Rev 16 des
Rev 2 (28/08/25)
🦋🦋
Happy Reading
-
-
-
Pagi ini Rain bangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia sulit tidur karena harus berbagi ranjang dengan Nichol. Bukan tanpa alasan, di kamarnya memang ada sofa, tapi terlalu sempit dan tidak nyaman jika dipakai semalaman. Akhirnya Rain mengalah, membiarkan Nichol tidur di sana, meski tetap membuat pembatas dari guling dan boneka.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Rain keluar dari kamar dengan seragam baru. Rambutnya diikat rapi, dengan riasan sederhana, penampilannya jauh lebih wajar untuk anak sekolah. Seragam itu salah satu hadiah pernikahan dari Azha, lengkap dengan dasi dan topi. Padahal masa sekolahnya tinggal beberapa bulan, tapi Azha tetap ingin melihat ia berdandan lebih normal.
Sebelum keluar, Rain sempat melirik Nichol yang masih terlelap. Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Biarlah, pikirnya. Nichol pun baru tidur sekitar setengah satu setelah asyik main krambol dengan Darrel dan Agra.
Di dapur, ia langsung disambut Rissa yang sedang menyiapkan sarapan bersama Ambar dan Azha.
“Rain? Tumben udah siap, sayang?” sapa Rissa ramah.
“Kenapa emang? Masalah?” balas Rain ketus sambil berjalan ke meja makan.
“Bukan gitu, biasanya kan kamu baru bangun jam segini,” jawab Rissa lembut.
Rain tak menanggapi lebih jauh. Ia hanya duduk sembari mengemil kentang sisa pesta kemarin.
“Azha, kamu shift apa hari ini?” Rissa menoleh pada Azha.
“Pagi,” jawabnya singkat.
Sama seperti Rain, Azha juga tidak sepenuhnya menerima keberadaan Rissa di rumah ini. Hanya saja ia lebih pandai menutupinya, sementara Rain cenderung frontal dan blak-blakan.
“Rain, bisa ambilin garam gak? Bi Ambar lagi cuci piring,” pinta Azha melirik adiknya.
Rain bangkit, mengambil kotak bumbu di sisi lain dapur, kemudian menyerahkannya. Dari situ, ia ikut membantu sedikit, meski lebih sering diam dan memperhatikan ketimbang benar-benar kerja.
Seumur hidup, Rain memang tidak pernah dekat dengan dapur. Bukan hanya karena tak bisa memasak, tapi juga karena ia tak tahan dengan bau menyengat yang dihasilkan. Jadi jika sampai benar-benar disuruh masak, ia pasti akan menolak mentah-mentah.
Setelah semua tersusun rapi, satu persatu orang keluar. Darrel muncul dengan baju santai dengan celana joger, Agra keluar dengan jas rapi nya. Dan Nichol, lelaki itu belum juga terlihat.
Rain memutuskan untuk segera menyusul, berjalan menaiki tangga menuju kamar.
Ia mengetuk pintu terlebih dahulu kali ini, karena khawatir kejadian kemarin terulang. Pintu perlahan ia dorong, dan mendapati Nichol sudah siap dengan seragam bersih, tengah duduk di sisi ranjang sembari memakai kaos kaki.
"Gue kira belum bangun." ucap Rain pelan.
Nichol melirik sekilas, lalu bangkit ketika kakinya telah terpakaikan sepatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomansaFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
