Rev 23 jan
Rev 2 [19/12/25]
- semoga suka versi barunya -
Hampir 98% ALUR di UBAH
🦋🦋
Happy Reading
-
-
-
Nichol kini sudah berada di rumah, tepatnya di rumah Echa yang terletak di kawasan Malibu, daerah yang menurut Rayn lebih pantas disebut perumahan elit, karena hampir seluruh penghuninya adalah orang-orang berada.
Dengan bantuan Rain, Nichol perlahan duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris tertahan di setiap inci perpindahan. Dokter mengatakan kondisinya memang sudah membaik, namun ia masih harus menggunakan kruk untuk berjalan.
Setelah dua hari dirawat, kaki kirinya kini terpasang walking boot. Meski pergerakannya sedikit lebih leluasa, rasa berat dan nyeri masih menusuk setiap kali ia memaksakan diri melangkah.
Bagian dadanya pun belum sepenuhnya pulih. Bekas injakan yang sempat membuatnya memar masih terlihat jelas. Elastic chest binder melilit tulang rusuknya, menahan pergerakan agar tidak memperparah kondisi. Namun tetap saja, setiap tarikan napas yang terlalu dalam langsung disambut rasa perih tajam, seperti pecahan kaca yang menekan dari dasar.
Nichol memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas agar tetap pelan dan stabil. Pelipis kirinya yang sempat sobek kini sudah dijahit rapi, meski bekasnya masih tampak kemerahan, sedikit bengkak, dengan memar kebiruan yang mulai berubah kekuningan. Bahkan sisa pukulan di bawah matanya pun masih terlihat samar, cukup mencolok untuk membuat wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari pertempuran hidup dan mati.
Rain memperhatikannya tanpa berkedip. Di wajahnya tergambar kekhawatiran yang bercampur sedih, perasaan yang ia pendam sejak kejadian malam itu.
“Masih sakit ya dadanya?” tanya Rain pelan. Tangannya terangkat sedikit, menyentuh area dada Nichol dengan hati-hati, seolah takut gerakan sekecil apa pun bisa membuat rasa nyerinya bertambah.
Nichol menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Cuma kalau narik napas… masih kerasa.”
Rain menarik selimut Nichol, menaikkannya hingga menutup bagian dada dengan lebih rapat, gerakan wanita itu lembut dan penuh perhatian.
“Dokter bilang lo harus istirahat total beberapa hari ke depan,” ucap Rain. “Mama juga udah kirim surat izin sakit ke sekolah. Jadi lo gak usah mikirin apa-apa dulu.”
Nichol menatap Rain sejenak, lalu menarik tangan istrinya pelan, memberi isyarat agar Rain ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya.
Rain menurut. Ia naik perlahan ke atas bed, mengambil posisi di sisi Nichol dengan hati-hati. Begitu Rain sudah berbaring, Nichol merangkulnya pelan, memeluk dari samping meski gerakannya terbatas. Satu lengan lelaki itu berhenti sebentar di area dada, seolah menahan rasa nyeri sebelum akhirnya benar-benar mendekap.
Anehnya, rasa sakit itu justru terasa lebih nyata sekarang. Saat malam kejadian, ia hampir tak merasakan apa-apa, entah karena pengaruh obat, atau karena pikirannya terlalu sibuk menikmati momen ketika Rain mencium dirinya.
“Besok gue mau tetap sekolah,” ujar Nichol pelan sambil melirik Rain yang kini bersandar di bahunya. “Ada latihan buat ujian bulan depan.”
Rain langsung menoleh. “Tapi dadanya masih sakit, Nic. Kaki lo juga belum bisa jalan bener.”
“Gue nggak apa-apa, Ra.”
“Nic.” Nada Rain berubah, lebih tegas dan lebih serius.
Nichol terdiam beberapa detik menatap wajah istrinya. Melihat sorot mata itu, ia tahu perdebatan hanya akan berujung panjang. Akhirnya Nichol mengalah, mengangguk kecil sambil terkekeh pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomanceFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
