Tentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
"Lihat kesamping lalu bergaya kasual," ucap photographer itu.
Bagas berdiri di depan kamera, tubuhnya tegap. Photoshoot sudah jadi rutinitas baginya. Meski masih kelas dua SMA, dunia modelling bukan hal asing, dia tahu kapan harus dia dan kapan harus bergerak
"Baik, pertahankan ekpresimu... Nice."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekarang, bisa senyum seceria mungkin?"
Bagas menangkat sudut bibirnya, senyum yang dibuat terlihat seperti setengah tertawa,
"Baik, tahan, pertahankan ekspresi itu," ujar fotografer sembari bergeser mencari angle yang tepat. "Nice."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekarang saatnya menonjolkan rahang indahmu. Duduk lalu sedikit menunduk."
Bagas mengikuti instruksi itu tanpa banyak berpikir.
"Ya, benar seperti itu." Fotografer mulai mengambil beberapa foto berturut-turut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terakhir. Senyum, tapi buat yang lovable."
Bagas memasukkan tangannya ke dalam saku celana, lalu tersenyum semanis yang bisa ia tampilkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Perfect. Terima kasih atas kerja samanya. Kamu hebat," puji sang fotografer.
Bagas meninggalkan lokasi pemotretan dan duduk di kursi istirahat. Ia mengelap keringat di kening dan meneguk air mineral. Saat itu juga, pikirannya melayang ke satu nama.
Via.
Sudah seminggu mereka tak bertemu. Bagas harus ke luar kota untuk pekerjaan dan hanya sempat pulang saat pemakaman ayah Via—itu pun sebentar, sebelum kembali terbang demi jadwal pemotretan.
"Hari ini selesai, kan?" tanya Bagas pada manajernya.
"Iya, ini pemotreran terakhir."
"Berarti aku bisa langsung cabut?" tanya Bagas.
Manajernya tersenyum miring, "Ada yang nggak sabar ketemu pacarnya nih."
Bagas langsung menunduk, menutupi pipinya yang langsung memerah. "Kami cuma teman."
"Teman, tapi kamu berharap lebihkan?" balas yang manajer santai. "Hati-hati. Sekarang kalo lambat sedikit, bisa ditikung orang. Mending coba langsung kerumahnya terus bawain sesuatu."
"Apa ya.... bunga?"
Manajernya tertawa kecil "Boneka aja, biar dia tiap liat itu, dia bakal ingat kamu."
********
Noah terbaring di kasurnya, tubuhnya terasa berat karena harus berlari banyak kemarin. Jam menunjukkan pukul delapan malam dan dia belum memasak apapun, untuk makan malam mereka. Noah akhirnya membuka ponsel dan memesan makan lewat aplikasi.
Tak lama, sebuah pesan masuk "Mas, saya udah di depan."
Noah bangkit dan turun ke lantai satu, lalu membuka pintu.
Langkahnya terhenti.
Di depan rumah berdiri seorang laki-laki dengan boneka beruang besar di tangannya.
Noah mengernyit bingung.
Di saat yang sama, Bagas membeku.
Melihat laki-laki asing keluar dari rumah Via, di malam hari, membuat senyum di wajahnya sirna seketika. Emosi mendadak naik, dan boneka beruang besar itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai tanpa suara.