40 - Bike

608 125 11
                                        

Rev 7 mei

Rev 2 (3/01/25)

98% alur di ubah
-
Vote komen nya ya jangan lupa

🦋🦋

Happy Reading


Rain membereskan barang-barangnya ke dalam lemari. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan akan tinggal di sini. Mungkin sampai perasaannya benar-benar lebih tenang.

Sejak datang, pikirannya tak pernah benar-benar diam. Ada rasa kesal, bersalah, dan capek yang datang bersamaan. Bayangan Rissa yang menangis dan suara Nichol yang meninggi terus berputar di kepalanya. Ini pertama kalinya Rain merasa terhimpit dari dua arah sekaligus.

Bentakan Nichol membuatnya sakit hati. Namun di saat yang sama, Rain tahu ada benarnya juga ucapan lelaki itu.

Bagaimanapun, Rissa tetap orang tua. Dan apa yang Rain lakukan tadi jelas berlebihan, mendorong makanan sampai jatuh tanpa berpikir panjang. Ia sadar itu salah, meski amarahnya saat itu terasa sulit dikendalikan.

Rain melirik jam dinding. Setengah empat sore.

Sejak tadi ponselnya tak berhenti bergetar. Notifikasi dari Nichol terus masuk. Lelaki itu bahkan sempat datang ke rumah Eyang untuk menjemputnya, tapi Rain menolak keluar. Akhirnya Nichol hanya mengobrol sebentar dengan Eyang, lalu pergi.

Pesan-pesan itu tetap berdatangan. Rain tak berniat membuka, apalagi membalas. Kekesalannya belum reda, dan ia juga butuh waktu, bukan hanya untuk menenangkan diri, tapi juga untuk menerima kesalahannya.

Karena tak tahu harus melakukan apa, Rain keluar kamar dan menghampiri Mino di ruang tengah. Lelaki itu duduk di sofa, memainkan rubik sambil menonton acara TV sore.

"Lo pas gue tidur ke mana?" tanya Mino tanpa menoleh saat Rain duduk di sampingnya.

"Beli kopi. Ketemu orang," jawab Rain singkat.

"Siapa? Nichol?"

Rain menggeleng.

Ada satu hal lain yang mengganggu pikirannya. Kalau Nichol tahu soal ini, apa reaksinya nanti?

Tadi sekitar jam setengah dua siang, Rain sempat ke kafe depan dan bertemu Bima. Pesan dari lelaki itu yang terus masuk dari nomor berbeda sudah membuatnya jengkel. Setelah berkali-kali memblokir, Rain akhirnya membalas satu pesan dan setuju bertemu, bukan apa-apa, ia hanya ingin menghentikan semuanya.

Di kafe itu, Rain menjelaskan jika mereka sudah tidak ada hubungan apa pun. Rain sudah punya pacar. Dan ia meminta Bima berhenti menghubunginya.

Tidak ada yang lain. Setelah itu Rain langsung pulang. Tapi tetap saja, pikiran tentang kemungkinan Nichol tahu membuat dadanya terasa tak nyaman.

Beberapa saat berlalu dalam diam, sampai akhirnya Rain menoleh ke Mino.

"Gue kayaknya bikin salah, Min."

Mino menghentikan permainan rubiknya dan menaikkan satu alis. "Kenapa?"

"Tante Rissa dateng ke rumah. Bawain udang." Rain menarik napas pelan. "Dia maksa gue nerima, tapi gue gak mau dan gue kesel. Terus gue dorong kotak makannya sampai jatuh."

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang