REV 6 nov
Rev 2 (27/02/26)
98% alur di ubah
🪄🪄
Happy Reading
•
•
•
Pagi itu Nichol kembali datang ke kafe Barbara setelah menghubungi dan meminta Amy bertemu. Ia duduk di kursi yang sama seperti kemarin, tepat di dekat jendela besar. Suasana kafe masih sepi karena belum jam ramai. Hanya ada beberapa pelanggan dengan laptop dan secangkir kopi, sementara musik pelan mengalun dari speaker di sudut ruang.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Rain sudah berangkat ke sekolah lebih dulu untuk membantu persiapan acara kelulusan. Nichol sendiri mengenakan seragam karena rencananya setelah ini ia akan menyusul. Namun sebelum itu, ia tahu dirinya harus menyelesaikan satu hal lebih dulu. Jika tidak membicarakan semuanya hari ini juga, ia yakin kepalanya tidak akan pernah tenang.
Di depannya, segelas latte dingin dengan es batu sudah berembun. Esnya mulai mencair, tapi minuman itu sama sekali belum disentuh. Tangannya terlipat di pangkuan, dan jemarinya saling mencengkeram kuat tanpa sadar. Tatapan lelaki itu kosong mengarah ke luar jendela, meski pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Sejak semalam, bayangan darah, lorong apartemen, dan wajah samar Alex terus berputar di kepala.
Ia juga ingin tahu perkembangan kasus Eric, ingin mendengar langsung dari Amy. Jujur saja, ia belum cukup berani membaca artikel berita itu sendirian.
Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka dan Amy masuk. Begitu melihat Nichol, gadis itu langsung menghampiri dan duduk di hadapannya tanpa banyak basa-basi.
“Nichol,” panggilnya pelan.
Nichol menoleh dan membalas tatapannya.
“Jadi, gimana maksud dari pesan yang kamu kirim?” tanya Amy cepat.
Sebelumnya, Nichol memang sempat mengirim chat singkat, menceritakan jika ia mendapat potongan ingatan baru. Tidak detail, hanya cukup untuk membuat Amy khawatir.
Nichol menarik napas panjang, lalu langsung berbicara, “Gue inget ada darah di sana. Ada bayangan wajah Alex… tapi semuanya samar.”
Amy terdiam. Tatapannya memperhatikan wajah Nichol dengan serius, dari alis, mata, sampai bibirnya. Tangan gadis itu mengerat di atas meja. Sejujurnya, ia merasa lega saat mendengar Nichol mendapatkan ingatan baru, meskipun yang kembali hanya potongan kecil dan belum utuh.
Pengidap dissociative amnesia memang tidak bisa mengingat segalanya secara instan. Ingatan mereka kembali perlahan, sedikit demi sedikit, mereka perlu beberapa hal yang akhirnya bisa memicu sang pengidap mengingat, dan terkadang membutuhkan waktu sangat lama.
“Berarti, kamu ada di sana?” tanya Amy dengan suara berat.
Nichol menelan ludah dan hanya bisa menggeleng pelan. “I don't know.”
Amy memejamkan mata sebentar, lalu menatapnya lagi. “Nic! Bisa gak sih kamu sekali aja paksa kepala kamu buat inget? Aku mau tau sesuatu, Nichol! Ini menyangkut Eric, Alex, Aina, dan mungkin kamu!” napas Amy berat, air matanya tiba-tiba saja mulai menetes.
“Kita masih belum tau apa yang terjadi sebenarnya! Apa yang kamu lakuin waktu sama Aina di apart Eric. Ini masih fifty-fifty!" Amy menatap Nichol tanpa berkedip.
“Fifty percent you don't know anything, fifty percent you're involved!” ia menutup wajahnya sebentar karena frustrasi, menarik napas dalam-dalam, sementara air matanya terus jatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
