FOLLOW SEBELUM MEMBACA!
Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan.
Rain memutuskan untuk meni...
Tidak ada guru yang masuk sekarang, mungkin sampai nanti jam pulang. Mereka hanya ditugaskan untuk merangkum dan membaca materi saja, karena guru yang seharusnya mengajar sedang menghadiri rapat bulanan.
Seperti kejadian tadi pagi, hal konyol itu terulang lagi. Kaos kaki bekas yang entah kenapa masih ada di kelas kini berpindah tangan. Sekarang, biang keroknya adalah Mino. Dengan wajah tanpa rasa jijik, ia mengibaskan benda itu, lalu melemparkannya ke teman lain. Teriakan dan tawa pecah di seluruh ruangan.
Sementara Andra, Cassie, dan Stefy ikut terbahak berlarian bersama Mino. Rain justru rebah santai di kursinya, jari-jarinya sibuk men-scroll layar ponsel, memilih lagu yang pas untuk menutupi kebisingan.
Baru saja ia tenggelam dalam dentuman musik, ponselnya bergetar. Nama di layar membuat wajahnya seketika berubah masam.
Tante Pelakoris Calling...
Rain mendengus kesal. Tanpa pikir panjang, ia segera menekan tombol 'reject'. Belum sempat menarik napas lega, panggilan itu muncul lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Rain tetap mengabaikannya. Ia tahu persis, tidak ada hal penting dari wanita itu. Biasanya Rissa hanya menelepon untuk hal-hal sepele, rumah sedang kosong, Ambar pulang sebentar, atau kunci rumah ditaruh di pot rahasia. Hal-hal remeh yang tidak perlu telepon berkali-kali.
Namun, begitu notifikasi chat masuk, matanya tiba-tiba membesar. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia spontan duduk tegak, membuat earphone seketika terlepas dari salah satu telinga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa pikir panjang, Rain langsung membereskan semua barang-barang yang tadi sempat ia keluarkan di atas meja. Tangannya sedikit gemetar, dengan wajah pucat. Jika ini menyangkut Eyang, maka tak ada yang lebih penting dari itu.
Mino yang duduk tak jauh darinya pun sama, raut muka berubah drastis. Ada kekhawatiran nyata di sorot mata lelaki tersebut, saat ia buru-buru ikut membereskan buku-bukunya.
Andra yang melihat ekspresi panik Rain, spontan menghampiri. Cassie dan Stefy pun ikut menyusul dengan wajah penuh tanya.
"Mau ke mana, Ra?" tanya Andra.
"Ke rumah sakit," jawab Rain singkat tanpa menoleh.