Rev 16 mei
Rev 2 (17/01/26)
🦋🦋
100% alur di ubah
VOTE KOMEN YA, TERIMA KASIH
Happy Reading
•
•
•
Setelah pulang sekolah, Nichol benar-benar pergi ke kafe Barbara untuk menemui Amy. Tadi saat bertemu Rain, Nichol bilang ia ada urusan sebentar dan akan menjemput Rain sendiri di rumah Eyang. Kini, Nichol baru saja memarkirkan motornya di depan kafe itu. Ia berdiri sebentar, mengatur napas, menatap pintu kaca, lalu akhirnya melangkah masuk. Ia naik ke lantai dua dengan cepat, mengikuti arah meja dekat jendela besar yang agak sepi, persis seperti yang Amy katakan lewat pesan.
"Amy."
Amy mendongak lalu tersenyum kecil. "Nichol."
Nichol duduk di depannya. Ia menelan saliva, tanpa sadar menggosok telapak tangannya sendiri yang terasa dingin dan sedikit basah oleh keringat.
"Mau pesan sesuatu dulu, atau?"
"No, no, I'm good," potong Nichol pelan.
Amy mengangguk lalu menatap Nichol, menyingkirkan gelas ke samping agar meja terasa lebih kosong di antara mereka. "Jadi kamu udah liat dan baca artikel yang aku kirim?"
Nichol mengangguk kecil. Tatapannya tak langsung naik ke wajah Amy, melainkan berhenti di permukaan meja.
"But I need your help."
Amy menaikkan alis. "What is it?"
Dada Nichol terasa agak berat. Jaket yang ia pakai bahkan tak bisa menutupi rasa dingin yang merambat pelan di tubuhnya.
"Gue inget gue ke Kanada. Beberapa hari sebelum natal." kata-kata itu keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan. "Gue rasa ada seseorang yang DM gue dan nyuruh gue ke sana, makanya gue minta Papa biar dia izinin gue ke Kanada waktu itu."
Nichol berhenti sejenak. Ia menelan saliva lagi. Sedangkan Amyo setia mendengarkan di depannya dengan raut berkaca.
"Hari pertama gue nginep di Hotel Bisha, keliling Toronto, pergi ke Yorkville jalan-jalan. Besoknya gue pulang ke rumah. Gue ketemu Ethan with her sister, Lunnete, Jeriah, Yves, Montana, Orion. Gue say hi sama mereka."
Nichol terdiam lagi, kali ini lebih lama. Ia memandang meja, seolah di sanalah potongan ingatan yang hilang bisa muncul kapan saja. Beberapa kali ia menutup mata, menarik napas, mencoba masuk lebih jauh ke kepalanya sendiri. Ada nama. Ada tempat. Ada suasana dingin. Tapi setiap kali ia mencoba melangkah satu tingkat, semuanya seperti mengabur dan mundur sendiri.
"And then, I had dinner at Aina's place that night... Besoknya, gue sama Aina pergi ke beberapa tempat sambil ngomongin sesuatu.. but I don't remember anything, apa yang gue sama Aina omongin, apa yang kita lakuin sampai akhirnya..."
Ia menarik napas dalam. Rasa mual itu kembali datang lalu naik dengan cepat, rasanya seperti ada bagian di kepalanya yang ditarik paksa terbuka, wajah Nichol seketika memerah, dengan tubuh yang mulai bergetar.
Amy yang melihat itu maju sedikit. "Nic?"
Nichol berusaha menetralkan tubuhnya sendiri. Ia menekan telapak tangannya ke paha, mencoba membuat napasnya teratur. Amy yang sangat khawatir memutuskan untuk berdiri, dan turun ke lantai satu. Ketika kembali membawa segelas air, Nichol masih menunduk, bahunya tegang dengan mata terpejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomansaFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
