Jangan lupa untuk memencet ⭐️ sebelum membaca cerita ini
•
Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin hari senin, sekarang udah hari jumat aja. Dan kalian tau? Tinggal menghitung hari Disa akan bertunangan dengan musuh bebuyutan nya itu.
Pagi ini Disa dan Denis sudah siap untuk berangkat pergi ke sekolah. mereka berdua keluar dari kamar masing masing dan mulai menuruni anak tangga dengan hati hati.
"Artiss turuun mana sambutan nyaa" Ucap Denis dengan pedenya.
"Semangat banget anak bunda ini kayanya" Ucap Bunda kepada Denis dengan sedikit terkekeh.
"Denis lagi berbunga bungaaa" Ucap Denis sembari jingkrak jingkrakan.
"Apaan sih alay bangett" Sewot Disa ketika melihat Denis seperti cacing kepanasan di pagi hari ini. Denis pun langsung memberikan tatapan sinis kepada Disa setelah Disa mengucapkan kalimat tadi.
Disa dan Denis pun kemudian duduk di meja makan bersama dengan Bunda dan Papa nya.
Disa mengambil Satu Roti tawar dan mulai mengolesinya dengan selai bluberry, begitu pula Denis. Di sela sela waktu sarapan, Bunda mulai membuka pembicaraan.
"Sayang" Panggil bunda dengan lembut kepada Disa.
"Hmm" Saut Disa seadanya dikarnakan sedang mengunyah roti di mulutnya.
"Nanti pulang ada waktu? Kalau ada pulang sekolah bisa ikut bunda?"
"Ada kok bun, Kemana bun?"
"Kita fitting baju ya sayang" Kata bunda dengan lembut lagi. Disa pun memberhentikan aksi mengunyahnya. Dan pasalnya ia teringat akan pertunangan nya dengan Rendi.
"Sayang" Panggil bunda lagi yang menyadarkan Disa dari lamunannya.
"Pagi pagi gaboleh bengong" Timpal Papa. Disa pun beralih menatap Papa dan Bunda nya itu.
"Kamu ga lupa kan sama Acaramu sendiri?" tanya Papa. Dan Disa hanya mengangguk kecil sembari tersenyum kikuk.
"Hari minggu tunangan. Minggu depan nya lagi kamu udah sah sama Rendi" kata bunda lagi. Disa membulatkan matanya tak percaya.
'Hah? Gue? Minggu depan? Sah? Apaa apaan ini?' Umpat Disa dalam hati.
Selesai sesi sarapan. Denis dan Disa pun berpamitan untuk berangkat sekolah seperti biasanya. Di perjalanan Disa masih tidak bisa mencerna dengan baik apa maksud dari perkataan dari sang Bunda.
"Niss" panggil Disa pada Denis yang sedang fokus menyetir.
"Paan?" Saut Denis.
"Maksud bunda apa si nis?"
"Dasar dongo, masih gapaham juga astaga" Kata Denis. Disa memukul pelan bahu Denis karna kesal. Dan Denis hanya meringis sedikit.
"Lu minggu depan nikah sa" Kata Denis dengan santai.
"Hah??"
"Gausah teriak di kuping gua setan"
"Seriuss loo??"
"Ciyuss deh" kata Denis meledek. Semakin kesal Disa di buatnya. Akhirnya Disa menoyor sedikit kepala Denis dari belakang.
•
Triiinggg...
Bel istirahat pun telah berbunyi. Entah mengapa hari ini hari terasa berjalan dengan begitu cepat. Rasanya malas untuk Disa melakukan apa apa hari ini.
"Saa, Chik.. Ayo ah kantin" Ajak Fika yang kemudian di angguki oleh Chika tapi tidak dengan Disa. Fika berdiri dari duduk nya dan mencoba membantu Disa untuk bangun dan pergi ke kantin.
"Gue ga duluu ah" Ucap Disa dengan lunglai. Fika dan Chika pun terheran melihat Satu sahabat nya ini yang terlihat murung sedari tadi pagi.
"Lu kenapa sa?" Tanya Chika yang kemudian duduk di samping Disa. Dari dulu Disa tidak akan pernah bisa berbohong kepada para sahabat nya ini termasuk Rizal, Rapli, Farhan dan juga Bayu pastinya.
"Ada masalah cerita sa" Ucap Fika yang kemudian di angguki oleh Chika. Namun justru Disa malah menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan nya di atas meja.
"Saa" Panggil Chika dengan nada lembut. Mau tak maupun Disa kembali mengangkat wajah nya dari atas lipatan tangannya.
"Chik.. Fik.." Panggil Disa dengan suara lemah.
"Cerita Sa" Kata Fika lagi.
"Guee.."
"Kenapa sa?"
"Guee.."
"Kenapa? Lo kenapa sa?" Tanya Fika lagi. Disa pun bingung apakah dia memang benar benar harus cerita dengan para sahabat nya ini atau tidak.
'Apa gua cerita aja ya ke mereka? Toh cepat atau lambat juga pasti mereka bakal tau ko' Gumam Disa dalam hati sembari berfikir keras untuk menceritakan perihal ini kepada teman teman nya.
"Saa?" Panggil Fika yang mulai cemas.
"Gu..gue mi.. minggu depan" Ucap Disa dengan gagap.
"Minggu depan kenapa?" Tanya Chika.
"Gua nikah sama Rendi" Ucap Disa dengan nada suara yang amat pelan.
"HAH??" Teriak Fika yang langsung menutup mulutnya sembari melihat sekitar, seakan tak percaya dengan perkataan Disa barusan ia mencoba meyakinkan lagi.
"Lo seriusan?" Tanya nya Lagi dengan nada suara pelan mengikuti nada bicara Disa tadi dan Disa pun hanya mengangguk lemah.
"Saa" Panggil Chika. Disa pun menoleh ke arah Chika.
"Jangan takut. Kita bakal selalu ada buat lo" Ucap Chika meyakinkan.
"Ka Rendi orang baik. Dia orang yang bertanggung jawab. Lo pasti ga bakal nyesel dan pasti gabakal salah dalam melangkah kali ini" Ucap Chika yang semakin meyakinkan Disa.
"Iya neng, Chika satu sepemikiran sama gue" Timpal Rapli yang tiba tiba saja muncul entah datang dari arah mana. dan jangan lupakan dia yang selalu memanggil Disa dengan sebutan 'Neng' yang menurut dia itu 'oneng'
"Rendi orang baik ko" Ucap Rapli lagi. Disa pun mengembuskan nafasnya dengan pelan kemudian tersenyum tipis sembari mengangguki ucapan mereka.
◽️ ◾️ ◽️ ◾️ ◽️
Nextt jangan??
Komenn yaaww😘
Maap ya gais kalo mungkin Aku update nya nanti agak sedikit lama hehe..
jangan pernah bosan yaa dengan cerita kuu😘INGAT:
Don't be a silent readers⭐️ HAPPY READING ⭐️
26 April 2020

KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH SENIOR
Teen Fiction‼️ PLEASE DON'T BE SILENT READERS‼️ 💠 REVISIONS WILL BE MADE WHEN THE STORY IS COMPLETE. *** Disa Sabiya dan Denis Satriya.. Sepasang saudara kembar yang bisa saling melengkapi satu sama lain. Mereka mempunyai beberapa orang sahabat yang begitu m...