33 - Covered Up

668 131 29
                                        

Rev 29 mar

Rev (25/12/25)

97% alur di ubah

🦋🦋

Happy Reading


Kantin sudah dipenuhi banyak murid dari berbagai kelas dan angkatan. Riuh suara obrolan bercampur dengan dentingan sendok, bunyi kursi diseret, dan teriakan ibu penjual yang memanggil pesanan. Aroma gorengan dan mi instan juga tercium memenuhi udara.

Di meja tengah dekat tembok penyangga, hanya dua orang yang duduk, Cassie dan Stefy. Andra entah pergi ke mana, sementara Rain memilih tetap diam di kelas.

Cassie dan Stefy menikmati makanan sambil sesekali bercanda dan terkekeh kecil di antara suapan. Tak jauh dari tempat mereka, di meja yang berbeda, Nichol, Efline, Daffa, dan Rayn melakukan hal yang sama, meski dengan tingkat kebisingan yang jauh berbeda.

Keempat lelaki itu tertawa terbahak-bahak karena lelucon Efline yang bahkan terdengar setengah ngaco. Daffa sampai membungkuk ke depan, sementara Rayn memukul meja berkali-kali. Nichol ikut tertawa, meski alisnya sempat berkerut, karena tak sepenuhnya paham dengan jokes dewasa yang dibawakan.

“Udah ah, anjir. Cape,” keluh Daffa sambil memegangi perutnya yang terasa perih akibat terlalu banyak tergelak.

“Dia nih, kalau dapet ide gak kira-kira,” sambung Rayn, masih tertawa sambil menyedot minuman miliknya.

“Ada nih, ada satu lagi. Denger ya, denger…” Efline merapatkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu pada ketiga orang itu.

Tak lama kemudian, Daffa, Nichol, dan Rayn kembali terbahak keras. Beberapa dari mereka sampai memukul meja tanpa sadar. Efline pun ikut tertawa, sangat terlihat puas dengan leluconnya sendiri.

“Anjing! Gila lo, Fline!” Daffa nyaris jatuh dari kursinya. Tubuh lelaki itu lemas, keringat keluar, dengan napas yang pendek-pendek.

“Dari mana sih anjir, dapet gituan?” Nichol meraih gelas es jeruk yang tinggal setengah dan meneguknya cepat.

Efline menyeka sudut matanya yang basah karena terkikik. “X. Alias Twitter.”

“Pantes,” Rayn mendengus. “Lo kebanyakan baca X. Otak lo sengklek.”

Efline menoleh tajam. “Kalau gue nggak baca X, gue baca apaan, bangsat?”

“Katalog diskon Indomaret misalnya.”

Pilus melayang dari tangan Efline.

“Asu!”

Daffa dan Nichol langsung pecah lagi, sementara Rayn mengelus lengannya yang terkena pilus dramatis sambil nyengir kesal.

Beberapa detik kemudian, tawa mereka mereda. Mereka berempat terdiam beberapa detik, mencoba menormalkan napas masing-masing. Nichol sibuk menghabiskan minumannya, Rayn fokus menghabiskan makanan, Daffa diam sambil menyandarkan punggung ke kursi. Namun, di tengah keheningan singkat itu, Efline tiba-tiba menatap ketiga temannya dengan ekspresi serius.

“Apa lagi nih orang?” Rayn menyahut dengan nada curiga, matanya menyipit ke arah lelaki itu.

Efline menggeser posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi, lalu memperhatikan mereka satu per satu. Ada jeda singkat, yang membuat Daffa dan Rayn yakin, jika lelaki satu ini tengah merencanakan sesuatu absurd.

“Gue punya pertanyaan,” katanya akhirnya. “Ini serius.”

Daffa menghentikan gerakan makannya. Sendok menggantung di udara sebelum ia menoleh. “Kenapa?”

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang