Rev 20 des
Rev 2 (6/09/25)
🦋 part paling ga jelas sepanjang masa 🦋
Happy Reading
-
-
-
Bell masuk sudah berdering tujuh menit lalu, tapi kelas IPA 2 tetap seperti pasar malam. Sumber masalah? Siapa lagi kalau bukan Rain bersama dua partner in crime-nya, Stefy dan Cassie.
Entah dari mana Rain mendapatkan kaus kaki bekas, tapi benda itu sekarang jadi senjata pemicu keributan. Ia melemparnya ke arah sekumpulan anak laki-laki yang asik nongkrong di lantai sambil main game.
“Woy! Jijik!”
Dari situlah kekacauan dimulai. Anak-anak berlarian menghindar, beberapa gadis menjerit geli, sementara suara tawa menggema keras. Stefy dan Cassie ikut melompat di antara bangku, sementara Rain tak berhenti tertawa puas melihat korbannya kabur.
Mino malah jadi lebih brutal, mengambil kaus kaki itu lalu melemparkannya dengan gaya seolah tengah bermain dogeball. Tawa kerasnya menggema ketika kaos kaki tersebut mengenai kepala Devan.
“APA-APAAN INI?!” suara lantang Patty menggelegar dari ambang pintu.
Seketika suasana beku. Semua murid buru-buru kembali ke kursi masing-masing, nafas mereka masih terengah-engah. Mino sampai sulit berdiri tegak karena perutnya sakit menahan tawa.
“SIAPA YANG MULAI?!” bentak Patty, berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, ekspresi wajahnya menyeramkan.
Hening. Tak ada yang berani membuka mulut. Rain pun menunduk, menekan bibirnya supaya tak ketahuan ingin tertawa.
“Kalian ini… Ibu nggak habis pikir! Setiap hari ada laporan, kelas kalian selalu berisik! Bisa gak sekali aja bersikap dewasa? Kalian ini bukan anak SD, kalian kelas dua belas! Sebentar lagi lulus!”
Dari sorot matanya, jelas terlihat kalau kesabaran Patty hampir habis.
“Mana Rain?”
Dengan berani, Rain mengangkat tangan.
“Kamu ketua kelas, kan?”
Perlahan tangannya diturunkan, lalu ia mengangguk kecil.
“Seharusnya kamu bisa mengatur mereka, bukan malah ikut lari-larian! Kalau bosen nunggu guru, kalian bisa baca, belajar, atau apa kek yang lebih bermanfaat! Ini malah teriak-teriak gak jelas. Gak cewek, gak cowok, sama aja.” Patty menyapu pandangan ke seluruh kelas.
Beberapa anak saling melirik. Kalau bukan karena digaji, mungkin Patty sudah angkat kaki dari sekolah itu sejak lama.
“Sebagai hukumannya, hari ini kita adakan kuis.” ucapnya mantap sambil melangkah ke meja guru.
Sontak satu kelas mengeluh pelan. Rain buru-buru mengangkat tangan, “Kok gitu, Bu?”
“Gak ada alasan. Pokoknya kuis.”
“Tapi ka—”
“Mau melawan?”
Rain mendengus, wajahnya cemberut. Ia pun terpaksa mengeluarkan buku matematika, diikuti seluruh murid yang mulai menunduk lesu.
Beberapa jam kemudian, kuis menyebalkan itu akhirnya berakhir. Saat bel istirahat berbunyi, seperti biasa Rain akan masuk dulu ke ruangan Patty untuk diinterogasi.
Ancaman Patty masih terngiang di kepala. Katanya ia akan memberi tahu Eyang soal tingkah laku Rain, jika Rain tidak segera mengubah penampilan. Padahal ia telah berusaha, seragam panjang dan longgar pemberian Azha sudah dipakai. Hanya saja, sepatunya memang bukan hitam polos, dan kuku palsunya masih terpasang.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomanceFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
