Beberapa bulan hidup bersama Andra, nyatanya Ara merasa sangat nyaman. Tidak ada sedikit pun ketakutan yang dulu ia rasakan muncul. Semisal Andra berubah setelah menikah atau lebih jauh malah menyesal.
Andra tipe pria paling pengertian paling sabar dan paling bisa menahan emosi yang pernah Ara temui sepanjang dua puluh satu tahun Ara hidup. Selama ini pula Ara belum pernah melihat Andra marah atau sekedar meninggikan suaranya di depan Ara. Atau mungkin Ara yang terlalu berlebihan ya?
Minggu pagi sesuai janji pak Andra terhormat, mereka akan jalan-jalan di hari ini. Walau mereka berdua belum terpikirkan mau kemana bahkan hingga mobil melaju meninggalkan apartemen
"Kita mau kemana"? tanya Ara sembari mengikat tali sepatunya yang terlepas.
"Kamu mau kemana? kalo nonton doang bisa di rumah aja. Apa mau kerumah mama?" kata Andra bercanda, tawa kecilnya turut terbit.
Setelah Andra tau perihal dia yang datang kerumah Mira secara diam dengan bermodalkan tekad dan harga diri, Ara tidak pernah lagi muncul kerumah dan Mira pun tidak mau repot-repot cari tau kemana Ara. Ara pernah mencoba menanyai kabar Mira melalui pesan tapi sayang, jangankan di balas di baca pun tidak.
"ke dufan yuk?" Ara baru satu kali ke dufan selama tinggal di jakarta, itu tentu bersama Arka dan Nadia.
"Yakin? weekend gini pasti rame"
"ya iya rame kalo mau sepi kita hutan aja mau?" Andra tertawa, mengacak rambut Ara sampai berantakan.
Terlepas dari tidak setujunya Mira dengan pernikahan ini, hingga detik ini Andra dengan lantang akan mengatakan betapa ia bahagia dengan Ara, Ara mengurusnya dengan baik, mencoba mengerti keadaanya dengan baik. Sesi paling favorit Andra selama bersama Ara adalah dimana mereka saling menyempatkan diri mengobrol sebelum tidur. Andra akui ia tidak romantis, tapi bersyukur lah Andra karna memang Ara tidak begitu suka dan tidak mau ambil pusing mengenai romantis atau tidaknya Andra.
"Oke kita ke dufan"
***
"Mamu payah ah! masa gitu aja muntah" Ara mengusap matanya yang berair. Terlalu bersemangat tertawa karna Andra muntah sehabis menaiki bianglala.
"Dosa kamu ngetawain suami" teh kemasan yang Ara belikan untuk Andra sudah habis dua botol. Andra tidak mau minum air putih, pahit katanya.
"Kamu sadar gak sih teriakan kamu tuh bikin aku ketawa, ekspresi kamu asli lucu banget." Ara tertawa lagi, membayangkan ekspresi frustasi Andra yang terlihat seperti hendak terjun saja karna tidak tahan.
"Kita gak usah naik wahana lagi aja gimana? kamu jajan aja gak usah aneh-aneh" Andra tidak pernah ke dufan entah waktu kecil atau diusia sebelum sekarang, Andra tidak pernah merasakan menaiki bianglala sebelum hari ini. Dan Andra menyesal menerima ajakan Ara tadi. Sementara istrinya yang manis itu hanya tertawa. Seberapa cantiknya Ara saat tertawa masih ada sedikit rasa tidak percaya pada dirinya karna hanya dengan bianglala, Andra sampai muntah. Padahal menaiki kapal di tengah derasnya arus laut atau menaiki mobil dengan medan seterjal apapun Andra masih kuat.
Di depan Ara pula! harga dirinya sebagai laki-laki sedikit terluka.
"Saya ke toilet dulu" Ara mengangguk, menerima ponsel dan dompet yang di sodorkan Andra.
"Titip"
Tepat setelah Andra berbelok menuju toilet, ponsel Andra bergetar menunjukkan nama 'mama' di layar
Ara ragu, perlukah ia mengangkat panggilan ini? mungkin saja penting. Andra juga tidak akan marah karna memang Andra membebaskannya menyentuh ponsel atau apapun milik Andra.
KAMU SEDANG MEMBACA
STRUMFREI✓
ChickLitTernyata memang benar, garis antara cinta dan benci itu nyaris tak ada. Dari yang bukan siapa-siapa bisa menjadi teman hidup.
