24 - 25 I Guess, I Love You?

971 269 59
                                        

DOUBLE PART / hampir 99% alur di ubah !

--
Part terpajang yang pernah aku tulis '-'

Rev 22 jan

Rev 2 (23/09/25)

🧚‍♂️🧚‍♀️

Happy Reading
-
-
-

Nichol berada di ruang rawat sekarang. Infus dan beberapa selang terpasang di tubuhnya. Ia sudah sadar sejak tadi, hanya saja lebih banyak diam, sesekali melirik istrinya yang duduk di sebelah ranjang.

Hasil rontgen menunjukkan kaki Nichol memang patah dan sempat bergeser. Namun sekarang sudah dipasangi gips dan penyangga.

Sesuai laporan dari pengunjung kafe, polisi akhirnya datang untuk meminta penjelasan. Evan, Kadek, dan Gean kini sedang diinterogasi di ruangan lain. Sementara itu, Andra menemani Echa bicara dengan dokter. Bernand tidak bisa hadir karena sedang berada di Padang sejak tadi malam.

Di ruang rawat yang sepi itu, hanya ada Rain, duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Nichol yang terbalut perban.

“Lo bikin gue khawatir, tau gak?” suara Rain bergetar karena emosi yang sejak tadi ia tahan.

“Lo janji pulang jam sepuluh. Tapi sampe lewat tengah malam lo gak balik, HP lo mati… gue kira lo—” Rain tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menatap Nichol yang masih lemah di ranjang.

Nichol menoleh pelan, bibirnya terangkat sedikit.

“Khawatir? Cinta, ya?”

Rain langsung mendelik, berusaha menutupi dadanya yang lagi-lagi berdebar keras. Namun ia tetap tak melepaskan genggaman tangannya dari Nichol.

“Gue cuma takut lo kenapa-kenapa. Dan ternyata bener, lo kenapa-kenapa.” gumam Rain kesal.

Nichol menggeser tubuhnya sedikit mendekat. Gerakan kecil itu membuat Rain spontan menopang pinggang dan tangannya, takut lelaki itu semakin kesakitan.

Nichol sendiri malah terlihat santai, seolah tubuhnya tidak penuh luka. Rain lah yang justru meringis tiap kali khawatir menyentuh bagian yang salah.

“Makasih ya… udah khawatir.” ucap Nichol pelan. Tangan yang tadi digenggam Rain ia lepaskan sebentar, hanya untuk mengusap kepala istrinya lembut.

“Maaf juga udah bikin lo takut.”

Rain mendongak menatapnya. Meski lampu kamar rawat redup, mata Nichol tetap memantulkan sesuatu yang hangat. Nichol pun menatap balik, pancaran yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu terasa berbeda untuk Rain.

Tangan Nichol yang tadi berada di kepala Rain turun perlahan, menyusuri sisi wajahnya. Ujung jari lelaki itu menyentuh telinga Rain sebentar, lalu mengusap pipinya dengan sangat hati-hati.

Sedetik, Rain merasa jantungnya berhenti berdetak. Mirip seperti ada sesuatu yang menarik jiwanya naik begitu cepat sampai kepalanya ikut ringan. Nichol tersenyum kecil sebelum menjauhkan tangannya dari pipi wanita tersebut, dan kembali menggenggam jemarinya diatas ranjang.

"Gue seneng masih bisa liat lo. Tadi gue ngerasa kayak hampir mati, tapi tiba-tiba… ada yang cium gue di sini." Nichol menunjuk pipi kanannya. "…terus rasanya kayak jiwa gue ditarik balik. Lo tau gak siapa yang cium gue? Gue mau kasih dia ciuman balik."

Rain langsung mengalihkan tatapan, menatap apa pun selain wajah Nichol. Ia berkedip cepat, berusaha menyembunyikan gugupnya.

Karena faktanya, Nichol memang sadar ketika di mobil. Saat Rain membisikkan agar Nichol tetap membuka mata, ia sempat menaruh satu kecupan di pipi kanan lelaki itu, disertai usapan lembut di kepalanya. Nichol sempat membuka mata sepersekian detik, dan benar, kecupan itu yang membuatnya bertahan untuk tidak tenggelam dalam rasa sakit.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang