44 - Basketball

645 140 20
                                        

REV 20 MEI

Rev 2 (31/01/26)

100% ALUR DI UBAH

This is the longest part I've ever made 😵

🦋🦋

Happy Reading


Dengan kondisi tubuh yang masih belum sepenuhnya pulih, Nichol tetap memaksakan diri menjemput Rain pulang ke rumah Eyang.

Jalanan aspal masih basah sisa hujan sore. Lampu-lampu jalan memantul samar di permukaan hitam yang licin. Motor yang ia kendarai melaju sedang, tapi pikirannya jauh lebih liar dari kecepatan.

Dua kata itu terus berputar di kepalanya. Dissociative amnesia. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin keras kata itu bergema.

Nichol mendecak pelan, menggertakkan gigi. Untuk sekarang, cukup. Ia lelah. Nichol memutuskan akan berhenti memikirkan semuanya. Mengistirahatkan kepalanya. Mengistirahatkan tubuhnya. Ia sudah terlalu sering memaksa diri mengingat sampai dadanya sesak sendiri.

Nanti, jika sudah lebih kuat, ia akan ke dokter. Tanpa Andra, juga tanpa Rain. Jika Andra tahu, pasti dilarang. Dan jika Rain tahu, pasti panik dan bertanya macam-macam.

Angin dingin menampar wajahnya ketika ia membelokkan motor ke arah perumahan Eyang. Hujan tinggal rintik-rintik kecil, tapi cukup membuat sepatu, celana, jaket, dan tasnya lembap.

Gerbang rumah Eyang sudah terlihat dari jauh terbuka. Nichol refleks memperlambat laju kendaraannya. Ada satu motor lain terparkir di depan, dan di sana Rain bersama seorang lelaki.

Mereka berdiri terlalu dekat. Tangan lelaki itu terangkat membantu Rain membuka helm dengan gerakan yang terlihat akrab.

Bisa dibilang adegan sederhana dan normal. Tapi di mata Nichol, pemandangan itu tentu salah. Dadanya langsung mengencang, dengan wajah memerah dan tubuh gemetar.

Tangan lelaki itu nyaris menyentuh pipi Rain. Dan Nichol, begitu motor terparkir ia membuka helm kasar dan melemparkannya ke lantai.

Rain langsung menoleh kaget. Sedangkan lelaki itu hanya menaikkan alis bingung.

Nichol berjalan cepat ke arah mereka tanpa bicara. Napasnya berat dengan bahu tegang. Kepalanya panas, dan logika seperti tertinggal jauh di belakang.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangannya sudah lebih dulu mencengkeram kerah baju lelaki tersebut dan mendorongnya keras sampai punggungnya menghantam tembok pagar.

"Lo ngapain sama cewek gue, anjing!" teriaknya marah.

"Bro, bro, bro, chill. Lo siapa?" lelaki itu mengangkat tangan, setengah tertawa sambil berusaha melepaskan cengkeraman Nichol.

"Nic-"

Rain buru-buru meraih lengan Nichol, mencoba melepaskan cengkeramannya dari kerah baju lelaki itu.

Namun, karena Nichol yang sudah terlalu panas, tangannya malah reflek menepis Rain. Tak begitu keras, tapi cukup membuat Rain mundur setengah. Perempuan itu langsung diam, bahunya mengecil disertai tubuh yang gemetar.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang