42

810 133 8
                                    



" Temari, kau sepertinya lelah. Istirahatlah"

"Tidak Ayah. Tinggal sedikit lagi "

Sang ayah hanya bisa menatap iba. Apa ini keputusan yang terbaik? Apa dengan melarang putrinya berhubungan dengan putra musuhnya itu adalah hal yang baik?

Akhir akhir ini, Temari sedikit berubah, perhatiannya pada pekerjaan lebih ia tingkatkan dari pada urusan pribadinya sendiri.

"Temari..." Temari mendongak, menatap penuh tanya pada sang ayah.

"Ada apa ayah?"

"Apa kau kecewa pada ayah?"

"Kecewa?...untuk apa?"

"Kau tidak bisa berbohong pada ayahku sendiri Temari"

"Tapi aku memang tidak mengerti ayah. Kenapa aku harus kecewa?"

"Untuk hubunganmu yang tidak ku restui"

Temari terkekeh. " Tidak apa ayah, mungkin Shikamaru memang bukan ditakdirkan untukku. Aku juga sebenarnya sudah mulai lelah, Shikamaru terus diam seperti tak memperdulikan apa apa"

"Lelaki itu mendatangiku satu Minggu yang lalu"

Temari mengernyit, "siapa?"

"Shikamaru, dia menghampiriku dipesta dansa pernikahan Gaara waktu itu. "

Temari terdiam.

"Dia berusaha menanyakan berbagai hal padaku. Ia bertanya sebenarnya ada apa yang terjadi pada aku dan ayahnya sehingga kami bermusuhan dan kami tidak memberikan kalian restu"

"Ayah tidak memberitahunya. Dia terus mendesak ayah. Sejak saat itu, setiap hari dia selalu menghubungi ayah, dia bilang dia tidak akan berhenti mencari tau, dia akan melakukan sesuatu supaya ayah dan ayahnya tidak lagi bermusuhan dan memberikan kalian restu"

Temari kembali terdiam. Apa perkataan ayahnya itu benar? Shikamaru menghubungi ayahnya setiap hari?

"Jika memang kau berubah karena semua itu, beritahu ayah. Ayah akan bertemu dengan ayahnya Shikamaru dan membicarakan hal ini" ujar sang ayah lalu beranjak pergi dari hadapan Temari.

Temari terkejut. Apa ia tidak salah dengar?

Seketika, senyum bahagia merekah di bibirnya. Akhirnya, ayahnya luluh.

Dengan perasaan gembira, Temari mengambil hpnya lalu menghubungi Shikamaru.

"Hallo, Shikamaru, aku punya kabar gembira"

"Benarkah?..."

"Iyah, Ayah ingin bertemu dengan ayahmu"

"A...apa?"

"Ayahku ingin bertemu dengan ayahmu "ulang Temari.

Terdengar helaan nafas lega dari sana."Akhirnya..."

.
.
.
.

"Sasuke, aku merasa haus"

"Tunggu disini. Aku akan membawakan air"

"Tidak, biar aku saja. Dapurnya ada disana, kan?" Tanya Sakura seraya menunjuk pada arah dapur.

"Baiklah..,"

Sakura bangkit seraya membawa gelas minuman yang sudah ia habiskan tadi.

Sasuke terdiam. Ia melirik pada ponselnya. Kenapa keluarganya tidak ada yang menghubunginya?

"Baby...?"

Sasuke menoleh pada sumber suara, seorang wanita berdiri di belakangnya. Wanita yang sama yang telah membantunya menyelesaikan masalah Naruto.

"Kau tidak ikut pergi bersama semua orang?"

Wanita itu mendekat, mendudukan dirinya disamping Sasuke.

"Tadi aku ikut mereka, tapi diperjalanan aku pingsan. Itachi langsung membawaku kerumah sakit"

"Kau pingsan? Tapi sekarang bagaimana keadaanmu? " Tanya Sasuke khawatir.

Wanita itu menggeleng. "Aku tidak apa. Hanya terlalu lelah, dokter bilang kandunganku lemah"

"Kandungan?...kau hamil?"

Wanita itu mengangguk seraya tersenyum.

"Benarkah?....akhirnya, selamat Izumi  kau akan menjadi seorang ibu." Ujar Sasuke penuh kebahagiaan.

Izumi terkekeh. " Kau bahagia?"

"Tentu saja. Ini kabar menggembirakan"

"Haha....kalo begitu, selamat juga karena kau akan segera menjadi ayah."

Prang...

Sasuke dan Izumi yang terkejut mendengar suara pecahan sontak sama sama menoleh pada asal suara.

Disana, Sakura tengah berdiri dengan wajah yang penuh tanya dan terkejut.bagaimana ia tidak terkejut? Ia melihat Kekasihnya sendiri duduk bersama gadis lain dan mereka saling memberi selamat atas kehamilan gadis itu. Apalagi mendengar kalimat terakhir tadi. Itu sungguh mengejutkan.

Sasuke mendekat, "sakura..."

Plak...

Suara Sasuke terhenti saat tamparan keras dari Sakura mendarat dipipinya.

Sasuke menatap terkejut pada Sakura. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mendapatkan tamparan keras dipipinya .

"Sakura...kau..."

"Dasar laki laki brengsek."

Dengan penuh amarah, Sakura berjalan melewati Sasuke begitu saja, ia mengambil ponsel dan dompet kecilnya lalu berjalan keluar rumah.

Sasuke masih terdiam, berusaha memahami apa yang terjadi.

"Baby, siapa dia?"

Sasuke tersadar. "Sial, Sakura salah paham"

"Dia siapa?"

"Dia kekasihku. Sepertinya dia mendengar ucapan kita dan dia salah paham padaku"

"Kekasihmu? Sejak kapan kau punya kekasih?"

"Nanti saja aku jawab. Aku harus segera menyusul Sakura" dengan tergesa gesa, Sasuke berlari berusaha menyusul Sakura, namun, Saat ia sampai di gerbang , Sakura sudah pergi menaiki taksi .

"Sial..." Makinya.

Sasuke mengusap kasar wajahnya.

Tak lama, mobil keluarganya tiba Dirumah.

"Sasuke, kau kenapa?"Tanya Itachi.

"Ck...aku mengalami masalah besar karena istrimu"

"Dia sudah pulang dari rumah sakit? Padahal tadi aku menyuruhnya menunggu"

"Sasuke...kenapa kau berada diluar? Dan..mana calon menantuku itu Sasuke?"

"Dia pergi ibu, dia mendengar pembicaraan ku dengan Izumi dan dia salah paham."

"Kau ini bagaimana? Kenapa kau masih ada disini? Cepat susul calon menantuku Sasuke"

Sasuke mengangguk. Ia berjalan menuju mobilnya lalu melakukannya kearah rumah Sakura.

"Kenapa malah jadi seperti ini?" Gumam Sasuke pelan.

.
.
.
.

Aduh....makin gaje aja.....
Jangan lupa tinggalkan jejakkk......🤗🤗🤗

squadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang