2 - Andra

2K 681 355
                                        

Budayakan vote sebelum membaca.

Revisi (19 10 23)

Revisi 2 (11 09 24)

Revisi 3 (14 03 25)

Happy Reading 🥂

---------

Mereka melangkah menuju kelas dengan santai. XII IPA 2, kelas yang terkenal bukan karena prestasi, tetapi karena reputasi buruknya. Hampir semua guru sepakat bahwa kelas itu adalah yang paling berisik, paling sulit diatur, dan penuh dengan siswa yang gemar membolos.

Sebagian besar kekacauan berasal dari Rain dan gengnya. Namun aneh, Rain adalah ketua kelas, meskipun lebih tepat disebut ketua kelas bejat.

Ia menjalankan perannya sesuka hati. Jika ada yang bertengkar, ia hanya akan menonton tanpa niat melerai. Jika ada tugas yang harus dikumpulkan, ia akan berkata, "Nanti aja kerjainnya di rumah, tugasnya gampang kok."

Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana Rain bisa menjadi ketua kelas. Mungkin karena pilihan random yang teman-temannya lakukan.

"Sorry. Gue mau nanya."

Langkah Rain terhenti. Suara asing itu terdengar santai, tapi tetap menuntut perhatian.

Seorang lelaki berdiri di belakangnya, tinggi, berkulit pucat, dengan rambut chestnut brown highlights yang berantakan. Kerah seragam longgar, cukup terbuka untuk memperlihatkan separuh tato di dadanya. Sneakers cosmic latte di kakinya tampak mencolok dibanding gaya kasualnya yang acak-acakan.

Rain menoleh, begitu juga Stefy dan Cassie. Mata mereka menelusuri sosok tersebut, tapi Stefy justru terpaku pada dada bidang lelaki itu.

Merasa diperhatikan, ia dengan cepat membetulkan kerahnya, menutupi gambar sayap burung yang terukir, bersama simbol-simbol lain yang samar terlihat.

"Ruang TU... Tata Usaha, di mana?" tanyanya singkat.

Rain menaikkan sebelah alis, melirik gedung dekat lapangan olahraga, lalu tanpa sepatah kata pun, ia berbalik pergi.

"Lo nggak denger gue tanya apa?"

Tak di hiraukan.

"Lo budek ya?"

Kata itu cukup lantang. Beberapa siswa yang masih berkeliaran setelah upacara langsung menoleh, sensing something interesting.

Perlahan, Rain membalikkan badan. Tatapan tajam dan ekspresi sinisnya kini tertuju pada lelaki itu. Ia melangkah mendekat, sengaja memperkecil jarak.

"Lo sebut gue apa barusan? 'Budek'? Maksud lo?"

Dua hari tanpa onar, dan kini... seluruh anak Nusantara I akhirnya mendapat hiburan. Siswa-siswi di sekitar lapangan berpura-pura sibuk, tapi mata mereka jelas tak ingin melewatkan apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

"Lo barusan nggak denger kan gue ngomong apa? Gue nanya, ruang TU di mana!" lelaki itu membalas tatapan Rain tak kalah tajam.

Rain mendengus, lalu menunjuk ke belakang lelaki itu dengan nada tinggi. "Bukannya udah gue jawab? Yang di belakang lo apa? Nggak bisa liat?!"

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang