41 - Blackpine Lake

624 120 16
                                        

Rev 10 mei

Rev (4/01/26)

VOTE NYA YAAA

🦋🦋

98% ALUR DI UBAH

Happy Reading


Berbeda seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Nichol berangkat dari rumah seorang diri, tanpa Rain, dan tanpa sempat sarapan.

Ia juga berangkat lebih pagi dari biasanya. Bukan semata-mata karena hari ini hari Senin, melainkan karena semalam ia sama sekali tidak tidur. Kepalanya terasa pusing setengah mati, sementara tubuhnya panas dan tidak nyaman.

Nichol memarkirkan motornya di tempat yang biasa ia gunakan. Meskipun sudah berangkat lebih pagi, tetap saja ia tiba hampir pukul tujuh karena kemacetan yang tak terhindarkan.

Di lapangan sekolah, beberapa siswa sudah terlihat berbaris rapi, berlatih upacara dengan suara aba-aba yang terdengar samar dari kejauhan.

Nichol turun dari motor sambil menjinjing tas di tangan kanan. Saat ia memasukkan kunci ke dalam saku, pandangannya tak sengaja tertuju pada sebuah mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dari dalam mobil itu, Rain turun lebih dulu. Disusul Mino beberapa langkah di belakangnya.

Tak lama kemudian, seorang wanita tua ikut keluar dari kendaraan tersebut. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, dengan postur yang sedikit membungkuk, memperlihatkan usia yang kira-kira mendekati delapan puluh tahun.

Nichol terdiam. Beberapa detik ia hanya berdiri di tempat, sampai akhirnya menyadari sosok itu dengan jelas.

Eyang.

Nichol segera melangkah menghampiri mereka. Tanpa ragu, ia mencium tangan Eyang sambil mengucapkan salam, lalu memeluk wanita tua itu sekilas.

“Nichol baik-baik aja kan?” Eyang bertanya ketika memperhatikan wajah cucunya yang tampak lebih pucat.

“Nichol baik, Eyang,” jawabnya. “Kok Eyang tumben ke sini?”

Sepanjang itu, Nichol sengaja tidak melirik Rain sama sekali.

“Eyang mau ke bandara jemput mamanya Mino,” jawab Eyang sambil tersenyum lembut, “jadi sekalian anter cucu-cucu Eyang.”

Nichol mengangguk pelan. Pandangannya sempat beralih ke Mino sebentar, lalu tanpa sengaja sudut matanya menangkap Rain yang menunduk, menghindari tatapan siapa pun.

Percakapan singkat itu berlanjut sebentar sebelum akhirnya Mino angkat bicara.

“Yaudah, Eyang. Kita masuk dulu.”

Eyang mengangguk, lalu memeluk cucu laki-lakinya itu dengan penuh kasih.

“Hati-hati ya, sayang.”

Ia juga memeluk Rain dan Nichol sekali lagi sebelum ketiganya berjalan jauh.

Dari kejauhan, Eyang memperhatikan mereka sejenak sebelum akhirnya kembali ke mobil putih dan meninggalkan pekarangan sekolah.

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang