Revisi 1: 19 okt 23
Revisi 2: 12 sep 24
Revisi 3: 15 mar 25
-
Jangan lupa votmen, tysm <3
Happy Reading 🥂
•
•
"Assalamualaikum," suara Rain terdengar pelan saat ia membuka pintu ruangan Patty perlahan.
Patty yang tengah merapikan beberapa buku di meja berhenti sejenak dan menoleh, matanya menatap tajam ke arah Rain. Dengan gerakan tegas, ia menyuruh Rain masuk dan duduk di depannya.
Ruangan itu terasa sedikit mencekam, bukan hanya karena lampu yang mati, tapi juga atmosfer tegang yang seolah diciptakan oleh Patty sendiri. Cahaya satu-satunya datang dari sela jendela yang tertutup tirai sebagian, memantulkan bayangan samar-samar di dinding yang membuat suasana semakin suram.
Sekadar informasi, di sekolah ini, setiap guru memiliki ruangan pribadi. Jika ada siswa atau orang tua yang dipanggil, mereka akan diantar ke ruangannya, kecuali jika kasus siswa cukup serius, seperti perkelahian atau perusakan fasilitas sekolah, mereka akan langsung dikirim ke ruang BK.
"Kamu tau kesalahan kamu apa?" Patty melipat kedua tangannya.
"Tau." Rain menjawab tanpa ragu.
"Kalau kamu tau harusnya kamu perbaiki, bukan malah makin parah kayak gini. Mau jadi apa kamu Rain?"
Rain berpikir sejenak, kemudian dengan santai menjawab, "Kalau bisa, saya mau jadi Ironman. Eh, bukan deh, Irongirl."
Patty tersenyum jemu, hampir putus asa menghadapi murid yang satu ini. Dari sorot matanya terlihat jelas betapa geramnya ia. Berulang kali menasihati Rain agar bisa menjadi contoh yang baik, tapi gadis itu tak pernah benar-benar mendengarkan, apalagi patuh.
Kalau bukan karena Eyangnya yang merupakan donatur terbesar, mungkin Rain sudah lama dikeluarkan atau dipindahkan.
Selama hampir tiga tahun bersekolah, Rain sudah melanggar banyak peraturan. Salah satunya, perkelahian dengan adik kelas yang berujung di rumah sakit hanya karena kesalahpahaman saat bermain futsal. Belum lagi masalah kedisiplinan yang selalu ia abaikan.
Patty menghela napas lagi, lebih dalam kali ini, agar bisa menenangkan emosinya.
"Berapa kali lagi Ibu harus bilang, ubah penampilan kamu! Terserah nanti kamu mau jadi apa, tapi disiplin, rapi, dan tertib itu penting!" suaranya meninggi, seperti sudah tak sabar lagi.
Rain masih mempertahankan ekspresi santainya, seolah omelan tersebut hanya angin lalu.
"Rambut coklat kamu, baju ketat kamu, sepatu kamu... Ibu gak masalah kalau kamu mau pakai semua itu, tapi bukan di sekolah! Kamu itu kakak kelas, harus jadi contoh yang baik buat adik-adik kamu!" Patty menekankan setiap kata, menyadari ini mungkin tak akan membuat Rain berubah. Gadis itu terlalu keras kepala dan sulit diatur.
Rain mengangkat bahu tak acuh. "Saya juga contoh. Contoh kalau di dunia ini ada orang yang gak suka diatur."
Patty menutup mata sejenak. Sungguh, menghadapi Rain selalu terasa seperti berhadapan dengan tembok beton.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Ficção AdolescenteFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
