52 - Rayn

463 131 11
                                        

Rev 18 nov

Rev 2 (5/03/26)

98% alur di ubah

GA ADA NIAT DOUBLE UP SIH, CUMA YAUDAH YA AKU PENGEN NICHOL CEPET JADI BUKU JADI AKU HARUS NGEBUT

BTW

KULIAH AKU UDAH MULAI LAGI JADI BAKAL AGAK TELAT YA HAHAHHAHAHA UPDATE NYA OMO OMO MALAS SANGAT (kuliahnya)

🌺🌺

Happy Reading



Hari kelulusan akan dilakukan lusa, dan anak-anak Nusantara I sedang mempersiapkan latihan terakhir mereka untuk tampil sekaligus menghias lapangan serta beberapa ruang kelas yang akan digunakan.

Nichol sendiri berdiri di dekat pintu sambil menata bunga pajangan. Awalnya ia bersama Efline, namun lelaki itu malah kabur entah ke mana bersama Stefy.

Rain sendiri sedang duduk bersama Andra di dekat jendela, melipat pita dan beberapa hiasan lain bersama anak-anak. Cassie memilih berada di tengah lapangan dengan Mino, bercanda sambil melempar bola dari Daffa yang memang tak bisa diam.

Sejak Amy tiba-tiba marah beberapa waktu lalu, Nichol jadi sedikit kebingungan dengan dirinya sendiri. Gejala itu memang sudah jarang muncul semenjak ia berhenti memikirkan semuanya dan mencoba tidak lagi mengikuti perkembangan kasus tersebut. Namun tetap saja, Eric adalah temannya. Mau tak mau, ingatan tentang lelaki itu masih ada di dalam sana.

Beberapa kali Nichol terlihat diam cukup lama, seolah pikirannya pergi ke tempat lain.

Saat sedang memilih bunga mana yang paling cocok, sebuah tepukan di pundak membuat Nichol menoleh.

“Lo gapapa, Nic?” tanya Rayn sambil duduk di meja yang penuh dengan bunga.

“Gapapa, emang gue kenapa?” Nichol balik bertanya tanpa mengalihkan fokus dari rangkaian di tangannya.

“Nggak sih… cuma maksud gue, lo ada masalah? Akhir-akhir ini lo sering diem. Gue takut lo kenapa-kenapa,” jawab Rayn.

Sebenarnya bukan hanya Rayn yang memperhatikan hal itu. Efline dan Daffa juga sempat merasa aneh. Meski mereka baru berteman sebentar, Nichol biasanya cukup banyak bicara dan kadang suka bercanda. Namun belakangan sikapnya seperti meredup.

Awalnya Daffa melarang mereka bertanya karena takut menyinggung sesuatu yang sensitif. Tapi makin hari Nichol justru terlihat semakin pendiam. Karena itulah Rayn akhirnya memutuskan untuk benar-benar menanyakan keadaannya.

“Aman kok. Thanks udah nanya.” Nichol menyenggol lengan Rayn pelan.

Rayn mengangguk kecil lalu ikut membantu memilih bunga. Tangannya mulai memasukkan beberapa tangkai ke dalam vas yang akan dijadikan hiasan.

“Tapi yang kemarin…” Rayn kembali membuka suara. “Yang lo lari habis denger cerita Efline tentang kasus Kanada itu… lo gapapa?”

Tangan Nichol yang sedang memegang bunga sempat terhenti di udara.

Daffa dan Efline mungkin tidak menyadarinya saat itu. Namun Rayn justru melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Nichol berubah ketika Efline mulai bercerita tentang kasus tersebut.

Sejak awal cerita dimulai, Nichol sudah terlihat tidak nyaman. Tatapannya kosong, tangannya bergetar halus, dan ada keringat tipis di pelipisnya.

Belum lagi ketika Nichol tiba-tiba pergi begitu saja, naik taksi tanpa menjelaskan apa pun. Itu membuat Rayn cukup yakin ada sesuatu yang berkaitan dengan semua ini.

NICHOL: Under The Maple RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang