Rev 10 okt
Rev 2 (24/02/26)
--
99% alur di ubah
KALAU ADA YANG KE POTOMG ATAU GA NYAMBUNG KASIH TAU YAAAA AKU NULISNYA DI NOTES TAKUTNYA EMANG KE POTONG HHH
💐💐
Happy Reading
•
•
•
Hari ini sebenarnya mereka tidak diwajibkan datang ke sekolah. Tidak ada kelas, tidak ada pelajaran, hanya hari kosong menjelang kelulusan. Namun entah kenapa, semuanya tetap datang, seolah sadar setelah hari ini kesempatan untuk duduk bersama akan semakin jarang, bahkan mungkin tak ada lagi.
Kantin masih ramai oleh suara sendok beradu piring, tawa yang meledak di sana-sini, dan obrolan santai yang terasa lebih ringan dari biasanya. Beberapa siswa makan dengan santai, sebagian hanya duduk berkelompok, menikmati waktu tanpa memikirkan tugas atau ujian.
Nichol duduk di ujung bangku panjang, tepat di sebelah Rain. Di samping Rain ada Cassie lalu Andra. Sementara di seberang mereka duduk Daffa, Efline, dan Rayn, meja dipenuhi baki makanan yang setengah habis. Mereka membicarakan nilai, kelulusan, dan rencana setelah sekolah dengan nada bercanda, saling mengejek seperti biasa.
Sejak obrolannya dengan Andra beberapa waktu lalu, kepala Nichol terasa tak pernah benar-benar diam. Potongan-potongan ingatan yang berusaha ia susun terus berputar tanpa henti, seperti puzzle yang kehilangan terlalu banyak bagian. Tubuhnya masih lelah, dadanya kadang sesak tanpa alasan jelas, jadi ia memilih diam, sekadar mendengarkan suara teman-temannya tanpa benar-benar masuk ke dalam percakapan.
Tiba-tiba Daffa bersuara, santai seperti biasa. "Jadi, masalah Lea gimana?"
Sendok Stefy berhenti di udara. Beberapa kepala langsung menoleh. Cassie menyikut lengan Daffa cukup keras sebagai teguran.
"Maksud gue... gue cuma pengen tau. Katanya dia ikut ujian," tambah Daffa cepat, menunduk pura-pura fokus pada makanannya.
"Gak usah didengerin. Si Daffa emang gak jelas," celetuk Rayn, paham betul ekspresi Stefy yang langsung berubah muram.
Efline ikut memanggil pelan, "Beb..."
Setelah kejadian itu, Lea memang tak pernah terlihat lagi di sekolah. Rumor yang beredar bilang dia pindah ke Bogor, tinggal di rumah neneknya.
Stefy sendiri tak pernah mau bercerita lebih jauh. Rain dan Cassie pun sepakat tak membahasnya, takut membuka luka yang belum sembuh.
Dan setelah semuanya, Poppy dan Dinda justru berubah. Mereka datang tepat waktu, tak lagi cari masalah, mulai berbaur pelan-pelan seperti siswa biasa. Jika berpapasan dengan Rain, Cassie, Andra, atau Stefy, mereka hanya akan lewat tanpa sepatah kata.
Namun sesuai tebakan, berita tentang siswi hamil di luar nikah itu sempat menyebar ke seluruh kota, jadi bahan bisik-bisik orang dan gosip murahan. Tapi setidaknya, siapa pun yang menyebarkan masih punya sedikit hati, untuk tidak mengumbar nama siswa dan nama laki-laki yang menghamilinya.
"Minggu lalu neneknya dia dateng ke rumah," Stefy akhirnya membuka suara pelan. Obrolan meja itu langsung mereda, semua spontan menoleh ke arahnya.
"Dia begging ke nyokap gue biar kasusnya dihentiin sementara, biar Lea bisa ikut ujian dan dapet ijazah." Stefy menunduk, sendok di tangannya hanya memutar-mutar bakso di mangkuk tanpa benar-benar dimakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
