Arland si bunglon

5.7K 305 1
                                        

Happy Reading...

Bugh!

Nathan kembali memberikan Arland bogeman. Meisya mendekat ke arah Arland dan menatap tajam Nathan
"Ka Nathan, berenti!!" Ucap Meisya

"Ka gapapa kan?" Tanya Meisya kepada Arland dan Arland hanya menggeleng

Saat ini mereka bertiga menjadi pusat perhatian

Meisya mendekat ke arah Nathan lalu menarik Nathan ke tempat sepi "Kenapa harus mukulin Ka Arland"

"Dia ikut campur urusan kita Sya"

Meisya tersenyum tipis "Kita udah gak ada apa-apa ka. Jadi plis jangan ganggu aku lagi"

Nathan menggeleng "Kita masih pacaran Sya"

"Kita udah putus ka"

"Aku gak mau kita putus Sya"

Meisya menatap Nathan datar "Kenapa? Bukannya udah ada Ka Audi"

Nathan menggenggam telapak tangan Meisya "Maaf, aku udah nyia-nyiain cewek sebaik kamu Sya. Aku nyesel, aku sayang kamu dan aku udah gak ada hubungan lagi sama Audi. Aku mau kita mulai dari awal Sya"

Meisya menatap Nathan "Aku udah maafin ka Nathan tapi untuk kembali lagi aku gak bisa"

Nathan tersenyum kecut "Fatal banget ya kesalahan aku"

Meisya melepaskan genggaman Nathan "Ini pelajaran untuk kakak. Lain kali jangan jadi cowok brengsek ka"

"Kamu benci aku?"

Meisya menggeleng "Aku gak mau hidup dalam keadaan membenci orang karna itu gak bisa buat aku bahagia. Tapi rasa kecewa aku ke Kaka masih ada dan gak tau sampe kapan kecewa itu sembuh"

"Sya. Aku mau kita balikan. Aku nggak bisa kehilangan kamu..Aku akan lakuin apa aja supaya rasa kecewa kamu hilang" Purau Nathan

"Maaf"

"Aku nyesel ngelakuin itu semua Sya..kasih aku satu kesempatan lagi. Aku gak akan nyia-nyiain kamu"

Meisya menggeleng "Maaf. Untuk kali ini aku bener-bener gak bisa balikan sama ka Nathan karna bagi aku kata selingkuh gak bisa ditolerin"

"Sya..."

"Jalanin hidup kita masing-masing. Permisi" Ucap Meisya lalu pergi meninggalkan Nathan dan melangkahkan kakinya ke arah Arland

"Ka Arland, ayo pulang" Ucap Meisya dan diangguki Arland

Diperjalanan pulang, suasana hening tercipta diantara Meisya dan Arland. Arland fokus mengendarai motor sportnya sedangkan Meisya menatap kendaraan dengan tatapan kosong

Arland memberhentikan motornya di sebuah taman "Ke taman dulu Sya" Ajaknya dan Meisya mengangguk

Meisya dan Arland duduk di bangku panjang dengan sampingnya pohon-pohon. Semilir angin menerpa mereka

"Sya"

Meisya yang tadi fokus ke arah depan sekarang menoleh ke arah Arland

"Gimana hati lo"

Meisya tersenyum tipis "Gapapa"

Arland menatap manik Meisya dalam "Jangan bilang gapapa kalo sebenernya hati lo rapuh"

"Kenapa ka Arland peduli?"

"Karna lo temen gua"

Meisya mengangguk

"Lo bisa cerita ke gua. Dan lo bisa luapin kekesalan lo ke gua"

Meisya menatap Arland "Ka.. "

Arland tersenyum tipis "Gua siap dengerinnya. Gua tau lo butuh temen ngobrol"

ARLAND {SELESAI}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang