26

831 109 0
                                    

Ino terdiam diparkiran rumah sakit. Ia sudah diberitahu dimana ayah Sai dirawat. orang yang memberitahunya bukanlah Sai melainkan Ibu Sai.

Ino menjinjing kantung buah buahan. Ia masih menunggu kedatangan Sai. Awalnya ia ingin langsung masuk. Tapi, tadi ibu Sai menyuruhnya supaya diam dan menunggu Sai.

Ino tersenyum saat matanya melihat Sai yang berjalan ke arahnya.

Naruto sudah menyuruhnya berkumpul. Tapi, ia ingin menjenguk ayah Sai terlebih dahulu. Ia berencana akan pergi kerumah Naruto setelah mengunjungi ayahnya Sai.

Seperti biasa, Sai tersenyum kearahnya. Senyum yang mampu menghangatkan hati nya.

"Kau ingin menjenguk ayahku?"

Ino mengangguk.

"Ikut denganku"

Ino merasa ada yang berbeda dengan Sai. Ucapan pria itu tidak sehangat dulu. Ucapannya sekarang terkesan dingin.

Sai hendak berbalik namun Ino lebih dulu mencegahnya.

"Kau menjauhiku?"

"Hm..?" Sai mengernyit.

"Maafkan aku Sai. Waktu itu, aku terlalu terkejut dan kecewa padamu"
Ino berujar lirih penuh penyesalan.

"Tidak apa. Aku mengerti"

"Apa kita bisa bersahabat kembali?"

Sai menghela nafas. " Aku akan selalu menjadi sahabatmu. Tapi, sepertinya persahabatan kita tidak bisa seperti dulu lagi, Ino"

"Kenapa? Kau marah padaku?"

Sai menggeleng. " Bukan karena itu. Tapi karena sekarang kau tau bahwa aku mencintaimu dan kau juga tau aku tidak bisa menghilangkan rasa cintaku"

"Kita tidak bisa seperti dulu lagi" lanjutnya.

Ino hanya bisa terdiam. Sai benar. Jika ia kembali bersahabat dengan lelaki itu, tentu semuanya tidak akan sama lagi. Tidak akan seperti dulu lagi.

"Sebaiknya kita masuk sekarang"

Sai lebih dulu melangkah disusul Ino yang masih bergelut dengan pikirannya.

.
.

Sampai diruangan tempat ayah Sai dirawat, Ino langsung menyapa Ayah dan ibu Sai.

"Ayah, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ino

"Ayah baik. Kau? Bagaimana keadaanmu? Akhir akhir ini Ayah jarang melihatmu. Sai bilang kau sudah punya pacar"

Ino hanya tersenyum simpul. Entah mengapa, ia sangat malas mendengar orang berbicara tentang pacarnya.

"Aku juga baik Ayah. Aku memang sudah punya pacar. Tapi akhir akhir ini kami putus kontak. Pacarku sedang bekerja diluar kota"

Ayah tersenyum mendengar penuturan Ino. Mereka melanjutkan beberapa obrolan ringan Bersama ibu Sai yang baru datang dari kantin.

Sementara itu, Sai memilih keluar dari ruangan sang ayah. Sejak kejadian itu, ia memang benar benar menjaga jarak dari Ino sama seperti apa yang Ino inginkan.

Ia menjauh. Walaupun cintanya masih tetap ada. Tapi ia tidak akan membuat Ino resah ia akan berusaha tidak terlihat supaya Ino bisa tenang dan melupakannya.

Didalam ruangan, Ayah Sai sudah terlelap tidur karena memang sudah waktunya istirahat.

Ibu Sai membawa Ino keluar ruangan dan duduk dikursi tunggu.

"Ino, kapan kau akan mengenalkan pacarmu pada ibu? Ibu juga ingin melihat bagaimana wajah pacar mu itu" gurau ibu Sai.

Ayah dan ibu Sai Memang sudah menganggapnya sebagai putri mereka sendiri. Karena sedari kecil Ino memang lebih sering dengan mereka dibanding dengan Orangtuannya sendiri. Bahkan sekarang saja orangtua Ino masih berada diluar negeri. Mengurusi perusahaan mereka dan meninggalkan Ino sendiri.

"Mungkin nanti akan aku kenalkan"

"Sebenarnya ibu ingin meminta tolong padamu. Apa kau bersedia?"

"Tentu saja ibu. Apapun itu."

Ibu Sai tersenyum bahagia. Wanita itu mengambik tasnya. Lalu mengambil beberapa foto dan menunjukannya pada Ino.

"Lihatlah, mereka sangat cantik kan?"

Ino mengangguk. "Mereka sangat cantik Ibu. Siapa mereka?"

Ino melihat satu persatu foto gadis gadis cantik itu.

"Mereka anak sahabat ibu. Dan rencananya ibu ingin kau membantu memilih salah satu dari mereka untuk dijodohkan dengan Sai"

Degh....

Pergerakan tangan Ino terhenti. Ia mendongak terkejut.

"A...apa?"

"Ibu dan ayah sengaja mengumpulkan foto anak dari sahabat kami. Kami rencananya akan memilih salah satu dari mereka untuk pasangan Sai kelak. Tapi ibu dan ayah sama sama bingung. Semuanya terlihat baik dan cantik. Karena itu, ibu memutuskan agar gadis yang akan dijodohkan dengan Sai,kau yang pilih. Kau sahabat Sai dari kecil karena itu,kau pasti tau seperti apa gadis yang Sai sukai"

Ino merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Mengapa saat mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut ibu Sai, ia merasa sakit hati. Ada perasaan tidak terima dalam dirinya.

"Kau tau, ibu juga berencana agar nanti pernikahan mu dan Sai dilaksanakan secara bersamaan. Pasti akan sangat mewah dan menyenangkan."

Nada bicara ibu Sai terlihat jelas penuh pengharapan.

Ino kembali dilanda kegundahan. Bingung, ia merasa aneh dengan perasaannya sendiri.

"I...ibu. aku ingin pergi ke toilet sebentar"

"Ouh... Iya."

Ino berjalan pelan menuju toilet. Raut wajahnya terlihat kebingungan.

Setelah sampai di toilet, ponsel dalam tas nya berdering.

"Utakata..." Lirihnya pelan.

.
.
.
.

Horey.... Seneng banget bisa nyelesain part 26 ini. Siapa kemarin yang bilang kangen sama saiino. Nah... Aku kasih satu part langsung . Mulai konflik saiino nih.... Ada yang bisa nebak gak kelanjutannya???( Author aja gak tau kelanjutannya mau gimana?"

Maaf banget kalo banyak typo yah...

*****

Ngak papa kan ya setiap akhir chapter aku ada ngajakin kalian siapa tau ada yang mau ikut bisnis Ori***** bareng aku. Kalo mau tanya tanya dulu juga boleh dan bisnis ini ngak ngerugiin kita dan gak perlu banyak modal lhoo!!!.. Cuma 49.900 !!!

squadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang