Rev 26 des
Rev 2 (7/09/25)
🌻 jangan lupa vote komen ya 🌻
Happy Reading
-
-
-
Jam sudah menunjukkan pukul 23.48. Namun Rain belum juga terlelap. Dari ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela balkon yang gordennya lupa ia tutup. Malam begitu pekat, hanya lampu tidur redup di sudut kamar yang memberi cahaya hangat.
Pikirannya berputar tanpa henti. Permintaan Eyang, kondisi Eyang, semua kekhawatiran menumpuk hingga membuat dadanya sesak. Bagaimana kalau Eyang benar-benar pergi? Jika tak ada Eyang, Rain tak punya lagi tempat pulang, tak akan punya siapa-siapa lagi untuk di ajak cerita.
Permintaan Eyang agar ia menjaga pernikahannya dengan Nichol... mungkin, Rain bisa usahakan. Asal Nichol juga memperjuangkan hal yang sama. Tapi untuk menerima Rissa? Tidak. Tak akan pernah terjadi.
Pandangan Rain beralih pada sebuah foto di atas nakas. Jemarinya meraih bingkai itu, menatapnya lama. Sebuah potret beberapa tahun lalu, Rain memeluk Daneen dan Azha, berlatar belakang salju putih. Foto keluarga terakhir sebelum semua berubah.
Hari itu adalah ulang tahun Daneen. Agra menghadiahkan liburan ke Swiss. Jika diingat ke masa itu, Agra adalah ayah terbrengsek di dunia untuk Rain. Bisa-bisanya, bersamaan dengan foto ini yang di ambil di dekat gunung Jungfrau, Rissa juga ada di sana, tak jauh dari mereka. Pantas saja selama perjalanan Agra selalu menghilang tiba-tiba, yang ternyata Agra malah menemui Rissa.
Air matanya jatuh begitu saja. Rindu dan benci berbaur jadi satu, membuat dadanya semakin sesak.
"Ma... Rain kangen sama Mama," lirihnya, memeluk bingkai foto itu erat-erat.
Di ranjang, Nichol yang semula hampir tertidur sontak membuka mata. Ia menarik tubuh Rain ke dalam pelukannya cepat, tak lagi bingung kali ini, melihat Rain yang memanggil kata 'Mama' dapat meyakinkan Nichol bahwa ia merindukan sosok bidadarinya.
Nichol menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Di luar, hujan turun deras, angin kencang membuat gorden bergoyang liar, menambah kelam suasana malam ini.
Rain menangis tanpa henti, bahunya bergetar hebat. Nichol mengusap punggungnya pelan, mencoba meredakan meski ia tahu tak banyak yang bisa dilakukan.
"Gue pengin ketemu Mama..." suara Rain pecah, nyaris tak terdengar.
Pelukan Nichol semakin menguat. Baju kaos yang ia pakai kini sudah basah oleh air mata. Nichol tak tahu apa yang harus ia lakukan dan katakan selain hanya mendekapnya erat, seolah takut Rain hancur berkeping jika dilepas.
Nichol itu lemah untuk mencari kalimat penenang. Nichol bisa menjadi pendengar yang baik, tapi tak bisa menjadi perespon yang handal.
Cukup lama Rain menangis di sana, hingga akhirnya isakan itu perlahan mereda. Saat merasa Rain mulai tenang, Nichol melepaskan pelukan. Ia lalu bangkit sejenak dan menyalakan lampu utama, membuat ruangan yang semula temaram kini lebih terang.
Dengan hati-hati, Nichol mengusap wajah Rain, membersihkan jejak air mata yang masih basah di pipi. Rambut berantakan Rain yang menutupi wajahnya ia singkirkan perlahan, menyelipkannya ke belakang telinga.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomansaFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
