45 - Doctor

567 126 13
                                        

REV 20 JUN

Rev 2 (17/02/26)

98% ALUR DI UBAH

NOTE

Teman-teman, baca yang baik yaaa karena di sini aku jelasin about Eric, Aina dan Alex. Dan beberapa ada yang aku ubah alurnya, aku ubah juga part part sebelumnya, ga banyak kok, cuma biar nyambung aja

Terima kasih sudah mampir!

🦋🦋

Happy Reading


Pertandingan basket belum benar-benar usai. Masih ada dua laga lagi, dan salah satunya adalah kelas XII IPA 3 melawan XII IPS 1, kelas Nichol. Pertandingan penentu itu membawa mereka masuk ke babak final.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Semua rangkaian pertandingan memang dipadatkan hanya dalam satu hari, mengingat waktu yang mepet. Besok hari Minggu, dan Senin ujian sudah dimulai. Tidak ada kesempatan untuk menunda.

Di tribun, Rain masih duduk bersama yang lain sambil menyantap makanan ringan. Suasana mulai lebih santai dibanding tadi. Beberapa orang sudah menyebar ke sana-sini karena bosan, sebagian memilih pulang lebih dulu, sementara yang lain tetap bertahan. Namun pelan-pelan, kerumunan justru kembali mengarah ke lapangan. Katanya, banyak yang penasaran ingin melihat kelas IPS bertanding.

Rain yang tengah menggigit telur gulung menoleh saat Stefy tiba-tiba mencolek pinggangnya.

"Mau?" tawarnya refleks, menyodorkan jajanan itu.

Stefy menggeleng kecil. "Ada yang mau gue tanyain sama lo. Tapi gak di sini, kita ke kelas bentar ya?"

Rain terdiam sebentar sebelum mengangguk. Jujur saja, sikap Stefy terasa agak berbeda sejak tadi. Gadis itu jarang tersenyum ke arahnya, tidak banyak bercanda seperti biasa, malah lebih sering mengobrol dengan Andra atau Cassie saat jam istirahat.

Setelah menghabiskan makanan, mereka berdua berjalan meninggalkan tribun menuju gedung kelas yang letaknya lumayan jauh dari lapangan basket. Suasana koridor sudah lebih sepi, hanya terdengar gema langkah kaki mereka sendiri.

Begitu masuk ke dalam kelas, Stefy langsung menutup pintu. Bunyi klik kecil itu entah kenapa membuat Rain ikut menegang. Dadanya terasa sedikit gugup. Stefy tidak pernah bersikap seformal atau seserius ini sebelumnya.

"Kenapa sih, Stef?" tanya Rain, mencoba tertawa kecil di ujung kalimat.

"Langsung aja, Ra," ucap Stefy, berdiri tepat di depannya dengan tatapan serius. "Lo ada hubungan apa sama Nichol?"

Rain justru makin bingung mendengar pertanyaan itu. Bukannya semua orang sudah tahu? Ia dan Nichol memang punya hubungan. Yang orang-orang tahu, mereka pacaran. Jadi kenapa Stefy menanyakan hal yang jawabannya sudah jelas?

"Kita... pacaran. Lo tau itu kan?" jawab Rain setelah diam beberapa saat.

Stefy tidak langsung merespons. Tatapannya justru makin tajam, menembus wajah Rain.

"Lebih dari itu. Kalian gak cuma pacaran kan?" tuntutnya.

Jantung Rain langsung berdetak kencang. Tiba-tiba saja ada rasa dingin menjalar di tengkuknya. Cara Stefy bicara barusan terdengar seperti seseorang yang sudah tahu sesuatu, yang seharusnya belum ia ketahui.

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang