42 - Location

710 140 10
                                        

Rev 13 mei

Rev 2 (5/01/26)

[UAS aku belum selesai sih haha, tapi update dulu lah, udah lama ga up]

JANGAN LUPA VOTE KOMEN YA

🦋🦋

100% ALUR DI UBAH

Happy Reading


Nichol membuka matanya perlahan ketika suara ribut mulai masuk ke pendengaran. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruangan berwarna putih, dengan sebuah lampu gantung tepat di tengahnya.

Tubuhnya terasa berat. Ia menyadari dirinya sedang terbaring di atas ranjang berukuran kecil, bantal lembut menyangga kepala, sementara selimut tipis membalut tubuh.

"Lo udah bangun, Nic? Air, Fline. Air."

Suara Rayn terdengar dari dekat. Ia ternyata sudah berada di sana sejak tadi, menunggu Nichol siuman bersama Efline.

Efline yang semula duduk di kursi segera berdiri. Ia mengambil segelas air putih dari atas meja dan menyodorkannya pada Nichol, sementara Rayn membantu Nichol untuk duduk.

"Kok di sini?" tanya Nichol pelan, menerima gelas itu dari tangan Efline.

"Dari tadi. Orang yang ngegotong lo ke sini juga gue," jawab Rayn sambil menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Nichol meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya terasa perih saat cairan bening tersebut melewatinya, tapi setidaknya kepalanya kini terasa sedikit lebih ringan. Pandangannya pun sudah kembali jelas.

"Di luar masih upacara?" tanyanya lagi.

Rayn mengangguk. "Biasalah. Kalau Pak Rama yang ngasih amanat, waktunya gak pernah cukup dua jam."

Nichol mengalihkan pandangan ke Efline. "Terus lo? Bukannya lo bilang gak bakal masuk sekolah hari ini?"

"Tadinya, iya," jawab Efline santai. "Cuma nyokap gue ceramah. Jadi ya udah, berangkat aja, tanpa mandi, of course."

Ia merebahkan tubuhnya di kursi panjang dengan ekspresi setengah bangga, setengah bersalah.

Nichol kembali berbaring setelah meletakkan gelas kosong di atas nakas. Baru sebentar duduk, tapi kepalanya sudah kembali terasa pusing, dan lebih berat dari sebelumnya. Ia lalu menarik selimut hingga menutupi dada.

Pikirannya melayang ke kejadian sekitar setengah jam lalu. Saat ia masih di kelas, mendengar teman-temannya membicarakan sebuah kasus di Kanada. Saat ia mengirim pesan pada Andra. Saat ia berlari menuruni anak tangga, melewati beberapa guru. Hingga akhirnya, tanpa peringatan apa pun, penglihatannya menggelap dan ia tak lagi bisa melihat apa-apa.

Nichol menghela napas pelan. Baiklah, ia menyimpulkan satu hal, dirinya sedang sakit.

"Lo kena masalah, Nic." ucapan Rayn membuyarkan lamunan Nichol.

"Masalah?" ulangnya pelan.

"Tatto. Pak Kepala nelpon bokap lo, minta ke sini. Cuma kata Andra bokap lo lagi di Bali. Jadi urusannya dibahas lewat telepon."

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang