15 - Stefy (II)

1K 356 56
                                        

Rev 16

Rev 2 (29/08/25)

--

🌨 follow akun aku yaaa <3 🌨

Happy Reading
-
-
-


"Lo pikir gue mau ngebiarin lo gitu aja, hah?!" Stefy mendesis, matanya menyalak penuh kebencian. "Lo pikir lo bisa hidup bebas setelah apa yang lo lakuin ke keluarga gue? Jangan mimpi lo, Lea!"

Suara Stefy menggema keras di kantin yang masih setengah kosong. Dentingan sendok dan garpu dari meja di ujung, yang diisi oleh anak-anak pembolos tiba-tiba terhenti.

Lea mengepalkan tangan, wajahnya memerah. "Gue bilang, gue udah kembaliin semua yang bokap lo kasih! Gue juga udah minta maaf! Apa lagi yang lo mau dari gue?!" teriaknya, kali ini tak kalah lantang.

Stefy melangkah maju, Rain otomatis ikut bergerak, berdiri setengah menghalangi. Cassie menelan cepat sisa baksonya, sedangkan Andra ikut berdiri di sisi lain gadis itu, siap berjaga kalau-kalau situasi makin parah.

"Kebahagiaan gue!" suara Stefy bergetar. "Kebahagiaan gue lo renggut gitu aja! Lo pikir dengan minta maaf, semua kelar, hah?!"

Langkah Stefy makin dekat, jarak mereka tinggal sejengkal. Rain meraih lengan sahabatnya, tapi Stefy menepis dengan kasar.

"Kalau aja lo gak deketin si Bagas..." Stefy hampir meludahkan nama ayahnya sendiri dengan jijik, "...dan porotin hartanya, nyokap gue sama dia gak bakal cerai!"

Dari balik meja, ibu kantin hanya menghela napas panjang. Pertengkaran Lea dan Stefy sudah seperti menu tambahan tiap minggu di Nusantara I. Semua orang tahu kisah mereka, rahasia, yang bukan lagi rahasia.

Stefy sendiri teringat, pada percakapan dua siswa kelas sebelas di koridor beberapa bulan lalu. Salah satu dari mereka berkata cukup lantang, "Bokap gue hampir diporotin Lea. Lo tau gak? Dia emang begitu kerjanya."

Awalnya Stefy mengabaikan rumor tersebut, menepisnya sebagai gosip murahan. Namun, semakin lama, kabar tersebut kian sering terdengar, bahkan guru-guru pun sempat memperbincangkannya dengan nada rendah.

Hingga akhirnya, kecurigaan itu terjawab ketika ia melihat bukti langsung di rumah, perselisihan Dania dan Bagas yang makin tak terbantahkan. Dan kini, Lea berdiri di hadapannya, mewujud nyata dari semua gosip yang pernah beredar.

Lea menggertakkan gigi. "Asal lo tau, Stef! Bokap lo duluan yang deketin gue!"

"Terus kenapa lo ladenin?!" sahut Stefy cepat. "Semiskin dan semurah itu lo, sampe rela jadi ani-ani om-om yang udah punya istri dan anak seumuran lo?! Di otak lo isinya cuma duit, kelamin, sama cowok aja, iya?!"

Di wajah Lea, amarah dan malu bercampur. Matanya berkilat, kemudian tangan gadis itu terangkat, menunjuk wajah Stefy dengan gemetar. "Jaga mulut lo!"

Bersamaan dengan itu, suara bel istirahat berbunyi. Gerombolan siswa menyerbu kantin. Suasana yang awalnya sepi, kini kian ramai, oleh karenanya, sorotan mata ke arah mereka menjadi semakin jelas.

"Kenapa? Faktanya kok! Lo tuh emang murah! Makin hari makin keliatan jalangnya, karena bakat lo cuma itu!"

Kata-kata itu menghantam keras. Beberapa siswa yang baru masuk kantin langsung menoleh, melambatkan langkah, sembari spontan menutup mulut dan saling berbisik sambil melirik.

Nama Lea sudah buruk, tapi mendengar Stefy melontarkannya di depan umum, lagi, membuat tensi kantin makin panas.

Rain segera maju, menahan bahu Stefy dan berbisik cepat, "Udah ya, Stef."

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang