Bab 46

347 64 10
                                        

SBSS News

"Kamis, 24 Juni 2021. Setelah meluapnya emosi publik terkait pemberitaan tentang seorang CEO muda yang diduga menyalahgunakan wewenang demi keuntungan pribadi, termasuk pemecatan sejumlah karyawan tanpa pesangon, sebuah video pelemparan telur kepada CEO tersebut menjadi viral di berbagai platform media daring. Menanggapi hal tersebut, Via Wulan Cahya, CEO PT Nature Beauty, akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui sebuah video." 

Layar televisi berganti.

Wajah Via muncul dengan pencahayaan sederhana. Rambutnya ditata rapi, tanpa riasan berlebihan. Matanya terlihat lelah—namun tegak.

"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Via Wulan Cahya," ucapnya pelan namun jelas.
"Saat ini saya menjabat sebagai CEO PT Nature Beauty."

Ia menunduk sejenak. Sebuah gestur kecil, tapi penuh tekanan.

"Dengan ini, saya memohon maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang terjadi akibat video yang melibatkan saya dan telah tersebar luas ke publik."

Via mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya lurus ke kamera.

"Akan tetapi, melalui video ini, saya ingin menolak dengan tegas tuduhan yang diarahkan kepada saya."

Napasnya teratur, meski dadanya terasa sesak.

"Kejadian pelemparan telur tersebut memang benar terjadi. Namun, kebijakan yang menjadi dasar kemarahan publik bukanlah kebijakan yang saya buat."

Ia berhenti sejenak, seolah memastikan setiap kata didengar.

"Kebijakan tersebut dibuat sebelum saya menjabat sebagai CEO, dan merupakan keputusan dari CEO sebelumnya. 

Via menatap kamera lebih dalam.

"Raka Setiawan, selaku pemegang Mandala Group. Sekarang kami sedang minta bantuan dengan pihak kepolisian terkait kontrak maupun—"

Ruangan itu mendadak sunyi.'

Detik berikutnya—

Remote televisi melayang menghantam layar dengan keras. Kaca pecah. Layar mati seketika.

Raka berdiri dengan napas terengah. Dadanya naik turun tak beraturan. Tangannya bergetar saat kembali meraih botol alkohol di meja.

"Keponakan kurang ajar..." gumamnya lirih namun penuh amarah.

Ia segera meraih ponsel. Jemarinya bergerak cepat, mencari nama pengacaranya. Satu-satunya cara bertahan adalah menyerang balik. Menuntut Via dan Nature Beauty atas fitnah dan pencemaran nama baik.

Dengan jaringan yang ia miliki, ia bisa membuat siapa pun runtuh.

Namun sebelum panggilan tersambung—

Pandangannya teralihkan pada proyektor yang terpasang di langit-langit dan menyala sendiri. 

"Apa-apaan ini..."

Bayangan video terpantul di dinding.

******

Riska muncul di layar. Lebih muda. Lebih hidup. Ia berdiri di ruang sekretariat  sambil mengutak-atik kameranya.

"Ka, lagi ngapain?" suara Alan terdengar ceria dari balik kamera.

"Lo nggak liat? Gue lagi bersihin kamera buat camp besok," sahut Riska santai.

"Berarti lo nggak sibuk-sibuk amat dong," kata Alan.
"Sekarang pilih. Menurut lo, dari kita bertiga, siapa yang cocok jadi suami lo di masa depan?"

Evan terlihat terkejut. Tak menyangka dia dipanggil Alan karena alasan ini.
Raka—yang juga ikut dipanggil Alan—langsung menunduk. Telinganya memerah.

Evan terlihat terkejut.
Raka—yang berdiri tak jauh—langsung menunduk. Telinganya memerah.

"Lo gila?" Riska mendengus. "Mending bantuin gue daripada nanya aneh-aneh."

"Lo pilih Evan yang dingin dan berwibawa, Raka yang pemalu tapi baik hati, atau gue yang tampan dan lucu ini?" Alan menunjuk pipinya sambil tersenyum lebar.

"Alan...!" Riska mulai kesal.

Namun Alan tak berhenti.
"Lo kan tinggal jawab doang, Ris."

Raka menahan napas. Evan berpura-pura tak peduli, tapi jelas mendengar.

Riska akhirnya menatap mereka bertiga. Ingin segera mengakhiri permainan konyol Alan.

"Ya udah," katanya pelan.
"Kalau itu maunya kalian, gue pilih salah satu."

Alan tersenyum puas. Raka menatap penuh harap. Evan melirik tanpa sadar.

"Alan," kata Riska datar.
"Gue pilih Alan."

Sunyi.

"Udah, gue laper. Gue ke kantin dulu."

Riska pergi begitu saja.

Alan menunjuk dirinya sendiri dengan kaget. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Riska ternyata memilihnya. Evan langsung berbalik dan pergi—langkahnya cepat, wajahnya dingin menyembunyikan kecewa. Raka masih berdiri di tempatnya, memegang pipinya yang merah, da dada yang terasa sesak.

******

Air mata Raka jatuh satu per satu.

Kenangan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada klarifikasi Via.

"Mereka... harusnya masih ada," gumamnya serak.
"Tapi gue milih jalan ini..."

Botol wine kembali terangkat. Tangannya gemetar.

Seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

"Lo bener-bener hebat sekarang, Rak."

Raka menoleh.

Seorang pria berkacamata berdiri di sana. Rambutnya klimis. Setelannya rapi. Posturnya... terlalu familiar.

Pria itu menuangkan wine ke gelas Raka dengan santai.

"Mandala Group gede banget sekarang."

Raka menatapnya lama.

"...Evan?"

Noah—yang menyamar—tersenyum tipis.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang