Rev 16 feb
Rev 2 (24/12/25)
98% alur di ubah
🦋🦋
Happy Reading
•
•
•
Andra sudah berangkat lebih dulu, dijemput Rayn pagi-pagi. Rain sempat bersembunyi di balik pintu, hampir saja ketahuan ketika Rayn duduk di teras dan menoleh ke arah dalam rumah.
Rayn bahkan sempat menyapa Nichol dan mengobrol sebentar sebelum mereka pergi. Kalau tadi Rain benar-benar keluar menyimpan sepatu di tangga, ia pasti bertemu lelaki itu.
Untung saja, masih terselamatkan.
Sekarang Rain duduk di kursi teras, sambil mengenakan sepatu perlahan. Nichol masih di dalam rumah, sibuk mencari kunci motor yang entah di mana ia simpan.
Saat Rain tengah mengusap pinggiran sepatunya dengan tisu, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang.
Rain terdiam. Dada yang tadi terasa kosong, tiba-tiba sesak. Panas. Marah. Jantungnya juga langsung berdetak cepat, tak beraturan.
BMW 530i abu-abu gelap. Ia hapal betul mobil itu.
Agra turun dari dalam sana, dengan setelan jas rapi seperti biasa. Di sampingnya, Rissa ikut berjalan sambil menggenggam tas cokelat.
Mereka melangkah masuk ke halaman rumah Bernand. Begitu melihat Rain yang berpura-pura fokus pada sepatunya, langkah Agra otomatis berubah cepat.
“Sayang… Rain?” suaranya pelan, penuh penyesalan. Ia langsung berjongkok dengan kedua tangan bertumpu di lutut Rain, seolah ingin memastikan bahwa putrinya benar-benar ada di sana.
Dari dalam rumah, Nichol yang akhirnya menemukan kunci motor keluar. Langkah kakinya terhenti begitu melihat Agra dan Rissa berdiri di sana.
“Pa?” panggilnya pelan.
Agra menoleh, dan tanpa pikir panjang, ia berdiri lalu memeluk Nichol erat.
“Nichol… maafin Papa, Nak,” bisiknya serak sambil mengusap punggung menantunya.
Nichol kaku. Kedua tangannya tetap terkulai di sisi tubuh. Tinggi mereka hampir sama, membuat wajah Nichol tepat berada di bahu Agra.
Rissa berdiri tak jauh dari sana, menahan air mata yang mulai menggenang.
Sementara itu, Rain masih menunduk, kedua tangan kaku bertumpu di paha. Kepalanya berputar. Ingatan kemarin kembali menghantam, suara bentakan, tatapan marah, pembelaan untuk orang lain, bahkan tangan yang hampir terangkat ke wajahnya.
Lukanya belum kering. Dan kini, rasanya seperti disobek lagi. Apalagi sekarang ada Rissa yang malah ikut. Semuanya terasa lebih sesak.
“Papa gak bermaksud ngusir kalian. Papa gak bermaksud mau nampar Rain, putri Papa… istri kamu,” suara Agra bergetar. “Papa khilaf, Nichol. Maafin Papa.”
Akhirnya Nichol perlahan mengangkat tangan untuk membalas pelukan itu, meski kikuk, dan bingung harus menjawab atau berkata apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
