Cerita 53

28.3K 1.5K 2
                                        

1 bulan kemudian...

Tidak se-menakutkan yang Ara kira, kehidupan pernikahan yang dulu Ara khawatirkan terlebih itu bersama Kalliandra nyatanya tidak seperti yang ia ekspektasi kan selama ini.

Andra pria yang baik, itu benar dan itu fakta.

Semua yang terjadi dalam rumah tangganya selama satu bulan patut Ara syukuri karna Andra yang cenderung menuruti semua kemauannya, memperlakukan Ara sebaik mungkin dan sabar sebisa mungkin menghadapi Ara yang labil dan cepat sekali mengalami perubahan emosi.

Sebagai layaknya anak pertama, Andra selalu mau di dengar selalu mau perintahnya tidak di bantah dan Ara mendapati itu bahkan sebelum menikah dengan Andra. Entah karna usianya yang lebih tua dari Ara, maka Andra selalu mau jadi yang paling atas. Namun yang Ara dapati, Andra ternyata berusaha mengurangi itu.

Sehari setelah mereka pindah, Andra mengajak Ara mengobrol serius

Saya mau egois sedikit tentang kamu, saya mau apapun yang terjadi sama kamu apapun yang kamu rasakan apapun yang kamu mau saya harus jadi orang pertama yang tau.

Andra pernah menyinggung soal itu, tapi maafkan Ara karna waktu itu ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu yang sebaiknya diabaikan saja. Namun kali ini agak berbeda, tatapan lekat Andra serta nada serius atau cara bicara Andra yang pelan seakan mengingatkan Ara untuk tidak menganggap Andra sedang bermain kali ini

Seperti selayaknya kepala rumah tangga yang kebetulan lebih tua dari Ara, Andra mau Ara menuruti katanya selama dalam hal yang baik. Andra seperti sudah tau Ara yang keras kepala dan susah diatur

Ara juga sempat meminta Andra untuk tidak mempublikasikan pernikahan mereka dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka selama di kampus. Tapi dasar Andra yang tidak peduli pendapat orang lain, pria itu menolak keras.

Kenapa kalau orang tau? Kita kan nikah secara baik bukan karena kamu hamil duluan

Iya benar juga, tidak ada yang salah memang. Tapi ketakutan itu tetap saja ada.

"Makan siang ke ruangan saya". Hari ini adalah hari pertama Ara kuliah setelah cuti dimana alasan di balik itu hanya di ketahui oleh beberapa orang terpercaya saja.

Andra lalu mematikan mesin mobil dan melepas seatbeltnya. Kalau Ara tidak salah kira, sisa waktu mengajar Andra tersisa seminggu lagi. Setelah itu pria di sampingnya ini akan resmi menjadi orang kantoran.

"Males ah, makan sama kamu mulu"  Andra melirik heran, detik itu pula Ara tertawa

"Aku makan sama Nanad Arka deh hari ini. Kangen aku tau sama mereka" Ara sudah mempersiapkan diri untuk reaksi heboh Nadia beberapa menit lagi atau Arka yang sok kalem padahal penasaran.

"Yaudah. Turun" Ara melirik parkiran yang sudah sepi sebelum turun menyalimi tangan Andra cepat agar tidak ada yang lihat

"Duh..kenapa"? Geram Ara pada Andra yang menahan lengannya

"Gak usah lebay gitu, kayak nikah sama seleb aja"  Tegur Andra kemudian mencium kening istrinya

"kamu kan memang selebnya kampus, udah bye."

***

"Ara"! Pekikan nyaring mengalahkan toa masjid dari Nadia membuat Ara refleks menutup telinga, Arka yang kebetulan duduk di belakang Nadia dengan tega memukul kepala gadis itu dengan buku ditangannya

"sakit Arka"!

"Jangan samain kampus sama hutan dong, teriak-teriak kek tarzan aja lo"!

Nadia cuma menjulurkan lidah, lalu menarik Ara untuk cepat-cepat duduk di sampingnya.

"Gimana-gimana"? Alis Nadia naik turun jangan lupakan senyum menyebalkan seperti minta di hajar

"Apa"? 

"Gak usah pura-pura gak tau" Hampir sebulan di tinggal ternyata tidak cukup membuat Nadia waras

"Lo kalo ngomong bisa pelan aja gak sih? budeg gue" Nadia berdehem, masih dengan ekspresi sama.

"Gimana rasanya jadi istri pak Andra"? Ya tidak gimana-gimana, memang mau rasa apa? Taro? choco milk?

"Biasa aja"  Ingin rasanya Ara mengatakan yang sebenarnya, Andra di rumah dan di kampus itu beda. Di rumah dia lebih menyebalkan, lebih sok ganteng, dan suka sekali menyuruh-nyuruh Ara.

"Halah! kemaren juga lo bilang gak suka sama pak Andra tapi apa? lo nikah tuh sama doi" Kalau Ara tau kejadian akan seperti ini juga pasti Ara akan menghindar, tapi memang siapa yang bisa mengelak dari takdir.?

"Ya maaf Nad, minta ampun gue soal itu" Nadia mendorong pelan bahu Ara yang masih menatap Nadia tidak mengerti

"Jadi gimana"?

"Apanya Nad"?

"Ah gak usah pura-pura gak tau"

"apaan sih"! Nadia kesal sendiri, melirik Ara penuh permusuhan sebentar, lalu kembali tersenyum jahil.

Sinting nih orang!

"capek gak"? Ara mengangguk, iya lah capek. Harus mulai menata ulang apartemen Andra, menyusun barang-barang pribadinya, belum lagi Andra yang tidak mau makan kecuali Ara masak. Menguras tenaga lebih karna Andra suka sekali mengajaknya berdebat.

"Cie.. Arka, Ara capek nih."! 

Oke Ara makin tidak paham, mengabaikan Nadia dengan membaca komik di ponselnya lebih baik.

****

Andra tidak kelihatan sejak tadi pagi, terakhir pria itu mengabarinya bahwa dia sedang bersama pak Handoko dan menyuruh Ara makan siang, ya jelas kalau urusan makan Ara tidak usah disuruh

"Nadia mana"? Arka dengan tas di bahu kanannya duduk bergabung di meja Ara

"Lagi mesen" Arka mengangguk, mengeluarkan ponsel dari saku celana mengirim pesan pada Nadia yang hanya berjarak sepuluh langkah sebenarnya--minta di pesankan bakso dan es teh tawar.

Ara yang melihat itu menggeleng

"nih punya tuan dan nyonya" Sindir Nadia yang telah repot membawakan pesanan Ara dan Arka

"makasih Nanad"

"lo gak bilang makasih Ka"? Arka berdehem mengiyakan lalu mulai makan. Dasar pria kulkas! Ara jadi bertanya-tanya seperti apa kira-kira istri Arka di masa depan?

"Lo ngeh gak, bu Naomi gak pernah kelihatan sejak lo izin" Ara masih fokus makan, Naomi bukan urusan Ara. Yang jelas Ara sempat kesal waktu mendapati Naomi sedang dalam ruangan Andra dengan tangan mengulurkan sendok berisi nasi dan lauk yang entah apa.

"Kenapa emang"? Tanya Arka, teman mengobrol asik memang adalah Arka. Pria baik itu tidak akan membuat Ara atau Nadia tidak nyaman bercerita karna tidak dapat respon. Apa pun yang Arka kerjakan pasti ia akan tetap menanggapi kalau Ara atau Nadia mengajaknya bicara.

"Aneh aja, soalnya dia pernah digosipin patah hati karna pak Andra nikah" Ara mengernyit, jadi wanita itu juga fans Andra garis keras?

"siapa tau dia punya urusan yang kebetulan timing-nya sama" Ara mencoba berfikir positif, walau dari awal Ara juga sudah tau resiko menikah dengan Andra ya begini. Harus ikhlas liat Andra disukai sana sini.

"Tapi keliatan banget kok Ra, dia emang sering caper" Nadia amat tertarik dengan bahasan seputar ini

"Udah, gak usah ngomongin orang"  tegur Arka lalu berdiri, meletakkan uang diatas meja.

"Bayarin punya gue juga kan"? Nadia bersorak saat Arka mengangguk

"Kok gue ngak"? 

"Lo kan udah nikah, lebih kaya suami lo daripada gue" Ara cemberut, mengaduk makanannya brutal membiarkan tawa Nadia mengudara.

STRUMFREI✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang