22 - Safe Haven

871 281 52
                                        

Rev 17 jan

Rev 2 (14/09/25)

--
Jangan lupa vote komen yaaa

Follow juga akun aku msslwtii

--

| MAKIN BAWAH MAKIN GA JELAS |

Happy Reading
-
-
-

Pelajaran hari ini sudah selesai sepenuhnya. Jam baru menunjukkan pukul 11.25 ketika bel pulang berbunyi nyaring. Karena hari ini Jumat, murid-murid memang pulang lebih awal.

Beberapa anak langsung berhamburan keluar kelas, berlari menuju gerbang utama yang baru saja dibuka satpam sekolah. Suara tawa, langkah kaki yang terburu-buru, serta teriakan riang bercampur jadi satu. Seperti biasa, Jumat selalu jadi hari paling ditunggu.

Namun tidak semua bisa langsung kembali ke rumah. Rain masih duduk di bangkunya, menunggu Andra dan Cassie yang kebagian piket membersihkan kelas.

"Yang bersih!" tegur Mino, ketika melihat Cassie menyapu asal-asalan, hanya menyeret debu dari satu sisi ke sisi lain.

Cassie mendengus. "Nanti juga lo yang nyapu ulang."

Rain menahan tawa kecil. Sudah jadi kebiasaan Cassie bersikap seperti itu. Dari dulu, Cassie paling malas kalau dapat bagian menyapu. Ia lebih suka membereskan kursi atau menghapus papan tulis. Bahkan, seringkali ia memilih membayar lima belas ribu ke kas kelas agar bisa bebas dari tugas piket. Memang, Cassie selalu punya cara sendiri untuk menghindari kewajiban.

Sementara itu, suasana sekolah mendadak jadi panas. Bukan lagi soal piket atau jam pulang cepat, melainkan kabar mengejutkan, apalagi kalau bukan masalah Lea.

Tanpa banyak basa-basi, pihak sekolah mengadakan rapat besar. Orang tua Lea dan Stefy dipanggil langsung ke ruang kepala sekolah. Dari luar, murid-murid bisa mendengar suara tinggi Dania, ibu Stefy, berteriak berkali-kali. Bahkan, dentingan kaca pecah terdengar jelas hingga lorong samping.

Tak butuh waktu lama, desas-desus soal kehamilan Lea menyebar. Ada yang bilang mereka mendengar langsung perdebatan di taman belakang. Ada juga yang sekadar menerka-nerka. Hingga akhirnya, akun Instagram Nusantara I, yang entah kenapa masih belum pulih setelah diretas sebulan lalu, tiba-tiba memposting berita besar-besaran tentang Lea.

Sekolah pun mendidih.

Di dekat gedung olahraga, Poppy sempat marah-marah. Ia membentak beberapa siswa yang membicarakan Lea dengan kata-kata buruk. Bahkan, Poppy hampir adu dorong dengan salah satu dari mereka. Meski sahabatnya sedang diterpa isu besar, ia tetap berdiri di sisinya.

Tapi tidak dengan Dinda. Entah kenapa, gadis itu justru menjauh. Sejak siang tadi, Rain bahkan tak pernah melihat Dinda lagi bersama Poppy.

Rain sendiri... hanya bisa diam. Jujur saja, ia benar-benar kebingungan dan tidak menyangka.Di zaman sekarang... bukankah hal seperti ini sudah jarang dan tak pernah ada? Tapi ternyata, malah terjadi pada temannya sendiri.

Yang lebih tidak bisa Rain pahami adalah Bagas. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa tega membuat anak sekolah hamil? Apakah saat melakukannya, Bagas sama sekali tidak memikirkan Stefy? Tidak memikirkan Dania, istrinya sendiri?

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang