7 - Eyang

1.3K 581 178
                                        

JANGAN LUPA VOTE KOMEN YA
FOLLOW JUGA AKUN AKU
🦋
REVISI 4 DES
🦋

Rev 2 (17/08/25)

Happy Reading



Hampir sepanjang perjalanan, Rain duduk diam di mobil, menatap keluar jendela tanpa menjawab atau menanyakan apapun pada Agra. Pikiran gadis itu berputar sendiri, campur aduk antara kaget, kesal, dan bingung.

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Rain langsung membuka pintu dan berlari ke lantai atas menuju kamarnya, melewati Azha yang berada di ruang tengah dengan pertanyaan yang tak niat ia jawab.

Di ruang tengah, Azha yang berprofesi sebagai Dokter, masih sibuk menyiapkan barang-barangnya ke dalam tas. “Rain, kenapa?” tanyanya pelan ketika Agra dan Rissa masuk ke rumah.

Agra tak menjawab. Ia hanya menatap ke arah tangga, kemudian bergegas menyusul Rain ke kamarnya. Rissa mengikuti perlahan, sementara Azha yang penasaran tetap tinggal di belakang, menatap dengan campuran heran dan khawatir.

Sedangkan di dalam kamar, Rain tampak mondar-mandir sambil mengoceh tak tentu arah. Bisa-bisanya Agra mempunyai pemikiran gila untuk menjodohkannya dengan lelaki yang bahkan belum ia kenal asal-usulnya.

Dari luar, terdengar desah Agra. Ia menahan sabar, lalu masuk ke kamar tanpa menunggu izin, diikuti Rissa yang ingin menenangkan gadis itu. Dan Azha menyusul karena penasaran.

“Papa kenapa sih? Maksudnya apa?!” bentak Rain ketika melihat Agra masuk. Semua emosi yang ia tahan sejak di mobil pecah begitu saja.

“Papa bisa jelasin, Rain,” jawab Agra berusaha menenangkan putrinya.

Azha menatap Rissa seolah bertanya, ada apa, sementara Rissa hanya menggeleng kecil.

“Kenapa pake jodohin Rain segala sih, Pa? Rain gak mau! Rain masih kecil! Masih minor! Papa gak bisa main nikahin Rain gitu aja! Rain juga masih sekolah! Mikir sedikit dong, Pa!” suara Rain meninggi. Saat emosi, gadis itu memang susah mengontrol ucapan, apalagi pada orang tuanya. Wajahnya memerah, menatap tajam ke arah Agra.

Azha, yang baru ngerti masalahnya, menatap Agra dan Rissa dengan mata terbelalak.

Agra menarik napas, berusaha agar tak balik marah. “Tapi ini demi Eyang, Rain! Kamu nggak sayang sama dia?”

“Gak usah bawa-bawa Eyang!” balas Rain keras. “Ini urusan Papa sama Rain! Rain masih punya masa depan sendiri yang pengen Rain bangun. Rain gak mau kuliah tapi pengen kerja, pengen ke luar negeri, pengen traveling, pengen ketemu Jad dan Jadda di Arab. Masih banyak mimpi Rain! Papa gak sayang sama Rain sampai mau nikahin Rain di usia yang dua puluh juga belum? Yang bener kenapa sih Pa!”

Rain menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan amarah yang masih menggebu-gebu. Air mata sempat menetes tapi segera ia hapus agar yang lain tak melihat. Gadis itu lalu duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit menggigil karena emosi yang belum reda.

Rissa menghampiri dan duduk di sampingnya, tapi tak berani menyentuh, takut jika gadis itu meledak lagi.

Agra menarik kursi dari meja belajar Rain dan duduk di depannya. “Oke, gini. Papa gak bermaksud menahan atau memutus mimpi kamu. Tapi Rain, ini demi Eyang. Kamu kan tau Eyang sakit, dan soal vonis dokter… Kalau Eyang pergi sebelum janji itu ditepati, gimana? Itu bikin Eyang keberatan. Makanya Papa mohon sama ka—”

Belum sempat Agra menyelesaikan kalimatnya, Rain segera memotong dengan cepat. “Kalau masalah jodoh-jodohin, kenapa gak kak Azha aja yang udah dewasa? Dia kan bisa nikah sama Nichol. Kenapa harus Rain yang masih sekolah?”

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang