39 - Shrimp

667 136 10
                                        

Rev 30 apr

Rev 2 (3/01/26)

🦋🦋

97% alur di ubah

Happy Reading


Rain bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Seisi rumah masih sunyi ketika ia mulai mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci pakaian, menyetrika seragam Nichol, lalu turun ke dapur membantu Asti dan Andra menyiapkan sarapan.

Hari ini sebenarnya masih libur. Namun Rain merasa, sejak ia menikah, ada peran yang ingin ia jalani sepenuh hati. Bukan karena tuntutan, melainkan karena keinginannya sendiri. Ia ingin bersikap layaknya seorang istri, melakukan hal-hal kecil yang menurutnya mampu menyempurnakan kebersamaan mereka.

Nichol sempat ikut membantu. Ia mengeringkan pakaian, mencuci piring, lalu setelah semuanya selesai, lelaki itu merebahkan diri di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi, dan bermain ponsel.

Andra, seperti biasa, tak betah berlama-lama di rumah. Gadis itu pergi bersama teman-temannya, pamit pada Nichol dengan alasan ingin ke pantai. Padahal pantai terdekat dari rumah berjarak lebih dari sepuluh kilometer, entahlah, tapi yang pasti, Andra akan pulang larut malam lagi.

Ting...

Suara bel pintu terdengar nyaring, memecah suasana santai di ruang tengah. Nichol yang tengah rebahan hanya melirik sekilas ke arah pintu, memilih menunggu Asti membukanya.

Namun bel kembali berbunyi. Sekali. Dua kali. Hingga keempat kalinya, sementara Asti masih terdengar sibuk di area belakang rumah.

Nichol akhirnya bangkit duduk, menyimpan ponselnya. Baru saja hendak berdiri, Rain muncul dari arah tangga dan menatapnya singkat.

"Kenapa nggak dibuka?" tanyanya sambil melangkah ke arah pintu.

Nichol hanya menyengir, lalu kembali merebahkan diri di sofa tersebut, membiarkan Rain yang mengecek siapa tamu di pagi itu.

Begitu pintu terbuka, ekspresi Rain langsung berubah. Senyumnya lenyap, digantikan raut masam yang nyaris tak disembunyikan.

"Ngapain ke sini?" ucapnya dingin, sikap sinis itu muncul begitu ia mengenali sosok di hadapannya.

Rissa.

Perempuan itu berdiri tegak di ambang pintu dengan kemeja putih lengan sesiku dan celana panjang formal berwarna krem. Di tangannya, sebuah rantang makanan terlihat masih mengeluarkan asap tipis.

Rissa tersenyum dengan tubuh kaku, tatapannya tertuju pada Rain, anak sambung yang kini berdiri sebagai istri orang lain. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat rantang makanan itu sedikit dan menyodorkannya ke arah Rain.

"Mama... Mama bawain udang kesukaan buat Rain."

Rain menatap rantang itu sekilas. Uap tipis yang masih mengepul tak membuat ekspresinya melunak. Tatapannya kembali naik ke wajah Rissa dengan datar, dingin, tanpa sambutan.

"Nggak butuh. Kita banyak makanan. Pergi," ucapnya pelan, tapi tegas.

Rissa terdiam beberapa detik. Senyumnya memudar, raut wajah wanita itu tampak ragu, namun tangannya tetap terulur, kembali menyodorkan rantang tersebut tak menyerah.

"Ini... ini Mama yang buat," katanya, dengan suara yang terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Cobain ya, Nak. Mama dari pagi masak ini buat Rain."

"Gue nggak nyuruh lo buat itu. Tinggal pergi aja kenapa sih!" balas Rain, suaranya tiba-tiba naik tanpa bisa ditahan.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang