Revisi 19 okt
Semoga suka ya versi barunya
(REV 2 [19/10/24])
Revisi 3 (23 05 25)
HAPPY READING 🥂
•
•
Rain, Stefy, dan Andra masih duduk di kantin, tenggelam dalam obrolan tentang film yang baru tayang dua minggu lalu. Tawa sesekali pecah, terutama saat Stefy dengan semangat menirukan ulang adegan-adegan konyol yang menurutnya "gak banget tapi ngakak parah."
Gelak mereka perlahan mereda saat tiga lelaki memasuki kantin. Salah satunya langsung menarik perhatian Rain.
"Itu dia, Ndra," bisik Stefy sambil menepuk lengan Andra, tubuhnya sedikit merunduk. "Cowok yang tadi pagi Rain bilang cakep."
Lelaki itu memang cukup mencuri perhatian. Tato berbentuk sayap burung tampak sekilas di dadanya, tersembunyi di balik kaus longgar yang cepat cepat ia rapikan ketika sadar kancingnya terbuka.
Cara berjalan yang santai, namun tetap menyisakan kesan sok, begitu juga ekspresi tengil di wajah yang membuat orang otomatis melirik, entah karena kagum, jengkel, atau sekadar penasaran.
"Itu, Nichol namanya," jawab Andra.
Lelaki itu dan dua temannya duduk, hanya terhalang beberapa meja dari mereka.
"Jadi dia..." suara Stefy mengecil. "Adik lo?"
"Yang dari keluarga yang adopsi lo?" lanjutnya pelan, kali ini dengan jeda dan nada hati-hati.
Andra mengangguk.
Tak ada yang melanjutkan topik tersebut. Rain juga langsung memalingkan pandangan, memiringkan posisi duduknya agar tak harus melihat Nichol, manusia yang tadi pagi ia sebut cakep, dan secara tak sengaja ia tabrak saat terburu-buru menuju ruangan Patty.
Obrolan pun bergeser. Mereka mulai membahas masa sekolah Andra di Padang dan kehidupannya saat tinggal di Kanada. Suasana kembali cair, sampai akhirnya Stefy, yang tengah tertawa ringan sambil menggenggam gelas plastik menoleh ke arah pintu utama kantin.
Tatapan Stefy menajam saat ada tiga gadis masuk. Cara mereka berjalan, pakaian yang dipakai, terlihat jauh dari kesan anak sekolah pada umumnya.
Rain dan Andra langsung menangkap perubahan ekspresi Stefy. Mereka saling melirik sebentar.
"Lo kenapa, Stef?" tanya Rain pelan, menarik tangan Stefy yang menggenggam gelas agak kencang.
"Masih berani dia masuk sekolah..." gumam Stefy, mata tak lepas pada salah satu dari tiga gadis tersebut.
Rain dan Andra ikut melihat ke arah yang sama. Tapi belum sempat mengamati lebih jauh, Stefy sudah bangkit dari tempat duduk dan berjalan cepat ke arah mereka. Tanpa ragu, dia mendorong salah satunya hingga gadis itu sedikit tersurut ke belakang.
"Masih berani lo injak sekolah ini?!"
Rain langsung menyusul, namun berhenti beberapa langkah tak berani menarik Stefy. Sementara Andra masih berdiri di tempat, karena tak tahu kontkes masalahnya.
"Maksud lo apa dorong Lea?" salah satu dari teman gadis itu maju, mencoba membela.
Stefy menoleh cepat. "Gue gak ngomong sama lo. Gak usah ikut-ikutan."
Lea, lebih tepatnya Ochi Rosalea, memegang lengannya sendiri dengan ekspresi bingung bercampur sedikit panik.
"Kenapa lo dorong gue Stef?"
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
