Rev 8 des 2022
Rev 2 (21/08/25)
🦋
Happy Reading
-
-
-
“Oke, sekarang bagi kelompok enam orang, pilih satu ketua, terus ambil kertas di kotak ini ya. Nanti kita tanding,”
instruksi Pak Andre, guru olahraga yang dikenal baik hati tapi tegas, terdengar jelas.
Pelajaran olahraga baru saja dimulai. Tak hanya kelas IPA 2 yang turun ke lapangan di jam kedua ini, ada juga IPS 1, kelas Daffa. Dan IPA 1, kelasnya Lea. Mereka semua memakai lapangan yang sama. IPA 1 dan IPA 2 berlatih voli, sementara IPS 1 mendapat materi basket.
Rain, Cassie, Stefy, Andra, Mino, dan Devan otomatis bergabung jadi satu kelompok. Enam orang, seperti biasa, sudah tahu harus memilih siapa.
“Lo aja yang jadi ketua, Ra,” kata Cassie pada Rain, yang sejak tadi duduk di pinggir lapangan.
“Lo aja,” balas Rain singkat.
“Gak mau,” Cassie cepat menolak. “Ndra, lo aja.”
Andra langsung menggeleng. “Gue gak bisa. Cowok aja deh.”
“Oke, Devan.”
“Tunggu, jangan gue,” Devan buru-buru mengangkat tangan. “Mino aja.”
“Kok gue?” protes Mino.
“Udah sana. Ambil kertasnya.” Stefy mendorong bahu Mino, memaksanya maju ke Pak Andre.
Dengan wajah manyun, Mino akhirnya mengambil satu kertas kocokan, lalu kembali ke kelompok. Pak Andre mulai mengumumkan jadwal tanding. Kelompok Rain baru main di babak kedua, jadi mereka bisa menonton pertandingan lain dulu.
Namun Rain sama sekali tidak fokus. Pandangannya jatuh ke tanah, lalu sesekali ke tanaman di pinggir lapangan yang bergoyang tertiup angin.
Stefy dan Cassie sempat bertanya, menyadari perubahan sikapnya, tapi Rain hanya menjawab singkat bahwa ia butuh istirahat. Andra, yang mengerti lebih banyak, menepuk bahu Rain pelan. Sebagai balasan, Rain menoleh dengan senyum tipis, sekadar ucapan terima kasih.
Peluit berbunyi. Tim A menang tipis 25–23 dari Tim B. Kini giliran kelompok Rain menghadapi tim yang dipimpin Azka.
Saat mereka mulai bersiap, Pak Andre tiba-tiba menghampiri.
“Main dulu aja, latihan. Bapak ke lantai dua sebentar, ada anak kelas sepuluh berantem. Hari ini Bapak yang piket.”
Rain refleks menoleh ke arah tangga. Semua mengangguk, dan Pak Andre langsung berlari naik ke lantai atas.
“Mino, lo deket Rain! Lo kan libero!” seru Stefy, melihat Mino masih bercanda dengan Devan.
“Gue di mana?” tanya Devan.
“Di sini, samping Cassie!” Stefy menunjuk tempatnya berdiri.
Cassie, Andra, dan Rain sudah berdiri di posisi masing-masing sejak tadi, bersiap menatap pertandingan yang akan dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Genç KurguFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
