13 - Married

1K 375 63
                                        

Rev 12 des

Rev 2 (26/08/25)

Semoga suka versi barunya ya!

🦋🦋

Happy Reading
-
-
-


Karena rencana tadi subuh gagal, maka itu tandanya.. pernikahan Rain dan Nichol benar-benar terjadi.

Yang hadir hanya keluarga inti. Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Nichol kini telah duduk tegap di kursi akad, wajahnya tegang, siap.. atau lebih tepatnya dipaksa siap, mengucapkan ijab kabul.

Tamu undangan mulai memenuhi ruangan. Andra duduk di barisan depan bersama Bernand, Echa, Eyang, Mino, Rissa, Azha, Alyssa dan beberapa kerabat dekat lain.

Sejak menjejakkan kaki di tempat ini, tubuh Nichol sama sekali tak bisa rileks. Tangannya gemetar, pikirannya berkelana ke mana-mana, jantungnya berdegup tak karuan. Maklum, ini kali pertama untuknya.

Kali pertama? Jangan-jangan ia berharap ada yang kedua?

Lelaki itu bahkan tak berani menatap gadis bergaun putih di sampingnya. Hanya dengan ekor mata, ia bisa melihat tangan Rain yang juga gemetar di bawah meja. Sesekali, Nichol melirik, namun segera mengalihkan pandangan ketika Agra berdeham.

“Ananda Nichol, apakah sudah siap?” suara pak penghulu membuat tubuhnya makin kaku.

Nichol menoleh cepat ke arah Bernand, seakan meminta pertolongan. Namun ayahnya tersebut hanya tersenyum dan memberi dua jempol, tanda dukungan yang terasa menekan daripada menenangkan.

Rain menunduk dalam. Kalau saja bisa, ia ingin berlari jauh dari sini, meninggalkan semua yang tak pernah ia rencanakan.

“Ananda Nichol, mari jabat tangan Pak Agra.”

Agra menyambut uluran tangan itu dengan senyum kecil. Namun ia bisa merasakan telapak dingin Nichol yang hampir tak bertenaga. Nichol menutup mata sebentar. Jujur saja, ia tak pernah membayangkan hari ini akan datang begitu cepat.

Di kepalanya, Nichol pernah merancang, ia akan menikah di usia dua lima, saat sudah mapan, dengan perempuan yang benar-benar ia cintai. Bukan seperti ini, menikah karena keterpaksaan, di usia yang bahkan belum genap dua puluh tahun.

“Pak Agra, apakah Bapak siap?” tanya penghulu.

“Saya siap.”

Nichol dan Agra saling bertukar pandang sebelum prosesi dimulai.

“Ananda Nichol Ardhan Jones bin Bernand Jones, saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan putri kandung saya, Rain Annatasha binti Agra Dewantara, dengan mas kawin berupa uang tunai senilai empat ribu dolar Kanada dan perhiasan cincin dua puluh karat, dibayar tunai.”

Nichol terdiam sejenak. Matanya terpejam dengan napas berat. Ia tidak yakin, tapi jika ini takdir yang dipilihkan untuknya, bagaimana lagi.

Dengan suara bergetar namun lantang, ia menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya, Rain Annatasha binti Agra Dewantara, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi?”

“SAH!” serempak hadirin menjawab.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang