Rev 10 agustus
Rev 2 (19/02/26)
🦋🦋
99% alur di ubah
🌨🌨
Happy Reading
•
•
•
Hari keempat ujian akhir semester akhirnya tiba, dan besok adalah ujian terakhir. Selama beberapa hari mengerjakan ujian, Nichol lebih banyak diam dan tidak fokus. Ia mengerjakan soal sekadarnya, tanpa benar-benar memikirkan jawaban, bahkan untuk belajar pun nyaris tidak ia lakukan.
Buku-buku hanya terbuka di meja, tetapi tak pernah dibaca. Perbedaannya terlihat jelas dibanding biasanya. Sejak pulang dari dokter, ia menjadi jauh lebih pendiam dan sering melamun, tatapannya kosong seperti pikirannya terus pergi ke tempat lain.
Rain sempat bertanya apa yang terjadi, namun Nichol hanya menjawab kalau ia lelah. Andra, Asti, dan beberapa temannya juga beberapa kali menuntut penjelasan, mencoba memaksanya bercerita seperti dulu, tetapi ia tetap memilih diam dan berdalih pusing karena harus mempersiapkan ujian.
Alasan itu cukup masuk akal sehingga tak ada yang curiga lebih jauh. Padahal sebenarnya ia hanya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.
Di hari Selasa kemarin, Nichol sempat menghubungi Amy. Mereka saling mengabari lewat pesan chat cukup lama, dan untuk pertama kalinya Nichol memberitahukan kondisinya dengan jujur, termasuk potongan ingatan terbaru yang muncul, dirinya dan Aina berjalan menyusuri lorong apartemen Eric dengan ekspresi tegang malam itu.
Dan baru saja, Amy kembali mengirim pesan. Kali ini isinya membuat jantung Nichol berdebar dua kali lebih cepat, perutnya terasa kosong, dan tangannya dingin. Amy bilang ada berita terbaru tentang kasus di Kanada.
Beberapa hari terakhir Nichol memang sengaja menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan tempat itu. Ia tidak membuka media sosial, mematikan notifikasi berita, bahkan menonaktifkan beberapa akun, seolah-olah dengan tidak melihat apa pun ia bisa lari dari rasa takut yang terus mengejarnya. Namun tetap saja, setiap kali nama Kanada disebut, dadanya terasa sesak tanpa alasan jelas.
Sekarang ia duduk sendirian di kursi kayu di samping lapangan sekolah. Ujian baru saja selesai beberapa menit lalu. Anak-anak menyebar entah ke mana, sebagian pulang, sebagian lagi masih mengobrol sambil membahas jawaban dengan suara riuh.
Angin siang berembus pelan, membawa aroma rumput dan debu, tetapi Nichol sama sekali tidak merasa tenang. Ia menelan saliva dan mencoba mengatur napasnya, berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, meski perasaan berat di dadanya tak kunjung hilang. Ada ketakutan aneh yang terus menggantung, seperti firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan.
Di tengah pikirannya yang berantakan, suara ocehan khas tiba-tiba terdengar dari belakang. Rayn, Daffa, dan Efline menghampiri sambil menepuk punggungnya santai seperti biasa.
“Lo ngapain sendiri di sini, anjir?” Daffa mencolek telinga Nichol pelan.
“Nolep banget, dah,” Rayn ikut menimbrung sambil tertawa kecil, lalu menjatuhkan diri duduk di beton dekat kaki mereka.
Efline berdiri sebentar menatap Nichol lebih lama dibanding dua temannya yang lain, ekspresinya jauh lebih serius. “Lo kenapa sih, Nic? Kok diem terus dari kemarin-kemarin?”
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Fiksyen RemajaFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
