Part 30

9.8K 423 16
                                        

Mobil Tomo terparkir sembarangan di halaman rumah Sakit Halingkusuma yang ternyata jaraknya tidak jauh dari Restoran Altar.

Jericko keluar dari mobil setelah pintu dibuka oleh Tomo dengan masih menggendong Sera yang sudah tidak sadarkan diri sejak satu menit yang lalu.

"TOMOO... mana dokternya?" teriak Jericko kesetanan saat mereka masuk kedalam. Tomo, pria itu hanya mengusap dadanya.

Terlihat dua orang perawat mendorong brankar menuju mereka dengan terburu-buru dan membawa Sera memasuki ruangan unit gawat darurat.

"Gue yang urus administrasinya," terang Tomo, namun suaranya hanya angin lalu karena nyatanya Jericko sudah menghilang diujung sana, menuju ruang Sera ditangani.

"Maaf pak, bisa tunggu diluar. Dokter akan menangan__" jelas seorang perawat namun dipotong oleh Jericko

"Kamu tidak mengenal siapa saya? Itu calon istri saya lagi sekarat dan kamu berani perintah saya!" Bentak Jericko dengan rahang yang sudah mengeras, kenapa jika dia ingin masuk. Calon istri dan anaknya dalam bahaya.

"Mohon maaf pak, tolong ikuti aturan disini. Permisi." putus perawat itu lalu melangkah masuk ruangan dan menutup pintu. Meskipun dirinya kaget dan sedikit ketakutan karena dibentak tapi peraturan tetaplah peraturan.

Jericko meremas rambutnya kasar.
"Arrgghhh!" Tubuhnya perlahan meluruh kelantai. Penampilannya sungguh acak-acakan, kemejanya terlihat kusut dan dipenuhi oleh noda darah dimana-mana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Calon istri dan anaknya dalam bahaya. Pada kenyataannya Jericko tidak bisa apa-apa, kedua orang yang dicintainya lagi berjuang sendirian didalam sana.

Rasanya dia adalah pria terbrengsek sedunia. Jericko menyesal karena mengikuti egonya dalam menunda terlalu lama untuk bertemu dengan wanita yang telah dicintainya entah sejak kapan. Pria itu terisak dalam diam dengan menundukan kepalanya, meremas rambutnya kasar, airmatanya menetes jatuh kebawah mengenai keramik putih yang mungkin lagi menertawakan dirinya.
"Aku cinta kamu Ay, aku nggak tau sejak kapan tapi aku yakin aku terlalu takut kehilangan kalian," ucapnya dengan suara tercekat.

Tenggorokannya sakit, kepalanya pening, belakang lehernya menegang.
"God, I'm so scared!" gumamnya pelan sambil mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata yang mengalir deras.

"Bangun!" ucap sebuah suara dengan nada dingin. Jericko tidak menanggapinya, pria itu masih meremas rambutnya kuat hingga urat-urat di lengannya terlihat sangat jelas.

Tomo yang baru datang dan melihat sahabat seperti itupun tidak tega.
"Jer, bangun! Lo nggak bisa kayak gini. Gue ngerti perasaan lo tapi lo harus kuat, didalam sana Sera lagi berjuang. Paham!" Nasihat Tomo dengan suara tegasnya.

"Gue itu bego, Tom! Gue brengsek. Bahkan gue baru sadar kalau gue takut kehilangan mereka. Kenapa nggak dari dulu aja," katanya dengan suara bergetar hampir seperti berbisik. Jericko tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya sekarang, yang dipikirkan adalah semoga Sera dan calon buah hatinya tidak kenapa-kenapa.

Tomo hanya diam dan memaksa menuntun sahabatnya untuk bangun dan duduk dikursi. Sahabatnya terlihat sangat berantakan, baru kali ini dia melihat seorang Jericko seperti ini.

Altar sudah mengepalkan tangannya kuat, ia ingin membuat bogeman mentah untuk laki-laki brengsek yang sudah berani melukai adik satu-satunya namun ditahan karena melihat laki-laki itu juga sepertinya ikut terluka. Dia akan menahannya hingga waktu yang tepat. Jika saja mereka bertemu pada saat tidak dengan keadaan adiknya yng sedang sekarat maka jangan harap dia melepaskan pria brengsek didepannya ini.

"Keluarga pasien," panggil dokter, setelah keluar dari ruangan rawat dimana Sera berada.

Jericko dan dan Tomo lantas berdiri, Altar yang sejak tadi masih berdiri pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah dokter.

SERAYA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang