Cerita 72 (END)

65.6K 1.7K 35
                                        

10 bulan kemudian....

Kemarin , Ara tidak ingat ia makan apa hingga pagi ini ia merasa badannya agak lemas, pusing serta perutnya tiba-tiba terasa tidak enak. Mau bolos kuliah, tapi tidak bisa karna dosen killer di kampus akan mengadakan ujian. Ara sebal rasanya karna lagi-lagi ujian di beritahukan tiba-tiba, jadi waktu belajar Ara juga mepet.

Dosen di kampus Ara rata-rata begitu, Ara serasa di jajah oleh negara jepang dan belanda sekaligus.

"Gak usah ke kampus aja ya?" Andra lagi-lagi membujuknya, pria itu sudah mengenakan busana lengkap untuk kerja setelah meletakkan teh hangat di atas nakas.

"Gak bisa, mau ujian" Ara yang sedang mengumpulkan tenaga untuk mandi menjawab

"Dosennya siapa? nanti biar saya telfon" Ara menggeleng lalu bangun di bantu Andra, meminum teh hangatnya sedikit.

"Gak usah, aku gak papa"

"Kamu lagi sakit, dari kemarin lemas terus. Saya gak kasih ijin kamu kuliah" Andra ikut berdiri, mengikuti Ara menuju kamar mandi

"Aku gak papa, kok kamu yang lebay"

"Saya bilang ngak, berarti ngak. Nurut" Andra yang tidak ingin di bantah mode on menatap Ara penuh peringatan

"Sekarang udah lebih baik dari pada kemarin, aku kuliah ya?" senyum lebar Ara berikan agar lebih menyakinkan.

"Ngak" Ara cemberut, masa iya sih dia harus membujuk Andra dengan manjiahh syalalala

"Pokoknya aku mau kuliah, ujian"! Ara setengah menghardik, lalu membuka pintu toilet.

"Gak mau nurut lagi kan kamu, dasar bandel" Andra berhenti bicara saat tangan Ara memegangi dadanya

"Gak usah godain saya, kamu tetap gak boleh kuliah" Ara terpingkal lalu memukul pelan dada Andra

"Aku gak godain, kamu ngapain ikut masuk ke kamar mandi aku mau mandi" lalu di dorongnya Andra secara paksa mengunci pintu dari dalam

"Kenapa pake di kunci segala!" teriakan Andra dari luar Ara abaikan, Andra punya kebiasaan buruk, masuk kamar mandi tiba-tiba tidak peduli Ara ada di dalam sekalipun.

"Tehnya" Andra menyodorkan teh milik Ara yang sudah berpakaian lengkap, teh habis tanpa sisa.

"Sarapan dulu, membantah lagi saya hapus semua video konser di laptop kamu." final Andra lalu turun duluan ke lantai bawah, Ara menggerutu dalam hati, mentang-mentang Ara download video itu pake wifi apartemen enak saja main hapus-hapus.

"Minggu depan kita pindah" Ara yang sedang memakan nasi goreng menatap Andra heran

"Pindah kemana?" Andra memang belum bilang pada Ara soal rumah yang sekarang sudah selesai di bangun. Andra lupa karna terlalu sibuk dan Ara juga tidak pernah mengeluh tinggal di apartemen selama ini.

"Rumah kita sudah selesai dibangun" Ara teringat, Andra memang pernah menyinggung soal rumah.

"Udah selesai? kok aku gak tau apa-apa sih?"

"Udah lama, sebelum kita nikah. Tapi sekarang udah, jadi niatnya mau surprise ke kamu" Ara mengangguk, memang apa? Ara harus marah-marah sambil kayang begitu? malah bagus kan kalau Andra punya rumah.

"Nanti kita pilih perabotan rumahnya sama-sama" Ara tersenyum senang, tidak sabar melihat rumah yang di maksud Andra.

"Kepala kamu masih pusing?" Andra seriusan akan mengunci Ara di kamar kalau masih nekat kuliah padahal sedang sakit.

"Udah ngak kok, serius" Ara membentuk tanda peace dengan tangannya, dia tidak bohong kok memang sudah tidak pusing seperti tadi malam.

"Kalau nanti pusing lagi, telfon saya nanti saya jemput"

STRUMFREI✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang