30 - Give my whole life

852 237 47
                                        

Rev 3 feb

Rev 2 (23/12/25)

99% alur di ubah

Semoga suka versi barunya ya

🦋🦋

Happy Reading


Basah kuyup. Nichol dan Rain memilih menerobos hujan yang begitu besar. Tadi Nichol sudah mengusulkan untuk berhenti, atau setidaknya mengenakan jas hujan agar pakaian mereka tidak basah.

Namun Rain menolak. Ia justru meminta Nichol terus melaju di tengah hujan. Untung saja ponsel dan barang-barang lain sudah dimasukkan ke dalam tas anti air, jadi mereka tak terlalu khawatir.

Sekarang, keduanya sudah berada di pemakaman Cemara, tempat Daneen disemayamkan. Rain yang meminta Nichol membawanya ke sini. Dan Nichol menurut, tanpa bertanya panjang lebar.

Kini, perempuan itu masih menangis. Ia duduk di tanah, tepat di dekat kepala nisan ibunya. Nichol berada di samping, mengusap punggung Rain pelan, berulang-ulang tanpa henti.

Hujan masih cukup deras. Rain tidak mengatakan apa-apa sejak mereka tiba. Ia hanya terus bersedih, sesekali mengusap nama Daneen pada batu nisan dengan gemetar.

Nichol tidak pernah menyangka konflik di rumah Rain sebesar itu. Banyak hal yang baru ia dengar hari ini. Termasuk kenyataan bahwa kematian Daneen, secara tidak langsung… karena ulah Rissa.

Pikirannya melayang pada keributan di rumah tadi, tentang Dita yang ternyata anak kandung Rissa, tentang rumah besar itu yang sejatinya milik Daneen, juga tentang Azha yang selama ini terlihat tenang tetapi bisa mengamuk sehebat itu.

Nichol memang belum mengetahui semuanya. Tapi cukup banyak hal yang ia dengar untuk memahami satu hal, masalah keluarga Rain sama sekali tidak sederhana.

Ia bahkan tak yakin, apakah setelah ini dirinya masih akan diterima di keluarga itu atau tidak. Tapi Nichol tidak terlalu peduli. Menurutnya, Agra yang salah. Dan Nichol hanya melakukan satu hal, membela dan melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.

Ia melirik Rain lagi. Perempuan itu masih dalam posisi yang sama. Daneen… Nichol tidak pernah mengenalnya. Bahkan wajahnya saja hanya ia lihat dari foto di samping ranjang. Namun sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di pemakaman ini, Nichol sudah menyapa Daneen dalam hati. Memperkenalkan diri sebagai suami Rain dengan self-confident.

Beberapa kali ia berbicara dalam hati, tidak secara gamblang. Hanya ia, Tuhan, dan… semoga saja, Daneen yang mendengar.

“Ma, semoga Mama nggak keberatan Nichol panggil Mama…” ia terdiam sejenak.

“Mungkin sekarang Mama punya banyak pertanyaan 'kenapa'. Tapi Nichol cuma mau bilang… Rain baik-baik aja selama sama Nichol.”

Nichol melirik Rain yang kini membungkuk, menciumi nisan ibunya dengan tatapan hancur.

“Nichol janji sama Mama. Nichol bakal jaga Rain semampu yang Nichol bisa. Nichol bakal kasih semua yang Nichol punya buat dia. Dan Nichol bakal pastiin Rain hidup dengan layak…”

Sebelah tangannya yang memang sejak tadi berada di tumpukan tanah dengan rumput halus itu, terusap sedikit.

“Nichol gak akan pernah biarin Rain sendirian. Mama gak perlu khawatir... dan Mama boleh dampimgi Nichol untuk jaga Rain. Di tangan Nichol, Rain bakal hidup jauh lebih bahagia dari sekarang.”

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang