Rev 16 des
Rev 2 (6/08/25)
🦋🦋
Happy Reading
-
-
-
Rain dan Nichol tiba di rumah Agra sekitar pukul delapan lebih. Sebelumnya, Nichol sempat meminta Rain menunggu Echa dan Bernand pulang dulu. Lalu, di perjalanan mereka terjebak hujan deras, sehingga baru sampai malam ini dengan tubuh yang sudah basah kuyup.
Rain yang kedinginan langsung masuk ke kamar untuk mandi. Sedangkan Nichol masih sempat berbincang sebentar dengan Darrel, yang hendak menjemput Azha di rumah sakit.
Sementara itu, Rissa dan Agra belum juga pulang. Menurut Ambar, mereka pergi ke rumah Eyang untuk menjenguk sekaligus menemani terapi sore tadi. Karena itulah, rumah terasa lebih sepi dari biasanya.
Di luar, hujan belum reda. Suara air yang menetes di atap dan dedaunan membuat suasana semakin dingin. Nichol memilih diam di balkon, duduk bersandar sambil menatap langit yang gelap. Meski pakaiannya sudah lembap, ia enggan masuk kamar. Ia tahu Rain butuh ruang sendiri, jadi Nichol lebih memilih menunggu di luar.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Rain keluar dengan piyama panjang, rambutnya masih setengah kering, namun wajahnya sudah terlihat segar. Gadis itu berjalan pelan menghampiri Nichol.
“Lo mau makan lagi?”
Nichol menggeleng pelan. “Nggak.”
“Mau cokelat hangat?”
Nichol sempat diam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Boleh.”
“Gue bikinin dulu.” Rain pun segera turun ke lantai bawah.
Nichol menarik napas panjang. Rasa dingin yang semakin menusuk kulit, membuatnya tak tahan berlama-lama di balkon. Ia akhirnya masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Air hangat yang mengalir membuat tubuhnya sedikit lega.
Setelah selesai, Nichol membuka lemari milik Rain. Beberapa pakaian sudah tersusun rapi di sana. Ia mengambil celana panjang abu-abu dan kaos kebesaran berwarna navy. Lelaki itu kemudian duduk di tepi ranjang, mengoleskan lotion ke tangannya yang terasa kering karena udara dingin.
Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Nichol sontak terlonjak kaget, hampir menjatuhkan botol lotion tersebut. Ia hendak protes, tetapi segera terdiam ketika melihat Rain masuk dengan wajah memerah. Gadis itu tampak kesal, dan menahan emosi.
“Buat lo,” ucap Rain pelan, meletakkan segelas cokelat panas di meja samping.
Nichol sempat menatap Rain sebentar sebelum berucap singkat, “Thanks.”
Rain langsung menjatuhkan diri ke sofa, meraih cangkir teh hijau dan meneguknya terburu-buru, tanpa peduli asap panas masih mengepul dari permukaan cairan itu. Jemarinya mencengkeram gelas erat, seolah mencoba melampiaskan sesuatu lewat sana.
Nichol baru saja hendak membuka mulut untuk bertanya, ketika ketukan di pintu tiba-tiba terdengar.
“Rain? Sayang, bukan pintunya,” suara Rissa terdengar dari luar.
Nichol menoleh ke Rain. Gadis itu tetap diam dengan rahang mengeras, matanya menunduk dan genggamannya di cangkir makin kuat.
“Rain?” ketukan kembali terdengar, kali ini lebih cepat terkesan mendesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Roman pour AdolescentsFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
