12 - Failed

972 359 60
                                        

Rev 10 des

Rev 2 (23/08/25)

🧚‍♀️🧚‍♂️

Happy Reading
-
-
-


Hari ini adalah hari pernikahan Azha dan Darrel, tunangannya yang berprofesi sebagai pilot. Besok, giliran Nichol dan Rain yang akan melangsungkan akad.

Pernikahan Azha bisa dibilang sederhana, namun juga terkesan mewah, karena diselenggarakan di salah satu hotel milik sepupu Eyang. Undangan yang disebarkan pun mencapai puluhan ribu, dihadiri keluarga besar, kerabat, hingga teman-teman dari luar negeri.

Tak heran, sebab Darrel menempuh pendidikannya di University of North Dakota, Amerika Serikat. Dari situlah ia memiliki banyak teman lintas negara, ditambah lagi profesinya yang terpandang.

Dulu, setiap kali ditanya bagaimana bisa berkenalan dengan Darrel, Azha selalu bercanda, "kalau mau tunangan pilot harus sering nongkrong di langit."

Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana, hubungan mereka berawal dari pesan salah nomor. Azha tak sengaja menghubungi Darrel, lalu obrolan itu pun berlanjut, mendekatkan mereka, hingga akhirnya hari ini mereka menikah.

Berbeda dengan Azha, pernikahan Rain dan Nichol besok hanya akan dihadiri keluarga inti. Mereka memilih merahasiakan acara itu, tak ingin teman-teman ataupun guru-guru di sekolah mengetahui kabar tersebut.

"Azha, kamu sudah siap, sayang? Kita ke depan." Alyssa menggandeng tangan Azha, menuntunnya keluar dari ruang rias.

Tak lama kemudian, prosesi dimulai. Azha dan Darrel mengucap janji, menerima doa, lalu menyalami para tamu. Semua berlangsung khidmat.

Eyang tak berhenti menangis sejak akad dimulai. Berkali-kali keluarga menenangkan. Namun katanya, ia terharu karena masih diberi kesempatan menyaksikan cucu perempuannya menikah.

Rain ikut bahagia, tapi hatinya terasa agak berat. Jika saja Daneen masih ada, pasti ia yang akan menuntun Azha ke Darrel. Ia yang akan duduk di sisi Agra, memberikan restu serta doa, bukan Rissa.

Karena perasaan tersebut membuat Rain tak betah. Ia memilih keluar dari keramaian, naik lift menuju rooftop hotel. Udara panas bercampur angin siang menyambutnya. Dari atas, ia menatap deretan gedung-gedung tinggi Jakarta, sambim mencoba menenangkan hati.

Namun tetap saja, rasa sesak tak hilang. Pernikahannya dengan Nichol sudah di depan mata, seberapa keras ia menolak, ia tahu takdir tetap menyeretnya ke sana. Rencana masa depan harus ia rombak, belum lagi desakan Eyang yang terus memintanya melanjutkan kuliah. Semua terasa menekan.

Empat tahun sejak kepergian Daneen, beban hidup kian berat. Rain sering bertanya pada dirinya sendiri: andai Daneen ada, apa ia tak akan dijodohkan? Apa Agra tetap menyayanginya? Apa Eyang tak akan memaksa?

Entahlah.

Sendirian di rooftop, Rain menikmati hembusan angin. Setidaknya, menatap kokohnya gedung-gedung pencakar langit bisa sedikit menenangkan pikiran.

Hingga tiba-tiba, sesuatu jatuh membuatnya kaget. Ia menoleh. Seorang pria bertuxedo hitam sedang berjongkok mengambil kacamatanya yang terlempar. Rain terdiam, nyaris menganga tatkala melihat siapa itu.

"Lo ngapain di sini?" tanya Rain, menatap lelaki yang berdiri beberapa meter darinya.

Yang tak lain adalah, Nichol.

"Lo sendiri ngapain?" balas Nichol santai. Di tangannya, ada sebatang rokok yang tinggal separuh. Dari situ Rain bisa menebak, Nichol sudah nongkrong di sini cukup lama.

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang