Happy Reading..
Arland meraup wajahnya kasar, malam ini Ia harus mengakui kekalahan dari Marvin, ketua Tiger. Sebenarnya Ia bisa saja menang namun karna ancaman yang di layangkan Marvin membuat Ia terpaksa untuk mengalah.
Ingatkan pada Arland, dirinya hanya terpaksa. Katakanlah Arland pengecut, tapi mau gimana pun Arland tak akan membuat orang yang berarti dalam hidup nya merasa terancam ataupun menderita
Marvin tersenyum remeh ketika berhadapan dengan Arland
"See? Gua menang ya"
Arland melemparkan kunci motornya asal kepada Marvin dengan tatapan dinginnya lalu berjalan meninggalkan arena balap itu
Sesampainya di Markas, Arland masih tetap diam.
Aldan yang duduk di sofa bersama beberapa anak Rajawali menatap heran Arland yang berjalan masuk ke dalam ruang tidur. Selepas dari arena balap itu, Arland tak mengeluarkan sepatah kata pun
Aldan mengikuti Arland yang masuk ke dalam ruang tidur
Aldan membuka pintu itu kemudian menyenderkan tubuhnya didinding dengan tangan yang bersidekap, matanya menatap Arland yang duduk sambil bermain ponsel
"Lo kenapa" To the point Aldan. Arland melirik sekilas Aldan dan menggeleng lalu kembali memainkan ponselnya
Aldan menatap datar Arland "Lo bisu?"
"Keluar" Dingin Arland
"Lo kenapa?" Aldan kembali bertanya tanpa perduli ucapan Arland yang menyuruhnya keluar
Arland bangkit dari duduk nya lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Ia menyambar jaket dan kunci motor milik Alvin yang sempat Ia letakan di Meja
Aldan yang melihat itu, hanya bisa menggelengkan Kepala
Arland melajukan motor nya, pergi ke apartmentnya. Saat ini Ia hanya perlu waktu untuk menyendiri
Arland melempar asal jaket kebanggaan anak Rajawali disebuah sofa yang berada didalam kamarnya, lalu kaki jenjangnya melangkah ke sebuah lemari dan mengambil pakaiannya kemudian Ia masuk kedalam kamar mandi
.....
Seorang remaja laki-laki menatap bangunan-bangunan megah nan indah yang berada di Negeri Hitler ini dengan pandangan lurus, seakan tidak terpesona dengan kemegahan nan keindahannya
Tepukan dipunggung belakangnya membuat Ia menoleh kepada pelakunya
"Lebih baik kamu pulang"
Remaja laki-laki ini menatap lelaki paruh baya yang baru saja berbicara
"Belum saatnya" balas remaja laki-laki itu
Lelaki paruh baya itu tersenyum angkuh "Sampai kapan? Sampai kamu menerima undangan pernikahan gadis yang kamu cintai itu?" Remaja laki-laki itu menatap tajam lelaki paruh baya yang notabene adalah kakeknya
"Maksud kakek apa?"
Lelaki paruh baya itu menggeleng "Kakek hanya tidak mau, kamu merasakan apa yang pernah kakek rasakan"
Remaja laki-laki itu mengangguk "Secepatnya aku kembali, dan aku akan merebut kembali gadis yang aku cintai. Apapun caranya"
Lelaki paruh baya itu tersenyum angkuh "Bermain cerdiklah" Yang diangguki remaja laki-laki itu dengan senyum misterius nya
.....
Pagi
06.15 Wib
"Pagii" sapa Meisya dengan senyum yang mengembang kepada Arland yang sedang duduk diruang makan rumahnya. Sedangkan Maira sedang didapur
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLAND {SELESAI}
Roman pour AdolescentsCuek? Moodyan? Nakal? Most wanted? itulah Arland Earliyano Aditama, Si Pentolan SMA Nusantara. Ketua Geng Rajawali sang penguasa jalanan. Ketampanan pentolan SMA Nusantara itu mampu meluluhkan para wanita. Tapi, bagaimana bisa seorang wanita dengan...
