"Lo yakin mau makan sebanyak itu, Ya?" Devi menatap piring Via dengan ngeri.
Mereka bertiga—Via, Devi, dan Agnes—sedang duduk di kantin. Di depan Devi dan Agnes hanya ada semangkuk bakso. Di depan Via? Sepiring nasi campur penuh: mie, tempe orek, ayam goreng, plus beberapa macam sayur yang hampir tumpah.
"Gue bener-bener nggak ngerti sama ni orang. Porsi makan sama proporsi tubuhnya berbanding terbalik," komentar Agnes sambil melirik Via dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Via hanya nyengir, pipinya sedikit menggembung karena penuh makanan. "Gue belum sarapan. Laper banget," gumamnya setelah berhasil menelan satu sendok penuh.
Sudah seminggu sejak ayahnya menyusul ibunya yang lebih dulu meninggal. Sejak itu, Via memutuskan tinggal sendiri, meski pamannya berkali-kali menawarkan untuk menampungnya.
Terlalu canggung dan tidak enak menjadi penyebab utama Via untuk memilih tetap tinggal sendiri.
"Paling nggak lo makan roti dulu lah, biar bisa fokus pelajaran pagi," celetuk Agnes.
"Sumpah, nggak sempet. Kalian tau sendiri kan, gue nggak bakal bisa bangun kalo nggak dibangunin brutal," jawab Via, masih dengan mulut setengah penuh.
Devi mengerutkan kening. "Abisin dulu tuh makanan di mulut baru ngomong. Citra lo sebagai calon 'tuan putri' sekolah hancur, tau nggak, kalo ngomong sambil nyemprot makanan gitu."
Via adalah anak pemilik Mandala Group, perusahaan besar dengan berbagai anak perusahaan di bidang obat-obatan, alat kedokteran, sampai produk kecantikan. Dengan tubuh tinggi semampai, kulit putih, dan rambut hitam panjang, ia selalu punya aura "anak orang kaya" yang susah disembunyikan.
"Berikan semua saham lo ke gue, biar gue yang jadi tuan putri di sekolah," canda Agnes.
"Bukannya lo mau jadi wakil direktur gue setelah jadi dokter nanti?" Via membalas santai.
"Terus gue jadi apa?" Devi ikut protes.
Via berpura-pura berpikir serius. "Em... kepala keamanan? Mengingat lo pemegang sabuk hitam Taekwondo."
Devi manyun. "Gue bisa patahin meja kalo lagi kesal, lo tau."
Mereka bertiga tertawa.
"Udahlah... gue bener-bener belum kepikiran ke arah sana," ujar Via, suaranya menurun sedikit. "Untuk sekarang, paman yang ngurus perusahaan."
"Tapi bagaimanapun, dengan saham yang ditinggalin ayah lo, lambat laun lo pasti jadi CEO Mandala Group," kata Agnes, kali ini dengan wajah serius.
Via mendesah pelan. "Sudah cukup, biarin gue makan dengan tenang sekali ini," pintanya, mencoba kembali fokus ke piring.
Sampai akhirnya ia tersedak sendiri, kemudian mengambil minum dan memukul-mukul dadanya.
******
Pelajaran logaritma dimulai tepat setelah bel berbunyi. Seorang guru berdiri di depan kelas, menjelaskan dengan suara datar yang terdengar seperti orang lagi melakukan hipnotis.
"Logaritma adalah operasi matematika yang merupakan kebalikan dari eksponen atau pemangkatan," jelasnya sambil menulis rumus di papan tulis.
Via mendengarkan dengan fokus. Di saat murid-murid lain mulai menunduk, pura-pura sibuk mencatat agar tidak ditunjuk ke depan, Via justru membuka buku tulisnya lebar-lebar.
Sejak ayahnya meninggal, pikirannya memang sering melayang. Tapi di kelas, ia berusaha sekuat mungkin tetap normal. Sekolah adalah satu-satunya tempat di mana dunia terasa tidak berubah.
Via dikenal pintar. Hampir di setiap pelajaran, ia menjadi orang pertama yang mengangkat tangan untuk maju ke depan apabila ada soal yang perlu dikerjakan. Bagi sebagian murid, Via adalah semacam malaikat pelindung, selama Via mau maju, mereka bisa bernapas lega lebih lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
