Bara Rindu - 55

13.7K 1.1K 104
                                    

Kini Zidan dan Rindu berdiri dalam diam menatap sebuah nisan bertuliskan sebuah nama seseorang yang Zidan cintai, Mentari Ayu Azhari.

Zidan berjalan perlahan dan berjongkok tepat disamping batu nisan. Disentuh dengan lembut nisan itu dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menyabuti tanaman liar diatas makam. Rindu yang melihat itupun ikut berjongkok membantu Zidan membuat Zidan menatap Rindu sedikit sendu.

"Kamu tau ini makam siapa?" Tanya Zidan.

"Tidak, aku tidak tau tapi yang pasti ini makam seseorang yang mas Zidan sayangi dan cintai. Benar?" Jawab Rindu yang dibalas anggukan kecil oleh Zidan.

"Namanya Mentari Ayu Azhari, dia satu-satunya perempuan yang pernah aku cintai. Menurutku dia berbeda dari yang lain, dia itu.............................."

Zidan menceritakan semua tentang Tari dan dirinya dengan bahasa yang lembut dan sopan, membuat Rindu menjadi pendengar yang baik tanpa perlu merasa sakit hati dengan ucapannya yang kasar.

Rindu dapat melihat jelas pancaran cinta dan kehilangan bersamaan dimata Zidan, namun sedikit menampilkan raut benci saat mulai menghadirkan Bara dan yang lainnya kedalam cerita. Terkejut ada, saat Rindu mendengar apa yang Zidan ceritakan jika Tari bunuh diri setelah mendengar kabar Bara bertunangan dengan Clara.

Dalam diam Rindu mencerna setiap kata yang Zidan ucapkan agar tidak ada kesalahpahaman dan ia ingin mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ini. Dan benar, usai Zidan menceritakan semuanya Rindu tau jika ini semua hanya salah paham.

Tidak sepenuhnya Bara salah disini karna Bara sudah dengan tegas untuk menolak Tari, namun kita juga tidak bisa menyalahkan Tari yang bunuh diri seminggu setelah Bara bertunangan. Jika dikuak kembali akan sangat rumit, Rindu terdiam sambil berpikir memandang nisan. Ia ingin semua masalah ini selesai.

Di elusnya pundak Zidan dengan lembut, ia mencoba menenangkan perasaan Zidan yang telihat mulai terbawa suasanan cerita masa lalu. Zidan pun yang merasa nyaman dengan refleks menjatuhkan kepalanya ke pundak Rindu, hingga terasa menetesnya air mata seorang pria yang selalu terlihat tangguh itu.

"Mas Zidan, aku tau betul gimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai apalagi jika orang itu udah beda alam. Tapi gimanapun kita harus belajar ikhlas." Ujar Rindu dengan lembut.

"Susah. Aku sudah coba berkali-kali untuk melupakan namun nihil hasilnya." Jawab Zidan masih dengan posisi yang sama.

"Ikhlas dan melupakan itu berbeda loh mas." Ujar Rindu membuat Zidan kembali menegakkan badannya dan menatap Rindu.

"Maksudnya?"

"Ikhlas itu berarti kita sudah sepenuhnya merelakan sesuatu yang kita cintai untuk pergi atau hilang dari hidup kita tanpa memaksa untuk melupakkannya bahkan menuntut nya untuk kembali hadir. Kalo melupakan itu ya kita cuma lupa sama sesuatu itu tapi bukan berarti kita merelakan nya pergi." Jelas Rindu membuat Zidan terdiam.

Dicernanya ucapan Rindu tentang ikhlas dan melupakan. Sambil berpikir Zidan mengelus lembut tulisan nama diatas batu nisan, dan ia sadar jika selama ini ia memaksakan untuk melupakkan bukan mencoba mengikhlaskan.

"Mas Zidan tau, kenapa kita harus mengikhlaskan setiap orang yang kita cintai pergi?" Tanya Rindu mendapat gelengan kepala kecil dari Zidan.

"Agar kita tidak memberatkan orang itu untuk pergi, kita harus ikhlas agar orang itu tenang dan tidak merasa berat akan beban karna kita tidak ikhlas. Jika mas Zidan sampai saat ini belum mengikhlaskan almarhumah pergi, kasian dia mas di alam sana dia tidak tenang dan merasa berat karna mas Zidan terus menahannya disini. Di hati mas Zidan." Lanjut Rindu membuat Zidan terkaku.

"A-apa selama ini aku memberatkan Tari untuk pergi dengan tenang??" Tanya Zidan masih dengan posisi yang sama.

"Bisa dibilang begitu mas." Jawab Rindu santai.

Zidan terduduk lemas diatas tanah, dipeluknya dengan erat batu nisan sambil ia cium berkali-kali diiringi air mata yang mengalir begitu saja. Rindu bingung harus melakukan apa karna tak percaya jika efek ucapannya yang sederhana bisa sampai seperti ini pada Zidan.

"Maafkan aku Tari, aku sungguh minta maaf jika selama ini aku memberatkan kamu untuk pergi dengan tenang, aku sungguh menyesal Tari aku bodoh tidak mengerti akan hal itu. Aku sungguh minta maaf Tari, maafkan aku." Ujar Zidan berkali-kali meminta maaf.

"Mas--"

"Aku akan belajar ikhlas merelakan Tari pergi, agar ia tenang di alam sana tanpa harus terberat kan oleh aku." Zidan memotong ucapan Rindu.

Rindu hanya terdiam, sebenarnya ia tadi ingin berucap jika kakinya kesemutan tapi ia urungkan niatnya saat Zidan memotongnya bicara. Rindu terpaksa harus mengikuti Zidan terdiam ditengah pemakaman disiang hari begini dengan urat-urat kaki yang mulai semakin menegang.

*

1 jam berlalu, akhirnya Zidan berdiri dari posisinya tadi membuat Rindu hanya mengikuti Zidan dengan mengangkat kepalanya ke atas menatap Zidan tanpa ikut berdiri membuat Zidan mengerutkan dahinya heran.

Zidan yang tak perduli pun melangkahkan kakinya melewati Rindu dengan wajah tanpa dosa membuat Rindu sedikit geram. Satu langkah, dua langkah bahkan hingga Zidan melewati lima buah makam masih tak menengok kebelakang mencari keberadaan Rindu.

Dengan rasa kesal yang sangat sangat kesal, Rindu melepaskan sepatunya dan mengarahkannya tepat ke badan Zidan sebelum ia lempar sekuat tenaga. Yang sialnya malah mendarat tepat dikepala belakang Zidan membuat sang empu hampir tersungkur jika tidak menjaga keseimbangan.

"Rindu!" Sentak Zidan kencang pada Rindu.

"Mas Zidan!" Sentak Rindu balik pada Zidan masih dengan posisi berjongkok nya.

"Kam---"

"KAKI AKU KERAM SIALAN! GARA-GARA KAMU MENANGIS BEGITU LAMANYA SAMPAI AKU GA BISA BERGERAK KARNA URAT-URAT KAKIKU MENEGANG DAN KAMU DENGAN SIALANNYA MENINGGALKAN KU BEGITU SAJA? BAJINGAN DASAR BAJINGAN TIDAK PUNYA HATI MUSNAH SANAH BAJINGAN SIALAN UWWAAAAAAHHHH!!!!" Teriak Rindu sudah tidak tahan melihat sifat Zidan yang sangat menyebalkan.

Jika selama ini ia sudah terbiasa sabar menghadapi sifat atau kalakuannya yang diluar nalar, kali ini tidak bisa Rindu ampuni. Kakinya keram menunggu Zidan hampir 2 jam dengan posisi yang sama tanpa mendapat belas kasih sedikitpun dari orang yang ditunggunya. Jika dirumah Rindu tak masalah, ini ditengah pemakam baru yang belum banyak terisi sehingga masih jarang didatangi atau dilewati oleh orang-orang.

Zidan yang mendengar ucapan kasar Rindu langsung berjalan kembali menuju makam Tari dan berhenti didepan Rindu. Dilihatnya wajah manis Rindu berubah seperti seekor singa betina yang sedang mengamuk. Dengan pelan-pelan Zidan berjongkok dan menggendong Rindu ala bridal style dengan hati-hati sambil menelan ludah berkali-kali takut jika ia akan habis oleh wanita yang sedang dalam gendongannya itu jika melakukan sedikit kesalahan.

Dibawanya Rindu kedalam mobil dan didudukkan secara perlahan sebelum ia menutup pintu dan berjalan memutar menuju pintu satunya lagi. Dalam diam Zidan berpikir , tak menyangka jika selama ini wanita yang ia ambil dari Bara selalu perhatian bahkan memiliki hati yang lembut sangat ke ibuan ternyata bisa berteriak mengumpatinya dengan kasar ditengah pemakaman membuat ia begitu ciut.

.
.
.
.
.
.

Kali ini up nya cukup cepat bukan??? Hihihi jangan lupa vote dan komennya ya ❤️
Dan kalo kalian punya pendapat berbeda dari kata-kata Rindu di Chapter ini mohon maaf ya karna setiap orang punya pendapat dan pemahamannya masing-masing
Terima kasih

Bara RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang