Cerita 49

26.5K 1.5K 0
                                        

Justru dari dia saya belajar

Iya, Andra tidak bohong. Dulu saat bersama Calista, Andra tidak pernah main-main. Dia memberikan semua perhatiannya pada Calista, semua cintanya pada Calista, berusaha membuat perempuan itu senyaman mungkin. Tapi apa yang dia dapat?

Andra sempat tidak terima alasan mengapa dia diselingkuhi, terlalu banyak mengatur katanya, terlalu mengekang katanya, dan membosankan.

Itu kata Calista, Andra tidak terima karna apa yang ia lakukan, apa yang ia larang kan pada Calista adalah demi kebaikannya sendiri. Andra tidak pernah egois. Maka dengan Ara, Andra harus sedikit mengubah caranya demi agar perempuan itu tidak bosan dan tidak menganggapnya terlalu banyak mau.

Andra tidak pernah sampai seperti ini, mengirimi puluhan pesan tiap hari. Biasanya Andra hanya langsung menelfon supaya lebih praktis. Tapi dengan gadis bernama Ara, Kalliandra tidak bisa karna Ara terlalu cuek, membalas pesannya pun lama hingga kadang Andra di buat kesal

"persiapan pernikahan kamu udah sampai mana"? Papa Andra yang diluar nampak sangar namun berhati lembut ini meluangkan sedikit waktunya untuk mengobrol

"sedikit lagi kok pa, mama gimana"? Mira makin hari malah makin cuek bahkan pernikahan ini murni diurus Riana Andra dan Mentari saja

Andra kecewa, tapi berusaha ditahan

"jangan terlalu pikirin mama kamu, kamu udah dewasa. Urusan seperti ini bukan lagi saatnya kita ikut campur" Andra bersyukur punya ayah seperti papanya. Pengertian dan tidak pernah menuntut macam-macam.

"rumah gimana? Ara kayaknya gak nyaman kalo harus satu atap sama mama kamu" iya Andra paham soal itu, dan disini Ara adalah prioritasnya sekarang.

Susah payah Andra mendapatkan perempuan ini, dan ia sudah pernah bilang kalau tidak akan membuat Ara menyesal telah menikah dengannya. Andra khawatir jika Ara tinggal bersama Mira dampaknya bagi Ara malah buruk.

"masih proses pembangunan pa, dibantu sama Tari juga soal desain yang kira-kira Ara suka" 

"kamu tuh ribet ya, kenapa gak tanya sama Ara langsung sih"?  namanya juga kejutan, Ara cukup tau kalau mereka nanti akan punya rumah saja. Walaupun seribu persen Andra yakin, Ara tidak akan permasalahkan desainnya.

Tangan pria paruh baya itu menepuk bahu Andra pelan "akhirnya ya kamu mau nikah juga. Sama yang lebih muda lagi, luar biasa pesona kamu"  katanya sambil tertawa

Andra ikut terkekeh, mengambil ponselnya dari saku celana karna benda itu bergetar beberapa kali

Kedua alis andra nyaris bertaut, dari mana Calista dapat foto ini?

Andra meremas ponselnya menunggu balasan dari Calista, perasaan khawatir dan kesal seketika menyapa

Calista: di cafe dekat kantor aku

Andra langsung berdiri, menyambar kunci mobilnya setelah pamit buru-buru pada ayahnya yang masih menonton tv

Ara

Satu nama itu terus terngiang di kepalanya, terakhir yang Andra tau setelah mengantar Ara pulang, gadis itu bilang tidak akan kemana-mana tapi apa yang Andra lihat barusan justru tidak sama dengan kenyataanya.

Dan yang paling membuatnya tidak suka, ada Dewa disana

****

Andra turun terburu-buru, mendapati Calista berdiri di depan cafe

"pasti kamu gak tau kan kalau calon istri kamu lagi berduaan sama cowok disini"? senyum licik Calista benar-benar menyebalkan dimata Andra

"bukan urusan kamu"

Andra mengedarkan pandangan, menemukan Ara bersama dewa di pojok ruangan entah sedang membahas apa.

"hai sayang"? kata Andra dengan suara cukup keras lalu mencium kening Ara tanpa ijin

Abaikan Ara yang melotot, Andra merasa tidak punya kewajiban menjaga perasaan Dewa disini

"kamu.. kok disini"? sama Calista lagi apaan! Yang terakhir hanya Ara ucapkan dalam hati

Ara kan sudah bilang dia tidak suka Calista

"jemput kamu, bukannya tadi bilang gak akan kemana-mana" Ara memaksa senyum, kaget karna Andra tiba-tiba disini

"memang dia harus izin kalau___

"harus, saya tunangannya" Andra memotong cepat, ekspresi dewa mengeras. Amarah nampak jelas disana dan situasi ini adalah situasi yang amat tidak bagus

"sebulan lagi kamu nikah Ra, tapi ketemuan sama laki-laki lain dan calon suami kamu gak tau" Ara tidak tau ini adalah perasaanya saja atau memang Calista seakan sengaja membakar suasana yang memang sudah panas. Yang jelas Ara benar-benar tidak suka kalimat itu. Ara tidak takut karna punya jawaban seandainya Andra bertanya mengapa dia bisa ada disini bersama Dewa

"terus lo ngapain disini? di tengah-tengah kakak gue sama calon suami gue"? Lupakan kesopanan dan saya kamu ara puas melihat wajah kaget Calista

"maaf ya, lain kali saja kalo kalian masih mau bicara. Ini sudah malam dan besok Ara masih kuliah" Andra menggenggam tangan Ara bersiap membawanya pergi dari sana karna Andra tau hubungan yang mereka berdua miliki sudah lama beku

"dia adik saya, belum menikah saja anda sudah banyak mengatur ya"  Andra terkekeh ringan, genggaman tangannya makin erat.

"iya, sesayang itu saya sama dia. Dan seperti kata anda barusan, kalau sudah tau kalian bersaudara anda ngapain disini"? Dewa maju begitu tiba-tiba mencengkram kerah baju Andra yang masih betah dengan ketenangannya

Ara terkejut, berusaha melerai namun tangannya masih terperangkap dalam genggaman erat Andra serta Calista yang dibuat bingung di tempatnya

"lo gak tau apapun soal gue sama Ara"

"justru karna saya gak tau, jadi saya gak mau ikut campur. Saya cuma menjalankan tugas saya sebagai calon suami Ara dan saya lebih berhak daripada anda" Dewa makin dibuat berang. Tangannya mengepal siap melayangkan tinju.

"Dewa udah, nanti kita bisa bicara lagi, ayo kita pulang" Ara menyeret Andra pergi meninggalkan Dewa dengan lukanya yang makin menganga.

"btw makasih loh udah suruh calon suami gue kesini, kapan-kapan gue traktir" kata Ara saat lewat di depan Calista yang makin kesal geram dan juga bingung

****

Andra menepikan mobilnya depan pagar kost ara dimana gadis itu sudah melepas seatbelt nya.

Siap untuk turun

"kamu kayaknya harus pindah kost" karna Andra tidak mau Dewa muncul secara diam-diam lagi seperti hari ini

"kenapa"? Ara sudah nyaman disini, sudah nyaman dengan ibu kost dan teman-teman kostnya walaupun tidak terlalu akrab

"yang ada jam malamnya biar kamu gak seenaknya keluar" Ara mencebik, tidak suka dengan saran atau lebih tepatnya perintah Andra

"aku tadi__

"kenapa keluar gak ijin saya"? Ara tidak biasa tentang ini. Aneh rasanya kalau hanya untuk sekedar keluar sebentar harus izin dulu

Ya walau Ara tau sebenarnya itu hal wajar.

"gak kepikiran" Andra tidak puas dengan jawaban itu tapi tidak mungkin juga ia salahkan Ara

"jangan salah paham deh, aku masih ada urusan sama Dewa. Gara-gara aku dia keluar dari rumah" Andra mengernyit lalu memiringkan tubuhnya menghadap penuh pada Ara

"kamu masih suka sama dia"?

Ara mendengus, Lalu melirik Andra curiga kemudian tiba-tiba tertawa

"kamu kenapa"? heran Andra

"kamu cemburu ya"? 

"iya" Ara terdiam akan ucapan Andra yang terlewat jujur

"aku turun ya, bye"! 

Ara kabur, ia tidak siap dengan adegan begini. Mungkin efek karna terlalu lama sendiri.

STRUMFREI✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang