34 - His Smile

644 142 25
                                        

Rev 1 apr

Rev 2 (26/12/25)

89% alur diubah

🦋🦋

Happy Reading


Happy Reading •••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-

Mata Nichol terpaku pada layar ponselnya. Pesan yang ia kirim untuk Rain masih terpampang di sana, statusnya online, tapi tak ada balasan. Lelaki itu sudah menunggu cukup lama hingga akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Senyum kesal, tepatnya.

Sejak tadi Nichol duduk diam di kantin, sengaja menahan lapar karena berniat mengajak Rain keluar sepulang kegiatan. Namun yang ditunggu justru tak kunjung datang.

Entah apa yang sedang dilakukan Rain di aula. Dari kejauhan, Nichol sempat mendengar kabar bahwa mereka tengah sibuk mempersiapkan acara kelulusan. Padahal ujian saja belum dimulai, tapi mereka sudah repot-repot menyiapkan pelepasan.

Karena sebagian besar siswa sudah pulang, kantin mulai sepi. Nichol akhirnya memilih bermain game di ponselnya, sekadar mengusir rasa bosan.

Tiba-tiba, sebuah tepukan mendarat di bahu. Nichol agak terkejut, lalu mendongak.

Siapa lagi kalau bukan Rain.

Ia langsung mematikan ponselnya, berdiri, lalu mendelik sengaja memperlihatkan wajah sebal.

"Kenapa chat gak dibales?" tanyanya.

"Sorry," Rain tersenyum kikuk. "Gue gak liat HP tadi."

Sambil bicara, Rain menarik jaket Nichol pelan, seperti kebiasaan kecilnya setiap kali merasa bersalah.

Nichol tidak menjawab. Ia langsung berjalan lebih dulu ke arah parkiran. Rain mengikutinya di samping, tak henti-henti meminta maaf, sesekali mencolek pinggang Nichol dan bersikap manis, berharap lelaki itu luluh.

Beberapa detik berlalu. Dan karena geli, Nichol akhirnya terkekeh kecil.

"Sebenernya gue nggak masalah nunggu," katanya tiba-tiba. "Asal nunggu lo."

Rain mendelik kesal, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Setibanya di parkiran yang sudah mulai sepi, Nichol mengambil helm Rain dan memasangkannya dengan gerakan pelan seperti biasa. Mereka naik motor, dan Rain refleks langsung memeluk pinggang Nichol, kebiasaan juga yang belakangan tak pernah ia sadari.

Motor melaju keluar dari area sekolah. Jalanan Jakarta belum terlalu ramai, meski sebentar lagi memasuki jam pulang kantor.

Baru terhitung 2 kilo berkendara. Namun, Nichol tiba-tiba membelokkan motornya ke sebuah parkiran klinik.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang