38 - Nichol, The Man You Are

691 135 9
                                        

Rev 29 apr

Rev 2 (29/12/25)

🦋🦋
97% di ubah

Happy Reading

Libur karena tanggal merah. Seharian itu, Andra, Rain, Nichol, bahkan Bi Asti dan Pak Adang memilih berdiam di rumah, menghabiskan waktu dengan permainan ala mereka sendiri.

Sejak pagi, setelah beres-beres dan bersantai sejenak, Andra mengajak semuanya bermain Jenga. Permainan itu berlanjut ke kartu truth or dare, di mana Nichol terlalu sering melakukan hal-hal absurd hingga membuat yang lain tak berhenti tertawa. Setelahnya, mereka mencoba Russian roulette versi aman, cup-cup diisi minuman aneh racikan Asti, lalu cup stack challenge, dan ditutup dengan estafet tepung hasil ide Nichol yang, seperti biasa, berujung kacau.

Tawa memenuhi rumah itu. Beberapa kali Rain kalah dan harus menerima hukuman, namun di saat-saat tertentu, Nichol justru dengan santainya mengambil alih hukuman tersebut, melakukan hal-hal romantis kecil yang membuat Rain hanya bisa tersenyum malu sambil menahan tawa.

Di sana pula Rain akhirnya benar-benar melihat kedekatan keluarga ini. Nichol ternyata sangat dekat dengan Andra, mereka saling bercanda, saling membully tanpa sungkan, bahkan sesekali mencampur bahasa Indonesia dan Inggris saat emosi atau terlalu berisik karena tergelak. Dorong-dorongan kecil pun tak terhindarkan setiap kali salah satu dari mereka melakukan hal konyol.

Bukan hanya itu, Rain juga menyadari betapa dekatnya Nichol dan Andra dengan Asti dan Adang. Keduanya tak pernah dianggap sebagai pekerja rumah. Mereka diperlakukan layaknya keluarga. Rain baru tahu bahwa sejak kepindahan mereka dari Kanada ke Bali, Asti dan Adang telah lama bekerja bersama keluarga ini. Setiap kali Bernand atau Echa pergi, merekalah yang menjaga juga menemani Nichol dan Andra.

Permainan terakhir, estafet tepung, berubah menjadi kekacauan total ketika Nichol dan Adang mengambil selang dan mulai menyemprotkan air ke segala arah. Baju mereka kotor, rambut basah, dan tawa semakin pecah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersih-bersih.

Nichol memilih mandi di kamar mandi sebelah, membiarkan Rain menggunakan kamar mandi miliknya yang berada di dalam kamar. Tanpa banyak kata, keputusannya terasa begitu natural.

Lelaki itu memang jangan diuji jika soal kesetiaan dan sikap gentlenya. Dalam hal itu, siapa pun akan kalah.

Jam menunjukkan pukul setengah lima sore ketika Rain baru saja selesai berdandan. Tak lama kemudian, Nichol masuk ke kamar yang sudah rapi, rambutnya masih sedikit lembap, aroma sabun ikut terbawa bersamanya.

Tatapan mereka bertemu sejenak. Nichol lalu berjalan mendekat ke arah Rain yang tengah duduk di kursi belajar, sibuk membereskan tas sekolahnya.

"Vitaminnya udah diminum?" tanya Nichol.

"Udah."

"Ra." Nichol berjongkok di hadapan istrinya, menatap wajah Rain dari jarak dekat.

"Hm?"

"Gue mau ketemu temen sebentar, boleh gak?" tanyanya hati-hati.

"Lama?" Rain menatapnya balik.

"Nggak tau... kayaknya iya."

"Sampe malem? Terus pulang-pulang babak belur kayak kemarin lagi?"

Nichol terdiam sesaat. "Itu kan nggak sengaja," ujarnya, lalu menggenggam tangan Rain yang bertumpu di atas lututnya. "Gue perginya bukan ke kafe. Gue mau ke warung kopi punya temen gue, baru buka di daerah Cempaka, deket rumah Efline."

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang