saka, yang sudah beranjak dari kasurnya.
 
“Liana?” gumam Saka saa setelah membuka kan pintu.
 
Wajah berantakan, badan yang tidak terurus itulah keadaan Liana sekarang.
 
“Saka….,” Liana berlari dan langsung memeluk erat Saka.
 
Saka menghela nafas nya, “Kenapa?” tanya Saka, bagaimana pun Liana pernah menjadi bagian dari hidup Saka.
 
“Gue hamil,” jawab Liana, tidak terasa air mata menetes dengan derasnya.
 
Saka tau ini salah, jika Naya melihat ini. Mungkin akan ada huru-hara, contohnya adegan jambak-jambakan.
 
“Hamil? Anak siapa? Kenapa lo malah kesini?” tanya Saka, jika Liana bilang itu anak Saka, tentu dia tidak akan percaya dengan hal itu. Dia tidak pernah menyentuh Liana sama sekali.
 
"Saka bantuin gue,” ucap Liana yang sudah terduduk lemas. Saka tau betul bagaimana Liana hidup selama ini, sendirian tanpa siapapun. Tidak ada yang peduli dengan Liana, mungkin hanya harta dan harta.
 
“DASAR JALANG!” hina Naya, sejak kapan Naya berada di tangga bahkan masih menggunakan jubah mandi.
 
“Nay....,” gumam Saka, jika di hadapkan dengan dua wanita seperti Saka mungkin hanya akan angkat tangan saja.
 
“PERGI DULU NAY!” bentak Saka. Naya menatap Saka tidak percaya, apakah barusan Saka membentak dan mengusir nya.
 
“Lo barusan bentak gue?!” tanya Naya dengan tatapan nyalang.
 
“Gue gak bermaksud, ada yang harus gue bicaraain sama Liana,” timpal Saka seraya menyentuh lembut tangan Naya, tapi di hempas begitu saja.
 
“Kenapa? Dia hamil anak lo?!” tanya Naya, hati nya sudah terasa membara.
 
“Jika iya, lo mau ninggalin gue?” tanya Saka, Liana menghela nafas nya. Sepertinya datang pada Saka bukan pilihan yang tepat.
 
“Iya,” jawab Naya dengan pandanggan lurus.
 
“STOP!” teriak Liana, mengapa jadi Saka dan Naya yang bertengkar.
 
“Kenapa? Ini rumah gue sama Saka. Orang kaya lo seharusnya gak pernah nginjak rumah ini,” usir Naya.
 
Saka menggeram, “Stop! Liana bentar,” ucap Saka menghentikan langkah Liana.
 
“Nay, ikut gue!” ajak Saka tanpa izin menarik tangan Naya kasar.
 
Mereka berdua sudah berada di kamar. Ya, hanya berdua.
 
“Liana gak punya siapa-siapa,” ucap Saka dengan lembut.
 
“Terus?”
 
Saka menghela nafas nya kasar, “Dia cuman punya gue,” jawab Saka dengan pandangan lurus menusuk mata Naya dalam.
 
“Dari dulu gue pengen tau, apa hubungan lo sama Liana?!” tanya Naya kasar.
 
Saka menyentuh tangan itu lembut, “Gue janji akan ceritaiin semuanya, Liana rapuh lebih dari siapapun,” ucap Saka, berharap itu akan memberik pengertian pada Naya, nyatanya tidak!
 
“Terus? Lo mau pergi sama dia, mau jadi bapak dari anaknya?” tanya Naya, dia geram. Walaupun Naya tidak percaya jika itu adalah anak Saka. Tapi,  hanya saja Naya merasa kesal, mengapa Saka harus membela Liana.
 
“Kita gak ada yang tau Nay, dia bisa bunuh diri,” ucap Saka, kejadian berapa tahun silam terasa begitu nyata sekarang, terasa seperti mesin waktu yang seolah mengulang kejadian tersebut.
 
“Biar aja mati sekalian,” jawab Naya. Jika itu milik Naya, ia tidak akan  pernah membiarkan miliknya di miliki oleh orang lain.
 
“Izinin gue pergi sama dia,” ucap Saka yang sudah bersimpuh di hadapan Naya.
 
Hatinya memanas, matanya sudah memerah menahan tangis, “Gue tanya, siapa yang lo cintai?” tanya Naya dengan ucapan datar.
 
“Lo Nay, dan selamanya cuman akan lo,” jawab Saka tidak ada keraguan disana.
 
“Terus kenapa lo mau pergi sama dia?” tanya Naya.
 
Saka meraup wajahnya frustasi, “Karena dia, Liana!” jawab Saka, sama seperti jawaban sebelumnya tidak ada keraguan juga pada getaran itu, terasa mudah di ucapkan tapi begitu menyakitkan ketika di dengar.
 
Naya tidak tau, apa yang sedang terjadi saat ini, “Kenapa lo harus pergi sama dia, ini pertanyaan terakhir!” tegas Naya setiap ucapan itu terasa tertahan.
 
“Karena dia Liana, dia bisa hancur, dia kaya kaca yang sudah retak dan dia seperti seseorang yang sedang berada di labirin panjang,” jawab Saka. Dia sudah cukup lama mengenal Liana, dia tau Liana gadis seperti apa. Tidak memiliki siapa-siapa, tapi Liana adalah gadis yang tidak akan menunjukkan itu.
 
“Dari mana lo tau kalo Liana gak bohong soal kehamilannya?” tanya Naya.
 
“Tatapan nya, itu hanya akan di perlihatkan kepada 2 orang aja Nay” jawab Saka.
 
“Siapa?” tanya Naya.
 
“Gue dan Gibran,” jawab Saka, tidak ada keraguan disana. Liana hanya memiliki Saka dan Gibran ya hanya mereka berdua, selebihnya Liana hanya akan menanggap itu angin lewat.
 
“Kenapa dia gak pergi ke Gibran, kenapa harus ke lo Sak?!” tanya Naya.
 
“Kemungkinan paling besar adalah itu anak Gibran!” jawab Saka.
 
“Kenapa dia gak minta tanggung jawab aja sama Gibran?” tanya Naya.
 
“Gibran? Dia pasti punya alasan dan dia pasti punya jawabannya,” jawab Saka.
 
“Izinin gue pergi,” lanjut Saka tertunduk dalam.
 
“Jika lo pergi terlalu lama, dan di saat itu jangan berharap lo akan lihat gue masih nunggu lo!” ucap Naya.
 
“Gue janji ini gak akan lama,”
 
 
 
 
 
 
 

TERPAKSA MENIKAH (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang